Archive for the ‘Sepenggal Akhir Cerita’ Category

Sepenggal Akhir Cerita

Aku berjalan menuju pintu keluar airport. Kakiku serasa melayang, jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat deras menggenggam erat handle travelling bag-ku. Kacamata hitam bertengger di wajahku, menyembunyikan sepasang mata gelisah yang mencari sosok yang kukenal.

 

Akankah dia benar-benar datang? Hatiku membatin.

 

Biarpun aku sudah siap menghadapi hal terburuk bahwa aku hanya akan mengejar angin, menemui sebuah ruang hampa di negeri yang jauh ini, namun tak urung ada sedikit harap, ada sedikit asa, kau akan muncul dengan bijaksana. Sekali aku menghela nafas paling dalam, berharap dengan begitu bebanku akan sedikit berkurang.

 

Banyak sekali manusia, sosok mereka pun hampir semua sama. Aku hanya berdiri tertegun. Tak perduli orang melaluiku dengan tergesa, bahkan ada yang menyenggolkan tubuhnya dan melirikku kesal. Entah berapa lama aku mematung, hingga keadaan di sekelilingku mulai agak lengang.

 

Sesosok lelaki berkemeja panjang abu-abu dengan celana kain warna hitam menghampiriku dengan senyum lembut. Aku hanya menatapinya mendekat dengan hati semakin bergejolak. Rambutnya rapi dengan warna sedikit cokelat, kacamata bertengger di hidung tingginya membingkai mata tajam namun lembut, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman.

 

”Assalaamu’alaikum,” lelaki kurus tinggi itu tiba di depanku. Aku masih tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja mataku berlomba-lomba mengeluarkan bongkahan kristal bertubi-tubi.

 

”Oh Dear, come here…,” sekonyong-konyong lelaki itu mendekat dan meraih kepalaku, tubuhku, ke dalam pelukannya.

 

”Nice to meet you, wa’alaikum salaam…,” suaraku terdengar parau disela isak. Kurasakan dekapannya semakin erat, tangannya mengusapi kepalaku. Setelah beberapa saat, dia membimbingku ke luar airport menuju sebuah taksi. Dia berbicara sejenak dengan sopir taksinya dalam bahasa urdu, sebelum kemudian meluncur membelah jalan raya Karachi.

 

“Take off ur glasses dear… I have said that you got something beautiful in your eyes, don’t hide it.” Dia mengulurkan tangannya mencopot kacamata hitamku, menatap mataku dalam, seraya mengusap airmata yang masih saja menetes. Aku benci diriku yang seperti ini, terlalu melankolis!

 

“I didn’t think that you will really come, thank you…” Ujarku membuat matanya sedikit menyipit.

 

“Haaayy… I have said that I will come. So I come. How’s your trip?”

 

Aku tersenyum, dan menegaskan diriku untuk berhenti menangis. Menyudahi semua kecengengan yang selama ini kumanjakan.

 

”It was a busy trip,” suaraku sudah kembali normal dengan sedikit senyum penuh arti aku mengucapkannya. Keningnya berkerut, “Busy? What you were busy of?”

Aku mengerjapkan mataku menggodanya, ”Busy to tell my heart not to beat so fast.”

Dia tertawa keras. Aku menikmati tawanya, indah…

 

Hari ini kami menikmati makan malam di restaurant dekat hotel. Tak terlalu lama, dia ingin aku beristirahat setelah perjalanan panjang. Dia memastikan aku sampai ke kamar hotel dengan selamat, dan pamit langsung pulang. Aku memberinya senyum termanis sebelum dia berlalu. Aku menutup pintu dan langsung berbaring.

 

Perutku terasa sakit lagi, akhir-akhir ini sakitnya sering kali kambuh. Kuharap, selama di sini, sakitnya tak kan terlalu parah. Entah bagaimana, aku bisa tidur dengan tenang malam itu. Mungkin karena hatiku yang bahagia bertemu Sang Pujaan Hati.

 

***

 

Esoknya aku sudah bersiap-siap dari pagi karena kami akan bermain ke pantai hari ini. Katanya, dia sudah menyusun rencana mengisi tiga hari kunjunganku di negeri ini. Perutku masih sedikit sakit, tapi aku yakin sakitnya akan reda bila bertemu dengannya, karena dia adalah obat mujarab bagi sakitku separah apapun itu.

 

Jam sudah menunjukkan angka sepuluh, namun dia belum juga muncul. Dia memberikan sebuah nomor untuk dihubungi, tapi aku tak berani mengusiknya… Aku tak mau dia bermasalah dengan istrinya bila aku menelepon. Jam sebelas tiba-tiba pesawat telepon dikamar hotelku berdering, operator memberi tahuku ada telepon darinya.

 

”Dear, I’m so sorry… Little Sara’s a little bit sick. I can’t go there to see you. Well, probably, if there’s possible, I will come… I will call you then…”

 

Aku terdiam serasa seperti kapas yang indah mengembang tersiram air. Aku mencoba tersenyum, orang bilang lawan bicara akan merasa bila kita tersenyum saat berbicara di telepon seraya berkata,

 

”That’s okay Dear… I understand. Stay there with Little Sara. I can see some places around the hotel. Or maybe go to the beach by my self.”

 

“No! No! Don’t go too far without me Dear… Okay, you can take a tour near the hotel, but don’t go too far. I’m so sorry can’t take you to the beach today…” Suaranya penuh dengan penyesalan.

 

“Haaayyy you have said sorry twice, that’s too much. Okay, bye now, take care of the little angel. I wish she’ll be all right and get well soon. Allah Hafiz.”

 

“I know you will understand Dear, Allah Hafiz.”

 

Perutku seketika terasa mulas tak terkira begitu gagang telepon aku letakkan. Aku bergulingan ke sana ke mari menahan sakit. Tanganku dan seluruh tubuhku banjir keringat dingin dan menggigil. Aku menggigit bantal agar tak berteriak atau meraung terlalu keras menahan sakit. Aku butuh obatku, tapi tak kuasa bergerak mencarinya. Hingga akhirnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

 

***

 

Aku membuka mataku pelan-pelan, mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Kulirik jam di dinding, telah menunjukkan angka empat!!! Ya Tuhan, aku pingsan selama tiga jam!! Perutku masih sedikit nyeri, tapi sudah tak sehebat tadi.

 

Kuraih obat penahan rasa sakit di dalam tas dengan susah payah, dan kuminum dua butir. Sprei sudah tak karu-karuan bentuknya bekas aku bergumul tadi. Badanku lemas, aku harus makan. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan makanan ke kamar. Badanku terlalu lemas untuk keluar kamar. Baru saja telepon diletakkan, ia berdering. Operator mengatakan, lelaki itu menelpon untuk ketiga kalinya dimana yang dua kali sebelumnya tidak ada yang mengangkat.

 

”Hello…”

”Haaayyy where have you been? You didn’t pick up my call twice, but recepsionist said that you were not going anywhere.”

Aku memutar otak mencari alasan.

“I was sleeping Honey… Sorry I can’t hear the ring. I must be sleeping like death hehhehee…” aku memaksakan sebuah tawa.

“Alhamdulillah, I thought there was something happenned to you. Thank goodness if you were just fine. I just want to tell you that I can’t go to Karachi today…”

“That’s okay. I have told you to stay there. I’m fine, don’t worry about me. I’m a big girl, don’t I?”

“Are you okay?” Suaranya terdengar amat merasa bersalah.

“I’m sure I’m okay. Besides that, there’s a man infront of my room asked a date with me hehehhee…”

“Really??? And what you said??” Suaranya terdengar khawatir.

“Hahaha… I’m just kidding honey… Haaayyy… There’s my meal coming. Okay, call me tomorrow yaar… Allah Hafiz,” Suara bel pintu terdengar.

“Okay Dear, enjoy your meal. I will call you as soon as possible. Allah Hafiz.”

Aku meletakkan gagang telepon dan berjalan tertatih menuju pintu.

 

***

 

Esoknya, aku masih tergolek lemah ketika telepon berdering.

“I’m in the lobby, get ready. We will have a date today Dear…”

“Haaayyy so early… Okay, I will get ready. Just wait.”

 

Aku menelan dua butir lagi obat penahan rasa sakit dan menyeret tubuhku ke kamar mandi. Setengah jam kemudian aku sudah keluar dengan mengenakan rok payung kembang-kembang , kemeja putih dipadu kerudung bunga-bunga biru senada. Selop putih berhak dan clutch putih melengkapi penampilanku. Perfect. Wajahku sudah tak terlihat pucat karena dipulasi blush on dan lipstick.

 

Disudut lobby, kulihat seorang lelaki berjanggut mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam.

”Haaayyy we both look so match together, what a weird coincident” Aku menyapanya dengan sebuah gurauan.

Lelaki itu tersenyum, “No, you wear blue cause my heart told you,” katanya sambil memicingkan mata jenaka. Aku hanya tertawa kecil. “Shall we go now?”

“Yes Dear, as you wish.”

 

Lepas Ashar kami beranjak pulang dari pantai. Setelah puas mengobrol dan berjalan-jalan di pantai. Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam dengannya di pantai ini. Menatapi langit yang jernih penuh dengan bintang. Namun dia kelihatan harus segera pulang. Dan aku tak berani mengutarakan keinginanku. Tak apa… Begini pun aku sudah teramat senang. Lagipula, perutku pun sudah mulai terasa kambuh lagi sakitnya.

 

Berkali dia memergokiku meringis membuatnya bertanya kenapa. Aku hanya mengatakan silau oleh sinar matahari yang memang hari itu begitu cerah dengan langit biru dihiasi sedikit saja awan putih bersih. Dan aku pura-pura tak perduli ketika melihat kilat khawatir di matanya.

 

***

 

Aku pulang siang ini…

Ketika sedang membereskan bawaan, terdengar sebuah ketukkan di pintu kamar. Kulihat dia tersenyum di baliknya ketika kubuka.

 

”Can I come in?” Dia bertanya. ”If you wanted to…” Aku menatapnya sedikit heran, aku tak mengira dia akan ke kamarku. Biasanya dia hanya menemuiku di lobby, atau mengantarku sampai ke depan pintu. Aku menutup pintu. Lalu, sekonyong-konyong, dia duduk dilantai dihadapanku sambil menangkupkan kedua telapak tangannya membuatku terpekik kaget.

 

”Please go to a doctor and take your med honey… I know you are very sick! I know you are really want to be together with me… But I’m so very sorry I can’t do that… I have a wife with three children… I can’t hurt them… I love you too,but not in that kind of relationship… Please honey… Don’t make me feel so bad about this all…Don’t punished me with it…I’m so very sorry…” Aku terlongong mendengar dia memohon-mohon begitu rupa.

 

Aku menjatuhkan tubuhku dihadapannya.

“You don’t need to do this! I hate you doing this! Come on! Stand up!” Aku melepas tangannya yang tertangkup dan berusaha membuatnya berdiri. Tetapi lelaki itu malah merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Lelaki itu terisak! Oh Tuhan… Apa yang telah aku lakukan pada lelaki ini hingga membuatnya seperti ini…?

 

Aku tak kuasa menahan tangis. Air mataku mengalir deras dalam keheningan. ”I’m sorry to drag you in this horrible situation Clown…” Aku berusaha bicara dengan suara tercekat.

“Don’t be worry, I have gone to the doctor and took the med. You must know that there’s nothing to do with you about my illness. It’s my fault who makes you feel that you are responsible for this. Maybe that’s what people called mad love…” Aku melepas rangkulannya dan memperlihatkan kotak obatku.

“See? This is all my med,” aku memperlihatkannya dengan tampang dipaksa jenaka seolah itu adalah hal yang lucu.

“Oh Dear, you don’t know how glad I am to hear that… Like a big stone take away from my chest… Please tell me how exactly your condition?” Lelaki itu menatap mataku dalam, tajam namun penuh kelembutan dan cinta. Aku tersenyum, “Honestly… I don’t know exactly my condition either. Yes, I am sick. But I have my medicine. About how long I could stand with this horrible desease, that’s God’s secret I think. I’m ready for the worst thing could be happenned. I believe it’s my kismat, am I right?” mataku memicing seraya tersenyum.

“Just please take care of your self Dear… And take the med ontime…” Tak ada senyum di wajahnya, hanya rona khawatir, rasa bersalah dan tak berdaya yang terpancar…

 

***

 

Aku menatap lelaki itu sekali lagi, untuk terakhir kali. ”May I kiss your hand, Dear…?” kataku lirih.

”Sure,” dia mengulurkan tangan kanannya. Aku meraihnya dan meletakkannya di dahiku dengan penuh khidmat. Dia mengusap kepalaku lembut, terasa bergetar…

 

Tuhan, terima kasih memberiku kesempatan bertemu dengan lelaki ini… Kemudian… aku terbatuk hebat dan tiba-tiba memuntahkan darah segar…

 

Lelaki itu terhenyak, seraya memeluk tubuhku yang terkulai lemas. Bajunya basah oleh darah, mulutnya berteriak-teriak memohon pertolongan. Namun, aku menutup mulutnya dengan telunjukku seraya menggeleng.

”I think… My time has come… Thank you… for all you have gave me… It’s a bless for me to know you… I love you…” ujarku dengan susah payah dan nafas tinggal satu-satu.

Terakhir kulihat disela tangisnya lelaki itu menuntunku mengucap syahadat… Kemudian, semuanya gelap…

© 2008 Novia
Designed by NET-TEC Webhosting -- Made free by Trauringe | Wintergarten | Ratenkredit | ringtones