Archive for the ‘RENUNGAN’ Category

Chatting dengan Tuhan

Tuesday, June 24th, 2008

Forward dari seorang sahabat….

Connecting to Heaven & Earth Messenger

Sign in…

TUHAN :

Kamu memanggilKu ?

AKU :

Memanggilmu?

Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :

Ini TUHAN.

Aku mendengar doamu.

Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :

Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.

Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk .

TUHAN :

Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :

Nggak tau ya.

Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.

Hidup jadi seperti diburu-buru.

Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :

Benar sekali.

Aktivitas memberimu kesibukan.

Tapi produktivitas memberimu hasil.

Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

AKU :

Saya mengerti itu.

Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.

Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :

Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.

Di era Internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi misalnya.

AKU :

OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :

Berhentilah menganalisa hidup.

Jalani saja.

Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :

Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN :

Hari ini adalah Hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.

Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.

Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.

Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :

Tapi bagaimana mungkin Kita tidak khawatir jika Ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN :

Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.

Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :

Tapi begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :

Rasa sakit tidak bisa dihindari,

Tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :

Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :

Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.

Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.

Orang baik tidak dapat melewati rintangan, tanpa menderita.

Dengan pengalaman itu hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :

Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :

Ya.

Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.

Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :

Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?

Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

 

TUHAN :

Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.

Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :

Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :

Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.

Lihatlah ke dalam.

Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga.

Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU :

Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.

Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :

Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.

Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.

Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.

Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

AKU :

Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

 

TUHAN :

Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan.

Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa yang tidak kamu peroleh.

AKU :

Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :

Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.

Jika mereka bahagia, tidak Ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”

AKU :

Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :

Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.

Berhentilah mencari mengapa saya di sini.

Ciptakan tujuan itu.

Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU :

Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :

Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.

Peganglah saat ini dengan keyakinan.

Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :

Pertanyaan terakhir, Tuhan.

Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :

Tidak Ada DOA yang tidak dijawab.

Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

 

AKU :

Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :

Oke.

Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.

Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.

Percayalah padaKu.

Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out

Tentang Mati…

Tuesday, June 3rd, 2008

Mati… Banyak orang mentabukan membahas mati dan kematian, karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah mati. Sesuatu yang kita (baca: aku) tidak ketahui selalu menimbulkan rasa takut dan tidak percaya diri. Apalagi ditambah dengan ”cerita-cerita” mengenai mati yang bagaikan film horor tak berkesudahan.

Segala siksaan yang dirancang sedemikian canggih, bahkan katanya tak terpikirkan otak manusia akan ada di ”dunia sana” dalam paket lengkap. Biarpun diimbangi dengan bumbu manis bahwa di ”dunia sana” juga menanti sebuah tempat yang menjanjikan begitu banyak kenikmatan, pun hingga yang tak terpikirkan oleh otak manusia. Namun, semua manusia (baca: aku) pasti terfokus pada siksaan yang mengerikan, karena di lubuk hati yang paling dalam, mereka (baca: aku) mengakui pernah bahkan masih melakukan ”dosa” hingga saat ini dan mungkin di masa yang akan datang.

Dulu, aku pernah takut akan mati… Membuatku ”menyogok tuhan” agar menganulir kematianku, hingga menghujat dan memurkainya karena merasa diberi takdir yang tidak adil. Aku putus harapan, karena merasa belum merasakan banyak hal, merasa masih banyak ”tugas” yang belum terlaksanakan, tidak rela meninggalkan orang-orang yang aku cintai, dan yang pasti, masih kerasan tinggal di dunia yang penuh gemerlap.

Kemudian aku banyak merenung, berpikir, mencoba memaknai setiap detik mengenai hidup dan mati. Hingga sampai pada suatu titik kesimpulan. Mengapa aku harus takut mati? Toh mati hanyalah sebuah fase dari adanya hidup. Semua makhluk yang memiliki hidup niscaya akan mati, hanya soal waktu.

Bila waktuku memang sudah ditentukan hingga saat tertentu, artinya saat itu tugasku telah selesai… Aku pun tak perlu mengkhawatirkan orang-orang yang akan aku tinggalkan kelak, karena seiring waktu aku akan terlupakan. Mengenai apa yang terjadi nanti setelah kematian, biarlah itu menjadi rahasia alam.

Kini aku lebih suka bergaul dengan mati, membuatnya sebagai sahabat, teman sejalan, sehingga kuharap bila saatnya tiba aku sudah sangat akrab dengannya.

Berusaha mewujudkan impianku sebelum mati kelak, untuk melihat dunia… Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang “aku”. Menyelami tentang siapakah aku, apa artinya aku, mengapa dan untuk apa aku ada… Dan aku akan menuliskan semuanya untuk aku persembahkan bagi orang-orang yang merasa ”memilikiku”. Agar aku tetap ”ada”…

Dan aku ingin mati dalam kesendirianku, hingga bisa menikmati rasanya mati… dan menyambutnya dengan sebuah senyuman…

Akan Jadi Apakah Indonesiaku…?

Monday, May 26th, 2008

Mungkin terlalu dalam, terlalu besar yang aku pikirkan pagi ini dalam sebuah kepala yang begitu kecil, dalam otak yang begitu kerdil…

Tuhanku, hari ini aku sedih, pilu, pedihhhh sekali… Hanya karena melihat seraut wajah seorang ibu. Tak banyak orang yang memperhatikannya, bahkan mungkin hanya aku seorang yang sekilas saja melirik… Wajah tirusnya, tatapan nanarnya, kepasrahannya… mungkin juga rasa frustrasinya… menghadapi hidup yang semakin memberinya beban teramat berat.

Kulihat matanya begitu terkoyak memandang dunia… Kulihat dadanya sesak menghirup kehidupan… Kulihat matanya kering dan hampa… Tak ada airmata…

Ada apakah dengan dunia ini Tuhan…? Tak cukupkah keserakahan untuk dituntaskan saja…? Tidakkah ini saatnya tangan-Mu untuk terulur bagi tangan-tangan rapuh serupa tulang berbalut kulit hitam  keriput nan legam… Bergetar…

Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka Tuhan…?

Aku tertawa dalam hati… Ya, apa yang sudah engkau lakukan?! Kataku pada diriku sendiri. Berteriak mencibir, atas keegoisanku sendiri.  Untuk apa bila hanya bisa bersedih untuk mereka?! Untuk apa bila hanya bisa meratapi nasib mereka?! Untuk apa bila setiap hari kau hanya bersenang-senang memenuhi perut buncitmu?! Menjejali mata dan hatimu dengan kefoya-foyaan?! Binar-binar semu…

Sedihmu hanyalah sampai disitu… hanya sebatas kata-kata munafik! Kau tak lebih dari tikus-tikus koruptor itu yang bergembira ria di atas penderitaan mereka!

Tuhanku… Aku harus berubah…

Kehidupan Adalah Pohon Takdir

Friday, March 14th, 2008

Ya, kehidupan ibarat sebuah pohon takdir yang ditumbuhi beribu bahkan berjuta cabang dan ranting. Ada cabang yang kokoh berdaun rimbun berbunga dan berbuah melimpah. Ada cabang yg kokoh namun tak dihiasi terlalu rimbun daun maupun buah dan bunga yang indah, tapi masih tetap berdaun, berbuah dan berbunga. Ada pula cabang yang kering hingga hanya memiliki sedikit daun karena meranggas, tanpa memiliki sedikitpun buah dan bunga. Yang paling menyedihkan adalah cabang yang bahkan mati sebelum ditumbuhi daun…

Ketika cabang terbentuk, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi terhadap cabang tersebut. Semuanya berada diluar jangkauan, berada diluar kuasa kita.

Cabang dan ranting adalah pilihan-pilihan yang harus kita tempuh untuk menjalani kehidupan. Setiap keputusan memiliki konsekuensi dan resiko masing-masing. Jadi, kehidupan yang dimiliki saat ini adalah hasil dari keputusan atas pilihan-pilihan yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. Tidak berguna menyesali pilihan yg sudah kita ambil, all you have to do is just make the best decision in the future to make a betterment of the life we’ve been through. Hidup ada ditangan kita sendiri, baik atau buruk hasil yg kita dapat, itulah resiko atas pilihan yang telah kita buat.