LELAKI DALAM JELAGA
Tuesday, August 5th, 2008Pevieta menatap awan dan gurun pasir membentang yang menghias Gunung Bromo menjulang nan angkuh. Ia masih termangu di beranda penginapan pada hari ketiga sejak kedatangannya, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada keinginan untuk beranjak mendatangi puncak Bromo yang seolah mengejek kecengengannya. Tapi dia tak perduli. Tidak ada lagi yang diperdulikannya. Yang ada hanya keinginan memuaskan ego untuk merasa sendiri kehampaannya. Ia ingin menghilang. Setidaknya untuk beberapa waktu memungut keping hatinya yang terserak.
***
“Pevieta… Aku butuh teman bicara… punya waktu…?”
Untuk kesekian kalinya Rinova melayangkan pertanyaan itu pada Pevieta, dan untuk kesekian kali pula Pevieta tak pernah bisa menolaknya. Dia bahkan selalu menyambutnya dengan sangat senang hati.
“Kita ke café depan saja ya…”
Pevieta beranjak membenahi berkas kerja yang belum sempat dikerjakannya, disimpan di laci dengan rapi dan dikuncinya. Confidential.
“Aku tak tahan lagi Pevie… Rasanya aku ingin bunuh diri saja… Segala yang aku lakukan semuanya untuk meraihnya, untuk menjadi layak berada disisinya… Tapi kenapa dia tega sekali berbuat begini padaku Pevie… Aku ga mengerti…”
Lelaki itu mengerucut, meriut, ciut, sangat berbeda dengan pertama mereka bertemu dulu. Pertama bertemu dan berkenalan, lelaki itu begitu hebat, cerdas, kuat, penuh visi kedepan seakan tak ada yang akan mampu menggoyahkannya. Hanya karena seorang perempuan, lelaki ini berubah teramat sangat drastis. Pevieta tak tega melihatnya, ia tak ingin lelaki hebat ini hancur. Banyak hal yang lelaki ini bisa lakukan untuk dirinya dan orang sekitarnya, karena dia seorang visioner.
Pevieta tak menyela sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulut Rino, dia hanya tersenyum dengan tatapan lembutnya dan mengusap-usap punggung tangan lelaki itu. Entah bagaimana, tapi hanya dengan begitu pun Rinova bisa merasakan ketenangan, sehingga selalu mencari perempuan ini setiap lukanya yang basah kembali berdarah.
”Kemarin aku bertemu dengan Tatya di acara reuni kampus… Dia masih cantik seperti terakhir kami bertemu… Dia begitu lembut… Ah… Pevie… Kenapa dia tak menginginkanku di saat aku berusaha menjadikannya milikku seutuhnya??? Bahkan dia tidak memberiku kesempatan untuk tahu apa alasannya??? Apakah aku tidak layak untuk dirinya Pevie… Aku ga mengerti… Padahal semuanya sungguh aku rasa begitu sempurna…”
Rinova bahkan mulai terisak! Pevieta mengusap kepala Rinova penuh kasih, dengan ujung mata yang ikut berair…
”Rino…”, Katanya akhirnya.
”Jika Tatya tidak menerima pinanganmu, bukan berarti kamu yang tidak sepadan untuknya… Bukan berarti kamu tidak layak berada disisinya, mendampinginya sepanjang sisa umur kalian… Tetapi karena Tuhan memiliki rencana lain yang lebih besar bagi kalian berdua… Mungkin kalian, kamu, tidak mengerti saat ini… Namun suatu hari nanti kamu akan mengerti sepenuhnya… Jangan menyalahkan diri sendiri, tapi jangan pula terlalu menyalahkan dia… Karena aku yakin, pasti dia punya alasan yang sangat kuat melepaskan kamu yang begitu hebat…”
Pevieta tersenyum menatap dalam wajah basah dihadapannya, mengusap sejenak pipi basahnya, dan kembali berkata,
”Seperti banyak orang bilang, cinta tidak harus saling memiliki… Lanjutkan hidupmu… Jika ini bisa menjadi cambuk, perlihatkan pada dunia, pada Tatya, bahwa kamu seorang lelaki yang kuat! Kamu seorang lelaki yang layak bagi wanita manapun! Kamu adalah seorang Rinova! Seorang aktivis kampus yang visioner! Seperti yang aku kenal dulu dan selama ini… Jangan biarkan diri kamu terpuruk oleh ini semua… Karena jika begitu berarti kamu kalah…”
Pevieta menggenggam erat tangan Rinova. Mata Rinova yang sayu kelihatan agak bersinar. Dia bahkan tersenyum.
”Terima kasih Pevie… Kamu adalah sahabatku yang paling baik…”
***
”Pevie!”
Pevieta agak terlonjak ketika punggungnya ditepuk, dan disapa sebuah suara yang sangat dikenalnya. Hampir saja buku digenggamannya terjatuh.
”Rino! Ngagetin aja!”
Rinova nyengir kuda.
”Lagi nyari buku apa? Serius amat, jangan-jangan cuman nebeng baca doank belinya engga hehe…”
”Huuuu enak aja, beli donk! Aku lagi cari buku baru nih… Lagi butuh pencerahan…”
”Yahhh masih aja baca-baca buku novel, mendingan bikin cerita sendiri Non”
Pevieta mendelik, ”Eh, kan udah tahu dari dulu aku paling males baca buku sains yang penuh uraian teori ngebosenin begitu, mendingan nyari bacaan novel yang didalemnya ada nyinggung-nyinggung sains hehehhee… Waktu SMP aja aku ngerti Revolusi Perancis gara-gara baca komik Si Oscar, apa tuh judulnya aku lupa Rose of Versailles ya klo ga salah…”
”Iye… Iyeeeeee… Seterah! Eh, aku ada cerita! Kita nongkrong bentaran yuk!”
Itulah saat terakhir Rinova terlihat begitu ’hidup’, ketika berencana untuk sebuah loncatan besar bagi hidupnya bersama seorang gadis yang teramat dicintainya. Gadis yang bahkan sempat membuat Rino ’menjauh’ dari dirinya…
Kini, gadis itu, Tatya, telah membuat Rinova begitu hancur tetapi menjadi dekat kembali dengannya. Entah Pevieta harus merasa sedih ataukah bahagia…
***
”Pevie… Kemarin aku melabrak orang…”
Pevieta terbelalak. ”Siapa???”
”Tunangannya sahabat adikku…”
Pevieta mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.
”Aku pernah naksir sama dia dulu, tapi adikku tak pernah izinkan aku deketin dia, namanya Raisha…”
”Hmmm…”
”Dia minta aku temenin dia ngelabrak pacarnya yang selingkuh. Padahal mereka sudah mau menikah! Cowok ini bahkan bisa sekolah karena dibiayain sama Raisha! Kurang ajar banget tu cowok! Tau ga Pe, tu cowok bahkan ngeggombalin cewek pacar barunya buat nikah juga tahun ini?! Gila ga?! Padahal kemaren jalan ma cewek ini aja dia pake mobil Raisha!!!”
Pevieta hanya menjadi pendengar bisu mengamati kegeraman Rinova saat menceritakan peristiwa itu.
”Ternyata cewek barunya ga tahu klo cowok brengsek itu udah punya tunangan, hehehhee… kena batunya dech dia, ga dapet dua-duanya. Sempet kena bonus tamparan pula dari Raisha.”
Pevieta menatap Rinova.
”Trus? Mereka bubaran?”
”Ya gitu dech, cowok brengsek begitu, siapa yang mau!”
”I see…”
”Kasian banget Raisha… Dia nangis terus sepanjang jalan… Aku bisa ngerasain, gimana sakitnya kehilangan seseorang yang sangat kita cintai… apalagi… sudah sedekat itu…”
Pevieta tergugu, lidahnya kelu tak tahu harus bicara apa. Hatinya kacau, merasakan sesuatu yang berada digenggamannya akan kembali terlucut…
”Aku rasa… Lebih baik Raisha tahu dari sekarang daripada… dia mengetahuinya setelah mereka menikah…”
Suara Pevieta akhirnya terdengar walaupun terdengar seperti mengambang di udara.
”Ya… Kamu bener. Seenggaknya Raisha punya alasan jelas mengapa harus melepas tunangannya… Ga seperti aku…”
”Hey, don’t start that again…”
Pevieta memicingkan mata kanannya menatap Rinova. Rinova tersenyum,
”Yups! Yesterday is history, tomorrow still mistery, today is a gift thats why it called present.”
Rinova tiba-tiba tercenung, tergugu diam.
”Mmmmm… Mungkinkah… Raisha adalah ’hadiah’ yang diberikan Tuhan untukku Pevie…?”
Pevieta terlengak, Jangan! Ini terlalu cepat! Teriaknya dalam hati.
”Aku tidak tahu… Mungkin saja…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Pevieta.
***
Semakin hari semakin banyak cerita Rinova tentang Raisha. Pevieta tak tahu harus bagaimana meredam gejolak hatinya. Sampai suatu hari,
”Pevie, aku mau pergi ke Bali.”
”Berapa lama?”
”Entah… Aku ingin menyiapkan semuanya untuk masa depanku bersama Raisha… Kami sudah semakin dekat… Dan aku ingin memilikinya secepatnya…”
Pevieta terlengak, terhenyak, terhempas.
”Tidakkah ini terlalu cepat Rino… Kamu sudah benar-benar yakin…?”
”Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang aku sayangi lagi… Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti… Yang aku tahu sekarang, aku menginginkan hidup bersamanya…”
Pevieta terduduk lesu, ingin rasanya berlari, tapi ia tak sanggup, tak pernah sanggup. Dengan seluruh keberaniannya yang ia himpun dengan susah payah akhirnya Pevieta berkata dengan gemetar.
”Aku… Aku takut akan kehilangan kamu… Entah, terserah kamu mau anggap aku apa… Tapi aku sudah tak tahan lagi Rino… Aku harus mengatakan ini semua… Aku sangat sayang sama kamu… Aku mencintai kamu, entah sejak kapan…”
Pevieta bicara dengan terbata hampir tak terdengar, bersusah payah menahan air mata yang tak pernah tumpah didepan Rinova. Dia menunduk dalam, tak berani menatap wajah Rinova.
”Ahhh… Pevie… Aku tak tahu harus bicara apa…”
Suara Rinova terdengar setelah beberapa saat mereka tergugu dalam diam.
”Kalau kamu benar-benar inginkan aku… Berdoalah… Mintalah pada Tuhan… Dialah yang tahu apa yang terbaik bagi kita…”
”Aku hanya ingin tahu, apakah kamu merasakan hal yang sama padaku Rino…”
”Aku tidak tahu Pevie… Entah sayang seperti apa yang aku punya untukmu…”
***
Dua bulan setelah kepergian Rinova, dia kembali… Dengan sebuah undangan indah berhiaskan foto Rinova dan Raisha… Mereka terlihat sangat serasi… Raisha begitu cantik… Pevieta tersenyum getir, teringat nasihatnya sendiri untuk Rinova…
Cinta tak harus memiliki… Namun tak urung, sanubarinya tetap remuk redam… Butuh waktu untuk merekatkannya kembali…