Archive for the ‘Sebuah Elegi untuk Kaumku...’ Category

Sebuah Elegi untuk Kaumku…

Tuesday, June 3rd, 2008

Manusia hidup selalu dihadapkan pada pilihan, bahkan tidak memilih pun adalah sebuah pilihan. Pilihan menuju kebahagiaan atau terkungkung dalam penjara kepedihan. It’s your own choice…

“Aku tak suka laki-laki, maaf!” kata-kata itu meluncur tanpa beban dari bibir Diana.

Matanya menyorot tajam tepat ke mata laki-laki di hadapannya. Tatapannya semakin tajam manakala dilihatnya Ferdian tak memperlihatkan reaksi yang berarti.

Ferdian tetap tenang, bahkan senyum mengembang sedikit dari bibirnya. Matanya balas menatap, lurus menusuk. Setidaknya itu yang dirasakan Diana, hingga dia merasa jengah dan pura-pura mengalihkan pandang pada pelayan yang kebetulan lewat.

Jika saja Diana memperhatikan, dia akan melihat senyuman lelaki itu semakin melebar. Ferdian mengaduk-aduk kopinya, kemudian meneguknya sedikit seolah menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan kembali oleh perempuan di depannya.

Diana mulai gelisah, sehingga ingin segera mengakhiri pertemuan itu. Ferdian meliriknya sekilas, agaknya dia mengerti apa yang dirasakan Diana hingga dia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan.

“Tak suka laki-laki ya…? Hmm… Kalau begitu, apakah kamu menyukai perempuan?” ucapnya dengan ujung mata sengaja dia naikkan, yang tertangkap oleh Diana sebagai sebuah pelecehan.

Mukanya semburat merah karena kesal, “Aku tak suka laki-laki! Dan aku juga bukan lesbian! Kalau itu maksudmu!” seraya berdiri hendak berlalu meninggalkan lelaki di depannya karena merasa dikurang ajari.

Ferdian cepat menangkap lengannya, “Maaf, bukan maksud aku menyinggung kamu. Maaf, ya…? Duduklah, kita belum selesai berbicara…” ujarnya membujuk.

Kalau saja Ferdian bukan kolega di tempatnya bekerja, ingin rasanya Diana tak menghiraukan permintaan lelaki menyebalkan di depannya. Dengan muka gusar, Diana kembali duduk.

“Terima kasih…,” Ferdian tersenyum tulus ketika Diana kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi.

“Diy… Aku hanya ingin kamu jujur. Bilang saja bila kamu tidak menyukai aku, jangan karena ingin menolakku kamu katakan bahwa kamu tidak suka laki-laki. Apalagi kamu bilang, kamu juga bukan penyuka sesama jenis.”

Mata Ferdian menelusuri kedalaman mata kelam di depannya, seolah ingin menyelam ke dasar hati perempuan ini untuk mengetahui apa yang tersembunyi didalamnya. Diana salah tingkah ditatap sedemikian rupa.

“Yah… Sesukamulah kalau kamu menganggapnya demikian. Anggap saja aku memang tidak menyukai kamu,” jawabnya sambil membuang pandang ke arah jendela café.

Entah mengapa, Ferdian merasa ada nada miris disana, sekilas dia merasa mata kelam itu semakin kelam tersaput kabut.

“Baiklah, aku tak akan memaksamu lagi. Maaf bila aku membuatmu merasa gusar dengan pernyataanku… Hanya saja, aku benar-benar serius menyukai kamu, dan ingin menjadikan kamu sebagai istriku. Aku tidak main-main dan tak pernah main-main mengambil keputusan sebesar ini.”

Diana segera mengangkat tangannya, “Cukup, sudah cukup Fer, tolong. Aku tak mau dengar lagi, aku tak akan berubah fikiran. Sudah malam, aku harus menyiapkan bahan untuk rapat besok pagi,” ujarnya seraya merapikan kemejanya seolah bersiap untuk pergi.

Ferdian menghela nafas panjang, menebak seberapa beratkah rahasia yang tersimpan erat di satu sudut hati perempuan di depannya ini. Sehingga, sebegitu sulitnya mendobrak dinding yang melingkupi hatinya untuk dimasuki.

“Baiklah, aku juga tak ingin kamu mendapat omelan karena tak punya bahan untuk rapat kamu besok. Aku antar kamu pulang,” putus Ferdian akhirnya.

“Jangan menolak, tolong… Apakah kamu akan menolakku dua kali hanya dalam waktu kurang dari satu jam?” Ferdian cepat menukas ketika dilihatnya Diana akan membuka mulutnya untuk menolak diantarkan seperti yang selalu dia lakukan.

Matanya menyorot penuh harap, membuat Diana tak tega untuk menolak. Senyuman Ferdian sedikit mengembang ketika Diana mengangkat bahunya tanda menyerah.

Tak ada sepatah kata yang terucap sepanjang perjalanan menuju rumah Diana. Masing-masing sibuk dengan fikirannya sendiri. Mata mereka lurus menatap jalan yang tak begitu ramai. Aneh, jalanan yang tak pernah tidak macet itu seolah ikut merenungi apa yang baru saja berlaku.

Senyap dan dingin sesenyap dan sedingin hati-hati dua insan makhluk Tuhan yang saling tergugu diam meluncur dengan sebuah mobil sedan buatan Jerman membelah malam. Di ujung pertemuan, hanya kata terima kasih dan selamat malam yang meluncur dari mulut Diana tanpa senyuman. Disambut senyum kecil dan jawaban selamat malam dari Ferdian.

Tak ada basa-basi dari Diana untuk sekedar bersopan-santun mengajak Ferdian mampir sekedar minum seteguk air. Setelah menutup pintu mobil, dia melenggang masuk rumah tanpa sedikit pun berniat menengok ke belakang. Diiringi tatap mata sarat kasih dan harap untuk bisa menyayangi dan melindungi milik Ferdian.

Diana menghempaskan badan di ranjangnya yang nyaman, kepalanya terasa teramat berat. Untung saja bahan rapat sudah rampung dikerjakannya tadi di kantor, alasan yang begitu jitu untuk lari dari percakapan yang topiknya sangat dia hindari selama ini.

Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ferdian, wajah lelaki itu berkelebatan di sana. Seorang lelaki yang muncul sebagai salah satu kolega perusahaannya, yang dengan berbagai alasan berkaitan pekerjaan selalu berhasil menculik Diana untuk menemaninya makan siang atau makan malam.

Meskipun memang mereka ada membahas pekerjaan, tapi rasanya hanya sebagai intermezzo saja. Diana sudah merasa ada yang lain, hanya saja demi sopan-santun dan kepentingan perusahaan dia tak pernah bisa menolak ajakannya. Benarkah hanya demi sopan santun, ataukah karena dia selalu merasa nyaman berada di dekatnya?

Pertanyaan itu menggema di telinganya, seolah menyerukan agar dia tak lagi membohongi perasaannya sendiri. Air mata tiba-tiba saja meleleh di pipinya yang segera diusapnya dengan gusar.

“Mengapa aku harus kembali merasakan rasa ini, Tuhan…? Aku fikir sudah mematikan hatiku atas rasa ini sejak dulu, namun ternyata… dia hanya mati suri, berhibernasi, istirahat sesaat. Aku mohon, lebih baik Engkau matikan hatiku dari pada aku tersiksa seperti ini… Mengapa dia harus datang dalam hidupku…? Aku tak sanggup menyakiti hatiku dan hatinya, Tuhan…” hati Diana meraung, meradang, bayangan masa lalunya tercengkeram kuat dalam ingatan serasa baru kemarin dialaminya.

Masa lalu yang membuatnya tak berani menyusun asa, untuk masa depan seperti perempuan lainnya… Matanya terpejam, merasakan perih sekira mata pisau menyayati hatinya seiris demi seiris. Terisak diam-diam, dalam keheningan malam.

Begitu sibuk dengan kecamuk dalam otaknya, sehingga tak disadarinya ada sepasang mata sendu yang memancarkan sinar tak kalah pedihnya milik Bunda tercinta mengiringi isak diam-diam putri yang sangat dia cintai sepenuh hati.

Di sudut mata tua itu tergenang selaksa permata yang tak lama lagi pun akan tumpah membuncah… Kalau saja Tuhan mengijinkan, ingin rasanya dia saja yang menggantikan putri tercintanya mengalami tragedi yang sangat memilukan itu, tragedi yang membuat putrinya tak berani menyusun asa demi masa depannya seperti perempuan lain.

***

Hati Ferdian meracau sepanjang perjalanannya menuju pulang. Kepalanya dipenuhi bayangan perempuan itu. Diana, perempuan yang sekilas terlihat bagai gunung es, tegar, kokoh, kuat, sulit sekali untuk didaki, untuk ditaklukkan. Namun dibalik itu semua, ada hal yang tak pernah bisa dia ungkapkan, sebuah luka masa lalu mendalam yang menjadikannya begitu rapuh dan terkungkung.

Membuat perempuan itu begitu misterius baginya sehingga dia merasa menaklukkannya adalah sebuah tantangan bagi kelaki-lakiannya, bagaikan seorang matador yang lulus menaklukkan banteng.

Itu pada awalnya. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri, bahwa sekarang hatinya benar-benar tertawan, benar-benar menyayangi dan bahkan ingin memiliki perempuan itu.

Pertama kali mengenalnya, dia menganggap perempuan itu teramat angkuh sehingga merasa tak ada lelaki yang sepadan untuk bersanding atau bahkan hanya berteman dengannya. Sikap tegasnya, sikap dinginnya, sikap straight to the point-nya, sikap judesnya, sikap teramat mandirinya, semua sikapnya seolah-olah dijadikan benteng pertahanan untuk menghalau lelaki manapun untuk bahkan hanya berteman dengannya.

Sampai rekan-rekan sekantornya menjulukinya Miss Mount Everest! Senyum mengembang sedikit di bibir Ferdian mengingat itu.

Namun setelah beberapa kali pertemuan, ada yang lain ditemukannya dari perempuan ini. Beberapa kali dia merasa menangkap kelebat kabut kelam di mata perempuan itu. Awalnya dia tak yakin, karena setiap kali kelebat itu tertangkap, pada detik selanjutnya dia hanya melihat mata dingin yang sarat keangkuhan.

Mata yang berbingkai sebuah wajah yang menarik, tetapi teramat kaku dan tak pernah dihiasi senyuman. Membuatnya pernah sekali membayangkan, mungkin bila seorang anak kecil melihatnya, akan menangis karena ketakutan.

Sekali lagi sebuah senyuman membias di wajah Ferdian. Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya sekuat tenaga seolah mengusir beban yang memberati otaknya. Berfikir, begitu sulitnyakah mencintai perempuan ini?

Begitu sulitnyakah untuk menjadi seseorang yang mengiringinya menukar kenangan kelam masa lalunya dengan sebuah masa depan yang indah?

***

Sepagian ini, waktu Diana dihabiskan dihadapan cermin meja rias di kamarnya. Berusaha menyembunyikan garis hitam di bawah matanya, dan sembab bekas menangis semalaman. Dia mengutuk dirinya sendiri karena melakukan hal itu semalam dan membuatnya kesusahan sepanjang pagi ini.

Dia tak ingin semua orang menatap heran ke arah matanya dan menjadi bahan pergunjingan di toilet perempuan jika nanti dia muncul di kantor dengan mata habis perang seperti ini. Dengan putus asa, akhirnya dia menyerah mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dari tata rias penipu wajah itu.

Yah, setidaknya wajahnya sudah terlihat lebih baik. Hari ini dia memutuskan untuk memakai kaca matanya, walaupun sudah lama dia tanggalkan berganti lensa kontak. Semuanya demi menyamarkan mata yang menyebalkannya sepagian ini.

Diana bergegas menyambar tasnya untuk segera ke kantor, berpamitan pada ibunya dan menolak tawarannya untuk sarapan. Bukannya tidak menghargai jerih payah ibunya yang telah rela pagi-pagi membuatkannya sarapan, tapi waktu sudah tak mengijinkan. Jika dia tak segera pergi, mungkin dia akan terlambat sampai kantor, diikuti dengan terlambat pula mengikuti rapat.

Bila ini terjadi, akan memberikan alasan kuat lain bagi rekan-rekan sekantornya untuk heran dan menambah bahan bergunjing mengenai dirinya yang terkenal teramat sangat disiplin. Jangankan terlambat, waktu masuk kerja pun jauh dari waktunya datang ke kantor. Hanya Pak Min, cleaning service kantor yang bisa datang lebih pagi darinya.

Ibunda Diana, mengiringi kepergian putri tercintanya sampai ke depan pagar rumah sederhana nan asri itu. Dia menatap punggung anak satu-satunya yang tertinggal di rumah ini, karena anaknya yang lain sudah pergi dengan pasangan masing-masing membina rumah tangganya sendiri.

Kalaupun dulu dia tak berhasil membujuk Diana untuk menemani kesendiriannya di masa tuanya, mungkin anaknya yang ini pun sudah pergi ke luar pulau meninggalkannya. Pertanyaannya mengenai siapa yang mengantar putrinya itu tadi malam, tak sempat terlontar dari mulutnya.

Kebetulan tadi malam dia sempat melongok keluar dan mendengar sebuah mobil pergi menjauh seiring dengan kedatangan putrinya. Padahal dia sudah merangkai kata semalaman untuk merancang kalimat seperti apa dan cara seperti apa yang tak akan membuat anaknya gusar atau pun tersinggung ketika mendengar pertanyaannya.

Sebenarnya, dia ingin segera menanyakannya tadi malam ketika dilihatnya putrinya muncul dibalik pintu. Namun dia urungkan segera demi melihat raut muka anaknya yang berlipat sedemikian rupa. Dia hanya mampu menjawab “belum mengantuk” ketika anaknya bertanya karena mendapati ibunya belum tidur.

Tak ada lagi percakapan lainnya setelah itu, karena Diana langsung masuk, mendekam dikamarnya dan tak keluar lagi. Ketika dia mengikuti anaknya ke kamar karena penasaran, demi melihat anaknya terisak di atas tempat tidur, dia tak berani mengusik. Dia berharap, nanti malam kepenasarannya bisa terpuaskan.

***

Ferdian keluar dari mobilnya, dan memasuki rumah sederhana nan asri itu. Sudah sebulan ini, dia memiliki kegiatan rutin lain saat makan siang tiba atau sepulang kerja seperti sekarang ini. Mengunjungi Ibunya Diana! Sejak dia mengetahui tempat tinggal Diana, Ferdian sengaja sering mendatangi rumah itu untuk sekedar lebih mengenal Diana lewat cerita ibunya.

Sebenarnya, awalnya dia tidak sengaja menyelidiki. Ketika itu, Ferdian bertandang untuk bertemu Diana tentunya, namun yang dicari sedang tak ada di rumah. Jadilah dia ditemani ibunya yang menyambutnya dengan ramah dan menyenangkan, membuatnya kecanduan untuk melakukan pertemuan selanjutnya tanpa pernah bertemu Diana.

Hari itu, Ferdian bertandang dengan membawa sekedar buah tangan, kebetulan dia baru pulang tugas dari luar kota. Ibunda Diana menyambut kedatangan Ferdian dengan suka hati, dia sudah benar-benar kepincut pada Ferdian.

Pembawaannya yang kalem, bersahaja dan dewasa membuatnya sangat berharap agar pemuda ini bisa benar-benar menjadi menantunya. Ketertarikan Ferdian pada putrinya bisa dia rasakan dari setiap kata yang diucapkan pemuda itu mengenainya.

Matanya selalu memancar binar cinta setiap kali bicara, dan mendengarkan semua ceritanya dengan sangat antusias. Walau Ferdian pernah menyinggung soal luka masa lalu Diana, tapi ibunya tak bercerita seterbuka itu. Dia masih menghargai privacy anaknya. Dia berfikir, biarlah Diana sendiri yang bercerita semuanya bila memang sudah waktunya.

Mereka bicara ngalor-ngidul sesorean hingga malam, mengenai perjalanan Ferdian ke luar kota, anggrek-anggrek kesayangan Ibunda Diana, hingga masakan kesukaan Ferdian yang sengaja Ibunda Diana buatkan ketika tadi Ferdian menelpon memberitahunya akan datang.

Ferdian sangat senang atas perlakuan Ibunda Diana, serasa menjadi pengobat rasa rindunya pada mamanya sendiri di kampung halaman. Ibunda Diana memaksanya menemani makan malam, karena Diana lembur hari itu dan pasti pulangnya larut tak sempat makan malam di rumah.

Ferdian tak berani menolak melihat pancar mata penuh harap dan sedikit kesedihan dimata perempuan setengah baya itu ketika mengatakan anaknya tak pulang untuk menemaninya makan malam.

Dia menyantap makanan kesukaannya dengan lahap ketika sekonyong-konyong suara sepatu wanita memasuki ruang makan.

Serentak Ibunda Diana dan Ferdian menengok ke arah suara. Berdiri di ambang pintu, Diana dengan pancaran mata tajam dan rasa tak suka yang tak sedikitpun berniat dia samarkan. Mukanya memerah, tapi tak sepatah pun kata terucap dari bibirnya yang terkatup amat rapat.

Menyadari kehadirannya membuat gusar Diana, Ferdian segera menyudahi makan malamnya, meletakkan sendoknya dan meminum seteguk air.

“Selamat malam,” katanya sambil berdiri dan tersenyum samar ke arah Diana. Yang diberi salam tak menjawab sepatah kata pun, hanya sorot mata penuh tanya dan kebencian yang membuncah seakan berjuta mata pisau yang siap ditancapkan di dada sang pemuda.

Ibunda Diana menyadari suasana tegang itu, dan segera berinisiatif untuk menjadi penengah.

“Sudah pulang sayang, tak jadi lembur? Mari makan malam sekalian, pasti kamu belum makan kan?”

Suaranya lembut membujuk. Kini sorot mata Diana beralih kepada ibundanya, penuh tanda tanya dan ketidak percayaan karena merasa dikhianati.

“Tidak Bunda, Diana sudah makan tadi sebelum pulang.” Akhirnya keluar juga suaranya walau agak bergetar. Kemudian sorot matanya beralih kembali pada Ferdian yang juga sedang menatapnya.

“Aku harus bicara denganmu!” Katanya sambil berjalan ke teras halaman belakang.

Ferdian berfikir, mungkin inilah saatnya. Sekarang atau tidak selamanya. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Diana, menggenggam tangan Ibunda Diana dan mengatakan,

“Doakan semuanya akan baik-baik Bunda,” ketika melalui perempuan itu yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Ibunda Diana tersenyum, seakan menjawab “Tentu saja, calon menantuku. Semoga engkau bisa menaklukkan hati anakku…”

“Apa yang kamu lakukan di rumahku?! Dan dengan ibuku?!” Diana tak menunggu Ferdian sampai duduk nyaman di kursi teras.

Diana duduk tegak dan angkuh, menyorotkan mata penuh tuduhan. Ferdian menempatkan pantatnya sampai merasa nyaman sebelum menjawab pertanyaan Diana.

“Aku hanya bersilaturahmi dengan Bunda,” katanya singkat menatap balik mata Diana lurus namun lembut dan penuh percaya diri.

“Apakah salah?” lanjutnya. Diana jengah ditatap lurus-lurus begitu, pipinya semburat merah.

Dia sangat benci dirinya karena merasa seperti itu, juga karena sekilas dilihatnya senyum senang pemuda itu melihat kelakuannya.

“Kamu pasti memiliki maksud tertentu dengan datang ke mari dan bertemu ibuku tanpa sepengetahuan aku pula! Apa hakmu melakukan itu?!” Diana mulai meradang lagi setelah percaya dirinya sedikit pulih.

Ferdian tak segera menjawab, malah meneliti wajah perempuan di depannya. Berharap perempuan itu akan salah tingkah seperti tadi, dan membuatnya senang hati merasa bahwa perempuan yang dicintainya merasakan hal yang sama walaupun dengan keras kepala tak mau mengakuinya.

Tapi Diana sudah mulai membentengi hatinya kembali, kali ini dia bertekad untuk tidak mau kalah. Ditentangnya tatapan Ferdian dengan tatapan angkuh walau hatinya berdegup semakin kencang setiap detiknya. Ferdian tersenyum penuh arti akhirnya menjawab,

“Awalnya aku memang berniat bertemu kamu. Tapi waktu itu kamu sedang tidak di rumah. Selanjutnya, aku kemari bukan untuk menemui kamu, tetapi ibumu. Ini rumahnya, dan aku sudah mendapat ijinnya datang kemari. Apakah semua tamu ibumu harus meminta restu darimu juga?”

Ferdian mengucapkannya dengan tenang sambil memainkan alis dan matanya dengan jenaka seolah pertanyaan yang dilontarkan Diana itu tak masuk akal dan kekanak-kanakkan. Muka Diana kembali memerah mendengar jawaban Ferdian.

“Bukan begitu, tapi kamu kan temanku… seharusnya… apakah kamu memata-mataiku?!” Diana berkata-kata tanpa redaksi yang jelas.

Fikirannya berkecamuk tak tentu arah karena marah dan bingung takut salah bicara dan dianggap ge-er. Ferdian tersenyum mendengar pertanyaan Diana,

“Mengapa aku harus memata-mataimu?” seraya mengerjapkan matanya menggoda.

Mata Diana membelalak marah, “Hey! You tell me! Kamu yang tiba-tiba berada dirumahku, berbincang dengan ibuku! Jangan dikira aku perempuan bodoh yang percaya semua omong kosongmu bahwa kamu bertandang tanpa ada tujuan khusus kecuali bertemu ibuku! Aku tahu pasti kamu ingin mengetahui sesuatu tentang diriku! Benar begitu bukan?! Apa yang kau ingin ketahui mengenai aku?! Tanya langsung padaku sekarang! Jangan seperti orang pengecut diam-diam menyelidikiku!!”

Napas Diana tersengal setelah memuntahkan begitu banyak kata penuh kemurkaan. Ferdian tertegun tak menyangka gadis didepannya ini bisa berkata sesadis itu, mengatainya pengecut. Hampir saja dia meledak juga, tapi untungnya dia masih bisa menguasai diri.

Dengan sorot mata tajam dia tatap lurus-lurus mata Diana,

“Baiklah, kamu benar. Aku memang ingin tahu semua tentang dirimu, sebagai seseorang yang ingin aku persunting. Tak perlu pura-pura tidak tahu karena aku sudah mengungkapkannya padamu sebulan yang lalu. Benar juga aku ingin tahu apa yang menyebabkan kamu begitu mati-matian tak ingin hidup berdampingan dengan seorang suami. Aku pernah menanyakannya padamu waktu itu dan kamu tak mau menjelaskannya padaku, makanya aku mencoba mencari tahu sendiri. Sekarang, mumpung kamu sudah mengatakan bahwa aku harus menanyakan semuanya padamu, baik….”

Ferdian menghela nafas sebentar, dan mengamati perubahan wajah Diana yang sedikit memucat. Diana menyadari semuanya harus dibuka saat ini, dan dia harus sudah siap menerima semua konsekuensinya, yang terburuk sekalipun.

Kehilangan lagi seorang lelaki yang dia cintai…

Ditengah kekalutannya menata hati, suara Ferdian menghentakkannya kembali ke alam sadar.

“Aku tanyakan sekarang langsung padamu, kamu hanya perlu menjawabnya dengan jujur. Entah aku overestimate atau apa, tapi aku bisa merasakan kamu pun tertarik padaku. Masalahnya, kamu tak mau mengakuinya. Ada sesuatu hal yang aku tak tahu yang menyebabkan kamu berlaku seperti ini, dan aku ingin tahu apa itu. Beri aku kesempatan menentukan jalan hidupku, jangan terlalu egois menganggap bahwa aku tak pantas memilikimu karena masalah itu. Katakan padaku jawabannya sekarang, biarkan aku memutuskan apa yang aku pilih…” suara Ferdian terdengar melembut namun tegas.

Dia tahu sungguh sulit dan berat bagi Diana mengatakan semuanya. Dia tak ingin menekan Diana hingga ke sudut bagai tikus yang kepergok mencuri ikan. Ferdian mengulas sebuah senyuman, seolah memberi kekuatan kepada Diana.

“Tak apa-apa, katakan semuanya… Beri aku kesempatan…” katanya menganggukkan kepalanya dan menatap lurus mata Diana dengan penuh kelembutan.

Disudut lain, Ibunda Diana berdoa sambil menitikan airmatanya. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk puterinya, dan tidak membiarkannya terpuruk lagi bila Ferdian bukan seseorang yang ditunjuk Tuhan untuk mendampinginya.

Diana menghela nafas panjang, dan melepaskannya sekaligus seolah membuang kegundahan yang dirasainya menyesakkan dada.

“Baik… Aku akan ceritakan semuanya. Bila kau benar-benar ingin mengetahuinya…” Dia berdiam sejenak, menerawang, mencoba mengumpulkan potongan-potongan masa lalu yang sekuat tenaga coba dia enyahkan.

“Kejadiannya sudah lama sekali… Ketika aku masih kelas dua SMA… Aku,… divonis menderita kanker ovarium…”

Diana tak berani menatap Ferdian, atau dia tak akan bisa melanjutkan seluruh ceritanya. Ferdian serasa tersengat ribuan volt listrik, tak mengatakan apa-apa mencoba mencerna apa yang telah dikatakan Diana dan tak berani menebak apa yang akan dikatakan Diana selanjutnya.

“Dokter saat itu mengatakan bahwa ovariumku harus diangkat, dua-duanya, karena sudah parah… Bila tidak, kanker itu akan menyebar ke organ dalamku yang lain… Aku tak bisa memutuskan lain… Akibatnya, aku tak akan bisa memiliki keturunan seumur hidupku…”

Diana tersenyum diantara lelehan airmata, dan memberanikan diri menoleh ke wajah Ferdian. Lelaki didepannya tergugu, tak mengatakan apa-apa, hanya kengerian jelas terpancar di raut wajahnya. Diana memalingkan mukanya, merasa bahwa ketakutannya bukan hanya semata ketakutan. Dia akan benar-benar kehilangan lagi…

“Kurasa, itu saja yang bisa aku katakan… Jangan katakan apapun sekarang, dan aku yakin kamu pun tak punya kata untuk mengungkapkan perasaanmu saat ini…”

Diana menatap lelaki didepannya lekat, “Di… Aku…” Ferdian mencoba membuka mulutnya dan menggapai tangan Diana, membuat Diana kaget tak menyangka.

Tubuhnya mengejang sesaat menerima remasan tangan Ferdian, dengan cepat dia mengenyahkan harapan yang tiba-tiba merasuk jiwanya.

“Pulanglah sekarang… Tolong, jangan katakan apapun sekarang… Pulanglah…Jika kamu sudah mempunyai jawaban berdasarkan fikiranmu yang jernih, kamu boleh kembali”

Diana mencoba menarik tangannya, namun genggaman tangan Ferdian begitu kuat seolah tak rela melepaskannya. Diana menatap Ferdian penuh permohonan. Akhirnya Ferdian mengalah, dia lepaskan genggamannya dan membiarkan tangan itu ditarik oleh pemiliknya.

“Sekarang pulanglah… Kamu boleh kembali kapan saja bila sudah memiliki jawabannya. Kamu juga boleh menghilang begitu saja dari hidupku bila tak sanggup mengatakan kebenaran dihatimu…” Diana memberi seulas senyum, getir. Mencabik-cabik hati Ferdian dan Ibunda Diana di sudut lain.

***

Seorang gadis kecil berusia sekira 3 tahun berlari-lari menuju halaman demi didengarnya deru mobil yang teramat dikenalnya.

“Papa pulang! Papa pulang!” Teriaknya menyambut lelaki yang turun dari mobil. Seorang lelaki tegap yang menyambut tubuh kecil itu untuk direngkuh dalam pelukannya.

“Sasqy sedang makan ya sayang? Kok makan sambil lari-lari? Engga baik itu, kalau makan itu mesti duduk yang manis yaaaa?” Katanya lembut sambil berkali-kali mencium pipi montok gadis kecil itu.

Sasqy, demikian gadis kecil itu dipanggil, tertawa-tawa kegelian karena pipi dan dagu lelaki itu yang kasar oleh cambang.

“Iya Ayah, Sasqy tadi juga makannya duduk sama Bunda. Tapi Sasqy dengar Ayah pulang makanya Sasqy lari keluar…,” katanya manja.

“Tuuuh kan, Bunda bilang juga apa, ga baik kan makan sambil lari-lari…” Sesosok perempuan muda sudah berdiri menatap penuh cinta kedua orang yang sangat dia sayangi bercengkerama berdua.

Ya, Ferdian telah memutuskan untuk tetap mengikuti hati nuraninya setelah bergelut berminggu-minggu dengan ego orang tuanya. Namun, Tuhan memang Maha Adil, tak disangka-sangka ternyata Diana bisa hamil hanya dalam waktu sebulan setelah pernikahan mereka.

Dokter mengatakan, bahwa ovarium kanan Diana tak diangkat seluruhnya. Organ yang tersisa itu ternyata masih mampu memproduksi sel telur untuk dibuahi. Manusia memang kadang kala terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Padahal apa yang akan terjadi di depan adalah sepenuhnya kekuasaan Tuhan…