Archive for the ‘Dear Diary... Kurasa Cinta Itu Tidak Buta’ Category

Dear Diary… Kurasa Cinta Itu Tidak Buta

11 Januari 2006

Dy, hari ini aku berkenalan dengan seseorang, namanya Ray. Kami bertemu di internet, dikenalkan seorang rekanku sekerja. Dia lumayan, agak sedikit kaku bila berbicara, mungkin karena kami baru ”bertemu”.

Aku tidak menganggapnya istimewa, lagipula kami baru saja berkenalan. Walaupun aku tahu, temanku mempunyai maksud mencomblangiku dengan lelaki ini.

15 Januari 2006

Hampir setiap hari Ray menyapaku lewat chat, walaupun hanya sebuah kata ”halo”. Aku senang memiliki teman bicara di sela pekerjaanku yang semakin menumpuk saja. Ray seperti sebuah iklan di tengah film horor yang memacu adrenalin.

25 Januari 2006

Agak lama aku tak menyapamu ya Dy? Pekerjaanku sedikit hectic, aku tak memiliki energi untuk menulis sedikit. Lagi pula tak ada yang terlalu istimewa.

Ray… mmm… dia masih rajin menyapaku. Bahkan selalu menanyakan keberadaanku bila aku sehari saja tidak online pada temanku. Rasanya… Ada gelagat ”berbeda” darinya… Apakah dia ada ”sesuatu” padaku?

10 Februari 2006

Dy, dua minggu ini Ray curhat mengenai pekerjaannya. Katanya, dia merasa bukan berada di ”dunianya”. Dia bercerita bagaimana dia harus ”terjerumus” di bidang yang sekarang digelutinya.

Katanya, dia terpaksa memilih bidang IT karena paksaan orang tuanya. Ray lebih tertarik pada bidang elektro, namun ayahnya tak pernah mengijinkannya. Bahkan, dia tidak diizinkan kuliah dulu selepas SMA, hanya karena dia bersikeras ingin masuk jurusan yang benar-benar dia minati. Ayahnya tak bersedia mengeluarkan biaya kuliah bila dia tak memasuki bidang IT.

Dia sampai harus menganggur setahun untuk tidak kuliah, menanti kemungkinan ayahnya akan luluh dan mengijinkannya masuk jurusan elektro. Namun ternyata tidak, ayahnya terlalu tangguh, atau egois? Entah…

Aku bisa mengerti alasan orang tuanya yang mengatakan bahwa bidang IT tak kan ”habis” dimakan zaman. Dunia modern akan selalu membutuhkan pakar IT, apalagi dengan ketergantungan manusia pada bidang komputer ini yang semakin besar saja.

Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Ray, yang ingin mempertahankan idealismenya. Toh, sebuah bidang tidak akan bisa diselami secara maksimal bila yang mendalaminya tak ada minat sedikit pun pada bidang tersebut. Terus terang, ada rasa iba padanya yang harus terkungkung oleh keegoisan orang tua.

28 Februari 2006

Dy, rasanya tak ada hari tanpa Ray ya? Aku harap kamu tak akan bosan mendengar cerita-ceritaku ya Dy…

Hari ini Ray memberiku fotonya… Aku tak memintanya. Mungkin, dia ingin aku lebih mengenalnya… Entahlah…

Dia memintaku mengirimkan foto-fotoku juga, walaupun aku sudah memajangnya di Y!M. Katanya, fotoku disitu kecil sekali, dia tak bisa melihatku jelas. Aku mengirimkannya beberapa foto, dia bilang aku lumayan, manis. Aku hanya tersenyum menanggapinya, dan berkata,

”Hati-hati, foto bisa menipu. Orang jelek pun bisa kelihatan cantik dengan sedikit ’koreksi’”.

Btw, dia lumayan juga…

13 Maret 2006

Ray bercerita tentang seorang perempuan hari ini Dy… Katanya, dia selalu bertemu perempuan ini di kereta dalam perjalanannya menuju dan pulang kantor. Kebetulan mereka sejurusan.

Dia bilang perempuan ini cantik, dan memperlihatkan “perasaan khusus” padanya. Aku sedikit berfikir, apa maksud Ray bercerita mengenai perempuan ini padaku? Mencoba membuatku cemburukah? Mengetes reaksikukah? Atau hanya curhat biasa seperti yang selalu dia lakukan?

16 Maret 2006

Masih mengenai perempuan itu Dy… Ray bilang dia sedikit jengkel dengan perempuan itu. Ternyata dia makin ekstrim memamerkan perasaannya. Katanya, perempuan itu selalu berusaha memonopolinya dari teman perempuan lainnya. Perempuan ini selalu kelihatan tidak suka secara terbuka ketika Ray berbicara dengan teman perempuannya yang lain. Padahal teman yang diajak bicara Ray sudah menikah, bahkan sedang mengandung!

Aku bertanya kepadanya, kenapa harus jengkel pada perempuan itu? Bukannya dia bilang perempuan itu cantik? Kenapa tidak sekalian saja mendekatinya? Kan lumayan, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui hehehhee…

Dia bilang, memang perempuan itu cantik. Tapi cara dia berbicara, dia tidak menyukainya. Perempuan itu terlalu “tinggi”. Selalu menceritakan ini dan itu yang seolah memperlihatkan bahwa dia “lebih” dari orang lain. Lagi pula perempuan ini ternyata sudah memiliki kekasih!

Mulai menarik ya Dy? :wink:

23 Maret 2006

Hari ini Ray meminta no teleponku. Dia bahkan memintaku membeli sebuah HP CDMA agar kami mudah “berhubungan”. Aku tak langsung menyanggupinya, dan mengatakan aku belum terlalu membutuhkannya.

1 April 2006

Akhirnya aku membeli sebuah HP CDMA juga Dy… Kami mulai rajin bertelepon. Tapi aku tak pernah meneleponnya duluan. Aku hanya meneleponnya bila dia minta, atau bila telepon kami tiba-tiba terputus. Kami makin terasa dekat saja….

Oya, cerita mengenai perempuan itu sudah berakhir. Katanya, perempuan itu yang menjauh darinya.

13 April 2006

Dy, kemarin dia bilang suka padaku… Sebenarnya dari beberapa waktu lalu dia sudah menyiratkan itu, tapi tidak sampai eksplisit mengatakannya. Kemarin, dia benar-benar melakukannya. Aku tak terlalu kaget, aku hanya mengatakan padanya jangan terburu-buru menyimpulkan perasaan itu. Bertemu muka pun kami belum pernah, mana ada cinta seperti itu? Terus terang saja aku tak bisa meyakini kesungguhannya.

Dia bilang, dia juga belum meyakininya seratus persen, namun bila nanti kami bertemu dan benar-benar merasa cocok, dia ingin menjalani segalanya dengan serius. Dia bilang sudah jemu luntang-lantung membujang seperti ini terus.

Aku bilang, kita memang harus bertemu. Dan jangan katakan tentang hubungan yang lebih jauh sebelum kami bertemu. Dan kami membuat janji bertemu minggu depan.

27 April 2006

Kami batal bertemu Dy… Dia ada pameran akhir pekan kemarin… Aku kecewa tapi juga lega… Aku merasa ada sedikit takut bertemu dengannya… Atau banyak?

Aku takut dia tidak menyukaiku… Aku takut dia membayangkan lebih mengenai diriku… Aku takut, aku tak seperti khayalannya….

Sebenarnya aku bisa saja menemuinya di pameran itu, memberinya kejutan, tiba-tiba muncul dihadapannya. Tapi ternyata aku belum siap… (menghela nafas berat).

30 April 2006

Tak terasa aku dan Ray sudah lebih dari tiga bulan menjalani hubungan yang tak jelas ini. Pacaran bukan, teman… rasanya lebih dari itu. Ah, apalah namanya ini aku tak perduli.

Hari ini aku menodongnya bercerita mengenai pacar-pacarnya. Dia bercerita pernah memiliki sebuah cinta pertama yang sangat indah. Perempuan itu adalah teman kuliahnya. Katanya sih, banyak teman lelaki yang menyukai gadis ini. Karena selain pintar, gadis ini juga lembut dan manis.

Awalnya dia tidak terlalu kenal dengan gadis ini, bahkan mengobrol pun jarang. Waktunya habis untuk bekerja dan kuliah, tak sempat memikirkan hal seperti itu. Suatu hari mereka bertemu dalam bus kota menuju kampus, dan mereka mengobrol sepanjang jalan. Ternyata gadis itu cukup menyenangkan sebagai teman bicara.

Entah mengapa, setelah itu, Si Gadis selalu Ray temui di halte yang sama padahal biasanya dia memakai sepeda motor ke kampus. Mereka pun semakin dekat hari demi hari, sampai kemudian mereka berpacaran.

Namun sayang, ternyata orang tua gadis itu tak menyetujui hubungan mereka berdua, dan sekarang gadis itu telah menikah dengan lelaki lain. Katanya mereka putus baik-baik. Bahkan Ray datang ke pesta pernikahan gadis itu. Hmmm…

14 Mei 2006

Dy… Ray bercerita mengenai orang tuanya baru saja di telepon. Hampir satu jam, bahkan mungkin lebih kami berbicara.

Orang tua Ray bercerai ketika dia dan adiknya masih kecil… Ibunya pulang ke Jawa, ayahnya bertugas di Bali, sedangkan dia yang masih SD ditinggal hidup sendiri di pinggiran Jakarta bersama seorang adik perempuannya! Ya Tuhan, adakah orang tua yang sebegitu teganya terhadap anak-anaknya???

Katanya, bertahun-tahun dia hidup seperti itu. Berlaku menjadi orang tua bagi adiknya yang masih kecil, sedangkan dia sendiri pun belum dewasa. Terus terang aku sangat terenyuh, tenggorokanku tercekat tak tahu harus berkata apa… Dia bercerita dengan suara yang lirih seolah memendam pedih yang dalam dan tak pernah tercurah pada siapa pun sebelumnya.

Ingin rasanya aku merengkuhnya, memberikan sebuah bisikan bahwa dia lelaki yang hebat. Bisa menjadi seseorang seperti dia saat ini. Di akhir ceritanya dia berkata, dia berjanji pada dirinya sendiri tak ingin berakhir seperti orang tuanya bila kelak dia berumah tangga… Aku hanya mengaminkannya, dan berdoa semoga apa yang diharapkannya bisa terkabul.

Ayahnya kini sudah menikah lagi, dan dari ceritanya, aku merasakan bahwa hubungannya dengan ibu tirinya cukup baik. Aku berharap mereka semua akan selalu baik-baik saja… Amin…

29 Mei 2006

Aku senang sekali Dy! Kantorku sebentar lagi akan berwisata ke luar pulau! Yeeee!! Ini pertama kalinya aku akan naik pesawat! Haha norak sekali yah?

Okay, back to Ray. Kami janjian bertemu (lagi), untuk kesekian kalinya. Kali ini rasanya aku sudah semakin mantap. Aku pasrah, apapun yang akan terjadi nanti, tentunya itu yang terbaik. Ray bilang, dia sedang dalam penggemukan badan dua minggu terakhir ini hihihii… Dia ingin terlihat ”bagus” ketika bertemu denganku nanti agar tidak mengecewakan. Aku hanya tertawa saja.

17 Mei 2006

Hari ini akhirnya kami bertemu Dy! Kami janjian di sebuah mall. Aku sudah berdandan secantik mungkin, biarpun rasanya tak akan berubah banyak dari aslinya… Yaaaa setidaknya aku sudah berusaha… Sebelum berangkat aku menghela nafas panjang, rasanya jantungku berdegup begitu kencang menanti pertemuan ini. Ya ampun, blind date sepertinya sangat tidak disarankan bagi seorang penderita penyakit jantung.

Ketika aku baru saja sampai di Mall, HP ku berbunyi. Dia bertanya aku sampai dimana, aku jawab sudah sampai dan sedang menuju ke sana. Dia bilang, menunggu di sebuah kios didepan SMA dekat Mall. Aku pun menuju ke sana. SMA nya ketemu, tapi dia dimana aku tak melihatnya. Atau tak mengenalinya?

Ketika aku mencoba menelponnya, sebuah suara memanggil namaku dari arah belakang. Seorang lelaki melambai ke arahku seraya tersenyum.

Kakiku serasa melayang ketika mendekatinya, semoga saja mukaku tidak seperti orang sekarat karena takut dan malu. Ini blind date pertamaku (mungkin juga yang terakhir). Blind date tak cocok untuk kesehatan jantungku.

Hmmm… Dia lumayan, mungkin sedikit kurus, tapi tampangnya lumayan… Kami mengobrol sebentar di sebuah warung, dia menawariku makan. Tapi aku jawab masih kenyang, padahal aku belum makan apapun hahaha… Entah mengapa, perutku tak bisa dimasuki apapun bila aku tegang begini. Kami minum teh botol sebelum kemudian dia membawaku ke rumahnya dengan motornya. Wow… Aku mau dibawa kerumahnya… Katanya dia ingin aku bertemu adiknya… Aku berfikir tentu orangtuanya juga ada di rumah… Hmmm… In the first date?

Aku menurut saja, ketika dia memberikan sebuah helm untuk dipakai, tapi menolak ketika dia menawarkan jaket. Aku bilang tak apa-apa, dan dia tak memaksa walaupun dia berkata akan banyak angin bila berkendaraan dengan motor.

Sampai di Serpong, kami menuju sebuah rumah makan. Begonya, saking gugupnya aku tak bisa membuka tali helm yang kupakai. Hingga harus memintanya membukakan kaitnya. Kulihat tangannya sedikit gemetar, aku tersenyum dalam hati.

Dari rumah makan kami menuju ke rumahnya, di sebuah kompleks perumahan bagi pegawai di lembaga penelitian milik pemerintah. Tempatnya sangat asri, dengan pepohonan yang begitu hijau dan rimbun. Benar saja, dirumahnya telah menunggu ibunya. Bahkan ayahnya yang sedang bekerja pun, tengah hari tiba-tiba datang!

Aku mengobrol ringan dengan mereka, mereka banyak bertanya tentang keluarga dan tempat tinggalku. Orang tuanya ramah, bahkan ayahnya mengundangku ke sana hari minggu kapan-kapan biar bisa bakar ikan dari kolam belakang rumahnya.

Ayahnya sebentar kemudian pamit kembali ke kantor. Aku bertanya pada Ray, apakah dia yang meminta ayahnya pulang untuk menemuiku? Dia katakan, ayahnya memang suka pulang untuk makan siang. Well, okay…

Setelah menonton tivi sebentar, Ray bilang bosan dan mengajakku menonton film di Mall dekat-dekat situ. Aku menurut. Kami menonton film Transformer. Sampai menjelang malam kami baru kembali ke Jakarta. Ray menanyakan jalan menuju tempat tinggalku, karena dia tidak pernah bawa motor sampai ke Jakarta. Aku bilang tak usah, biar aku naik bis atau taksi saja. Aku takut dia kemalaman sampai di rumah.

Kami mengakhiri pertemuan itu dengan makan malam di sebuah warung nasi goreng, dan berpisah setelah Ray mengantarku menuju sebuah taksi. Sebenarnya aku sedikit khawatir, karena tadi ketika mengantarku, rantai motornya agak sedikit bermasalah. Makanya setelah sampai di rumah aku mencoba menelponnya, tetapi tidak di angkat. Pastinya dia masih dalam perjalanan, lalu aku mengirimkan sms agar dia memberitahuku bila telah sampai.

Beberapa menit kemudian HP ku berbunyi, dia mengabarkan sudah sampai dengan selamat. Aku lega, dan tidur lelap dengan sebuah senyuman…

18 Mei 2006

Dy… Ray tak bisa dihubungi… Telepon tidak diangkat, sms pun tidak dijawab… Ada apa ya…

19 Mei 2006

Dy… Hari ini akhirnya aku berhasil menelepon Ray, tapi cara bicaranya… Sungguh sangat berbeda… Rasanya dia tidak seantusias dulu… Ada apa Ray? Apakah hatimu berubah setelah pertemuan itu? Dy, aku merasa ketakutanku akan segera menjadi kenyataan…

Biarlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah…

20 Mei 2006

Aku mengiriminya sebuah email sebelum berangkat berlibur, untuk berpamitan. Aku juga bertanya, ada apa dengan dirinya… Mengapa aku merasa bahwa dia berubah… Aku meminta dia untuk jujur mengatakan semua yang dia rasakan. Bagiku kebenaran itu walaupun pahit, lebih berarti dari pada sebuah kepura-puraan atau digantung tanpa jawaban yang jelas. Aku harap ketika aku kembali nanti aku akan mendapat jawabannya Dy…

22 Mei 2006

Aku bergembira dengan liburan ini Dy, tapi rasanya hatiku tak sepenuhnya disana… Hatiku terus bertanya ada apa dengan Ray… Apa yang salah dengan kami, atau dengan aku?

Tengah malam sebuah sms membangunkan tidurku yang tidak lelap. Sms dari Ray, yang menghancurkan seluruh sisa liburanku… Dia mengatakan dia tak bisa tidur nyenyak sebelum mengatakan semuanya padaku, bahwa dia tidak bisa menyayangiku, dan dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia tidak bisa mencintaiku. Dia meminta maaf, dan berharap bisa bertemu bila nanti aku kembali dan ingin mengatakannya secara langsung.

Aku menahan pedih dihatiku, dan menahan lelehan air mata yang hampir tumpah. Dengan jari bergetar aku menjawab sms beruntun dari Ray dengan hanya sebuah sms : Tidak apa-apa, terima kasih sudah mengatakan dengan jujur semuanya. Tak ada yang harus dimaafkan, tidurlah dengan nyenyak. Bahkan aku menambahkan ikon senyuman untuknya.

Ya Tuhan… Ternyata hatiku tetap pedih walaupun aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi…

Esok paginya, aku berjalan menyusuri pantai Kuta sendirian… Berdiri menyongsong ombak, berharap pedih dihatiku akan tersaput olehnya dan terbawa hingga ke tengah lautan sana…Tapi ternyata tidak bisa, hatiku tetap terkoyak… Aku tak mengerti semuanya, aku tak mengerti apa yang salah… Aku hanya membutuhkan sebuah jawaban untuk mengapa…

Cinta ternyata tidak buta… Cinta masih mengedepankan penampilan fisik untuk bisa tumbuh… Cinta tanpa kehadiran fisik adalah semu…

(Persembahan bagi seseorang yang berhutang jawaban untuk sebuah kata ”mengapa”…)

© 2008 Novia
Designed by NET-TEC Webhosting -- Made free by Trauringe | Wintergarten | Ratenkredit | ringtones