Archive for the ‘CERPEN’ Category

LELAKI DALAM JELAGA

Tuesday, August 5th, 2008

Pevieta menatap awan dan gurun pasir membentang yang menghias Gunung Bromo menjulang nan angkuh. Ia masih termangu di beranda penginapan pada hari ketiga sejak kedatangannya, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada keinginan untuk beranjak mendatangi puncak Bromo yang seolah mengejek kecengengannya. Tapi dia tak perduli. Tidak ada lagi yang diperdulikannya. Yang ada hanya keinginan memuaskan ego untuk merasa sendiri kehampaannya. Ia ingin menghilang. Setidaknya untuk beberapa waktu memungut keping hatinya yang terserak.

***

“Pevieta… Aku butuh teman bicara… punya waktu…?”

Untuk kesekian kalinya Rinova melayangkan pertanyaan itu pada Pevieta, dan untuk kesekian kali pula Pevieta tak pernah bisa menolaknya. Dia bahkan selalu menyambutnya dengan sangat senang hati.

“Kita ke café depan saja ya…”

Pevieta beranjak membenahi berkas kerja yang belum sempat dikerjakannya, disimpan di laci dengan rapi dan dikuncinya. Confidential.

“Aku tak tahan lagi Pevie… Rasanya aku ingin bunuh diri saja… Segala yang aku lakukan semuanya untuk meraihnya, untuk menjadi layak berada disisinya… Tapi kenapa dia tega sekali berbuat begini padaku Pevie… Aku ga mengerti…”

Lelaki itu mengerucut, meriut, ciut, sangat berbeda dengan pertama mereka bertemu dulu. Pertama bertemu dan berkenalan, lelaki itu begitu hebat, cerdas, kuat, penuh visi kedepan seakan tak ada yang akan mampu menggoyahkannya. Hanya karena seorang perempuan, lelaki ini berubah teramat sangat drastis. Pevieta tak tega melihatnya, ia tak ingin lelaki hebat ini hancur. Banyak hal yang lelaki ini bisa lakukan untuk dirinya dan orang sekitarnya, karena dia seorang visioner.

Pevieta tak menyela sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulut Rino, dia hanya tersenyum dengan tatapan lembutnya dan mengusap-usap punggung tangan lelaki itu. Entah bagaimana, tapi hanya dengan begitu pun Rinova bisa merasakan ketenangan, sehingga selalu mencari perempuan ini setiap lukanya yang basah kembali berdarah.

”Kemarin aku bertemu dengan Tatya di acara reuni kampus… Dia masih cantik seperti terakhir kami bertemu… Dia begitu lembut… Ah… Pevie… Kenapa dia tak menginginkanku di saat aku berusaha menjadikannya milikku seutuhnya??? Bahkan dia tidak memberiku kesempatan untuk tahu apa alasannya??? Apakah aku tidak layak untuk dirinya Pevie… Aku ga mengerti… Padahal semuanya sungguh aku rasa begitu sempurna…”

Rinova bahkan mulai terisak! Pevieta mengusap kepala Rinova penuh kasih, dengan ujung mata yang ikut berair…

”Rino…”, Katanya akhirnya.

”Jika Tatya tidak menerima pinanganmu, bukan berarti kamu yang tidak sepadan untuknya… Bukan berarti kamu tidak layak berada disisinya, mendampinginya sepanjang sisa umur kalian… Tetapi karena Tuhan memiliki rencana lain yang lebih besar bagi kalian berdua… Mungkin kalian, kamu, tidak mengerti saat ini… Namun suatu hari nanti kamu akan mengerti sepenuhnya… Jangan menyalahkan diri sendiri, tapi jangan pula terlalu menyalahkan dia… Karena aku yakin, pasti dia punya alasan yang sangat kuat melepaskan kamu yang begitu hebat…”

Pevieta tersenyum menatap dalam wajah basah dihadapannya, mengusap sejenak pipi basahnya, dan kembali berkata,

”Seperti banyak orang bilang, cinta tidak harus saling memiliki… Lanjutkan hidupmu… Jika ini bisa menjadi cambuk, perlihatkan pada dunia, pada Tatya, bahwa kamu seorang lelaki yang kuat! Kamu seorang lelaki yang layak bagi wanita manapun! Kamu adalah seorang Rinova! Seorang aktivis kampus yang visioner! Seperti yang aku kenal dulu dan selama ini… Jangan biarkan diri kamu terpuruk oleh ini semua… Karena jika begitu berarti kamu kalah…”

Pevieta menggenggam erat tangan Rinova. Mata Rinova yang sayu kelihatan agak bersinar. Dia bahkan tersenyum.

”Terima kasih Pevie… Kamu adalah sahabatku yang paling baik…”

***

”Pevie!”

Pevieta agak terlonjak ketika punggungnya ditepuk, dan disapa sebuah suara yang sangat dikenalnya. Hampir saja buku digenggamannya terjatuh.

”Rino! Ngagetin aja!”

Rinova nyengir kuda.

”Lagi nyari buku apa? Serius amat, jangan-jangan cuman nebeng baca doank belinya engga hehe…”

”Huuuu enak aja, beli donk! Aku lagi cari buku baru nih… Lagi butuh pencerahan…”

”Yahhh masih aja baca-baca buku novel, mendingan bikin cerita sendiri Non”

Pevieta mendelik, ”Eh, kan udah tahu dari dulu aku paling males baca buku sains yang penuh uraian teori ngebosenin begitu, mendingan nyari bacaan novel yang didalemnya ada nyinggung-nyinggung sains hehehhee… Waktu SMP aja aku ngerti Revolusi Perancis gara-gara baca komik Si Oscar, apa tuh judulnya aku lupa Rose of Versailles ya klo ga salah…”

”Iye… Iyeeeeee… Seterah! Eh, aku ada cerita! Kita nongkrong bentaran yuk!”

Itulah saat terakhir Rinova terlihat begitu ’hidup’, ketika berencana untuk sebuah loncatan besar bagi hidupnya bersama seorang gadis yang teramat dicintainya. Gadis yang bahkan sempat membuat Rino ’menjauh’ dari dirinya…

Kini, gadis itu, Tatya, telah membuat Rinova begitu hancur tetapi menjadi dekat kembali dengannya. Entah Pevieta harus merasa sedih ataukah bahagia…

***

”Pevie… Kemarin aku melabrak orang…”

Pevieta terbelalak. ”Siapa???”

”Tunangannya sahabat adikku…”

Pevieta mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

”Aku pernah naksir sama dia dulu, tapi adikku tak pernah izinkan aku deketin dia, namanya Raisha…”

”Hmmm…”

”Dia minta aku temenin dia ngelabrak pacarnya yang selingkuh. Padahal mereka sudah mau menikah! Cowok ini bahkan bisa sekolah karena dibiayain sama Raisha! Kurang ajar banget tu cowok! Tau ga Pe, tu cowok bahkan ngeggombalin cewek pacar barunya buat nikah juga tahun ini?! Gila ga?! Padahal kemaren jalan ma cewek ini aja dia pake mobil Raisha!!!”

Pevieta hanya menjadi pendengar bisu mengamati kegeraman Rinova saat menceritakan peristiwa itu.

”Ternyata cewek barunya ga tahu klo cowok brengsek itu udah punya tunangan, hehehhee… kena batunya dech dia, ga dapet dua-duanya. Sempet kena bonus tamparan pula dari Raisha.”

Pevieta menatap Rinova.

”Trus? Mereka bubaran?”

”Ya gitu dech, cowok brengsek begitu, siapa yang mau!”

”I see…”

”Kasian banget Raisha… Dia nangis terus sepanjang jalan… Aku bisa ngerasain, gimana sakitnya kehilangan seseorang yang sangat kita cintai… apalagi… sudah sedekat itu…”

Pevieta tergugu, lidahnya kelu tak tahu harus bicara apa. Hatinya kacau, merasakan sesuatu yang berada digenggamannya akan kembali terlucut…

”Aku rasa… Lebih baik Raisha tahu dari sekarang daripada… dia mengetahuinya setelah mereka menikah…”

Suara Pevieta akhirnya terdengar walaupun terdengar seperti mengambang di udara.

”Ya… Kamu bener. Seenggaknya Raisha punya alasan jelas mengapa harus melepas tunangannya… Ga seperti aku…”

”Hey, don’t start that again…”

Pevieta memicingkan mata kanannya menatap Rinova. Rinova tersenyum,

”Yups! Yesterday is history, tomorrow still mistery, today is a gift thats why it called present.”

Rinova tiba-tiba tercenung, tergugu diam.

”Mmmmm… Mungkinkah… Raisha adalah ’hadiah’ yang diberikan Tuhan untukku Pevie…?”

Pevieta terlengak, Jangan! Ini terlalu cepat! Teriaknya dalam hati.

”Aku tidak tahu… Mungkin saja…”

Hanya itu yang keluar dari mulut Pevieta.

***

Semakin hari semakin banyak cerita Rinova tentang Raisha. Pevieta tak tahu harus bagaimana meredam gejolak hatinya. Sampai suatu hari,

”Pevie, aku mau pergi ke Bali.”

”Berapa lama?”

”Entah… Aku ingin menyiapkan semuanya untuk masa depanku bersama Raisha… Kami sudah semakin dekat… Dan aku ingin memilikinya secepatnya…”

Pevieta terlengak, terhenyak, terhempas.

”Tidakkah ini terlalu cepat Rino… Kamu sudah benar-benar yakin…?”

”Aku tidak ingin kehilangan seseorang yang aku sayangi lagi… Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti… Yang aku tahu sekarang, aku menginginkan hidup bersamanya…”

Pevieta terduduk lesu, ingin rasanya berlari, tapi ia tak sanggup, tak pernah sanggup. Dengan seluruh keberaniannya yang ia himpun dengan susah payah akhirnya Pevieta berkata dengan gemetar.

”Aku… Aku takut akan kehilangan kamu… Entah, terserah kamu mau anggap aku apa… Tapi aku sudah tak tahan lagi Rino… Aku harus mengatakan ini semua… Aku sangat sayang sama kamu… Aku mencintai kamu, entah sejak kapan…”

Pevieta bicara dengan terbata hampir tak terdengar, bersusah payah menahan air mata yang tak pernah tumpah didepan Rinova. Dia menunduk dalam, tak berani menatap wajah Rinova.

”Ahhh… Pevie… Aku tak tahu harus bicara apa…”

Suara Rinova terdengar setelah beberapa saat mereka tergugu dalam diam.

”Kalau kamu benar-benar inginkan aku… Berdoalah… Mintalah pada Tuhan… Dialah yang tahu apa yang terbaik bagi kita…”

”Aku hanya ingin tahu, apakah kamu merasakan hal yang sama padaku Rino…”

”Aku tidak tahu Pevie… Entah sayang seperti apa yang aku punya untukmu…”

***

Dua bulan setelah kepergian Rinova, dia kembali… Dengan sebuah undangan indah berhiaskan foto Rinova dan Raisha… Mereka terlihat sangat serasi… Raisha begitu cantik… Pevieta tersenyum getir, teringat nasihatnya sendiri untuk Rinova…

Cinta tak harus memiliki… Namun tak urung, sanubarinya tetap remuk redam… Butuh waktu untuk merekatkannya kembali…

Sebuah Elegi untuk Kaumku…

Tuesday, June 3rd, 2008

Manusia hidup selalu dihadapkan pada pilihan, bahkan tidak memilih pun adalah sebuah pilihan. Pilihan menuju kebahagiaan atau terkungkung dalam penjara kepedihan. It’s your own choice…

“Aku tak suka laki-laki, maaf!” kata-kata itu meluncur tanpa beban dari bibir Diana.

Matanya menyorot tajam tepat ke mata laki-laki di hadapannya. Tatapannya semakin tajam manakala dilihatnya Ferdian tak memperlihatkan reaksi yang berarti.

Ferdian tetap tenang, bahkan senyum mengembang sedikit dari bibirnya. Matanya balas menatap, lurus menusuk. Setidaknya itu yang dirasakan Diana, hingga dia merasa jengah dan pura-pura mengalihkan pandang pada pelayan yang kebetulan lewat.

Jika saja Diana memperhatikan, dia akan melihat senyuman lelaki itu semakin melebar. Ferdian mengaduk-aduk kopinya, kemudian meneguknya sedikit seolah menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan kembali oleh perempuan di depannya.

Diana mulai gelisah, sehingga ingin segera mengakhiri pertemuan itu. Ferdian meliriknya sekilas, agaknya dia mengerti apa yang dirasakan Diana hingga dia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan.

“Tak suka laki-laki ya…? Hmm… Kalau begitu, apakah kamu menyukai perempuan?” ucapnya dengan ujung mata sengaja dia naikkan, yang tertangkap oleh Diana sebagai sebuah pelecehan.

Mukanya semburat merah karena kesal, “Aku tak suka laki-laki! Dan aku juga bukan lesbian! Kalau itu maksudmu!” seraya berdiri hendak berlalu meninggalkan lelaki di depannya karena merasa dikurang ajari.

Ferdian cepat menangkap lengannya, “Maaf, bukan maksud aku menyinggung kamu. Maaf, ya…? Duduklah, kita belum selesai berbicara…” ujarnya membujuk.

Kalau saja Ferdian bukan kolega di tempatnya bekerja, ingin rasanya Diana tak menghiraukan permintaan lelaki menyebalkan di depannya. Dengan muka gusar, Diana kembali duduk.

“Terima kasih…,” Ferdian tersenyum tulus ketika Diana kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi.

“Diy… Aku hanya ingin kamu jujur. Bilang saja bila kamu tidak menyukai aku, jangan karena ingin menolakku kamu katakan bahwa kamu tidak suka laki-laki. Apalagi kamu bilang, kamu juga bukan penyuka sesama jenis.”

Mata Ferdian menelusuri kedalaman mata kelam di depannya, seolah ingin menyelam ke dasar hati perempuan ini untuk mengetahui apa yang tersembunyi didalamnya. Diana salah tingkah ditatap sedemikian rupa.

“Yah… Sesukamulah kalau kamu menganggapnya demikian. Anggap saja aku memang tidak menyukai kamu,” jawabnya sambil membuang pandang ke arah jendela café.

Entah mengapa, Ferdian merasa ada nada miris disana, sekilas dia merasa mata kelam itu semakin kelam tersaput kabut.

“Baiklah, aku tak akan memaksamu lagi. Maaf bila aku membuatmu merasa gusar dengan pernyataanku… Hanya saja, aku benar-benar serius menyukai kamu, dan ingin menjadikan kamu sebagai istriku. Aku tidak main-main dan tak pernah main-main mengambil keputusan sebesar ini.”

Diana segera mengangkat tangannya, “Cukup, sudah cukup Fer, tolong. Aku tak mau dengar lagi, aku tak akan berubah fikiran. Sudah malam, aku harus menyiapkan bahan untuk rapat besok pagi,” ujarnya seraya merapikan kemejanya seolah bersiap untuk pergi.

Ferdian menghela nafas panjang, menebak seberapa beratkah rahasia yang tersimpan erat di satu sudut hati perempuan di depannya ini. Sehingga, sebegitu sulitnya mendobrak dinding yang melingkupi hatinya untuk dimasuki.

“Baiklah, aku juga tak ingin kamu mendapat omelan karena tak punya bahan untuk rapat kamu besok. Aku antar kamu pulang,” putus Ferdian akhirnya.

“Jangan menolak, tolong… Apakah kamu akan menolakku dua kali hanya dalam waktu kurang dari satu jam?” Ferdian cepat menukas ketika dilihatnya Diana akan membuka mulutnya untuk menolak diantarkan seperti yang selalu dia lakukan.

Matanya menyorot penuh harap, membuat Diana tak tega untuk menolak. Senyuman Ferdian sedikit mengembang ketika Diana mengangkat bahunya tanda menyerah.

Tak ada sepatah kata yang terucap sepanjang perjalanan menuju rumah Diana. Masing-masing sibuk dengan fikirannya sendiri. Mata mereka lurus menatap jalan yang tak begitu ramai. Aneh, jalanan yang tak pernah tidak macet itu seolah ikut merenungi apa yang baru saja berlaku.

Senyap dan dingin sesenyap dan sedingin hati-hati dua insan makhluk Tuhan yang saling tergugu diam meluncur dengan sebuah mobil sedan buatan Jerman membelah malam. Di ujung pertemuan, hanya kata terima kasih dan selamat malam yang meluncur dari mulut Diana tanpa senyuman. Disambut senyum kecil dan jawaban selamat malam dari Ferdian.

Tak ada basa-basi dari Diana untuk sekedar bersopan-santun mengajak Ferdian mampir sekedar minum seteguk air. Setelah menutup pintu mobil, dia melenggang masuk rumah tanpa sedikit pun berniat menengok ke belakang. Diiringi tatap mata sarat kasih dan harap untuk bisa menyayangi dan melindungi milik Ferdian.

Diana menghempaskan badan di ranjangnya yang nyaman, kepalanya terasa teramat berat. Untung saja bahan rapat sudah rampung dikerjakannya tadi di kantor, alasan yang begitu jitu untuk lari dari percakapan yang topiknya sangat dia hindari selama ini.

Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ferdian, wajah lelaki itu berkelebatan di sana. Seorang lelaki yang muncul sebagai salah satu kolega perusahaannya, yang dengan berbagai alasan berkaitan pekerjaan selalu berhasil menculik Diana untuk menemaninya makan siang atau makan malam.

Meskipun memang mereka ada membahas pekerjaan, tapi rasanya hanya sebagai intermezzo saja. Diana sudah merasa ada yang lain, hanya saja demi sopan-santun dan kepentingan perusahaan dia tak pernah bisa menolak ajakannya. Benarkah hanya demi sopan santun, ataukah karena dia selalu merasa nyaman berada di dekatnya?

Pertanyaan itu menggema di telinganya, seolah menyerukan agar dia tak lagi membohongi perasaannya sendiri. Air mata tiba-tiba saja meleleh di pipinya yang segera diusapnya dengan gusar.

“Mengapa aku harus kembali merasakan rasa ini, Tuhan…? Aku fikir sudah mematikan hatiku atas rasa ini sejak dulu, namun ternyata… dia hanya mati suri, berhibernasi, istirahat sesaat. Aku mohon, lebih baik Engkau matikan hatiku dari pada aku tersiksa seperti ini… Mengapa dia harus datang dalam hidupku…? Aku tak sanggup menyakiti hatiku dan hatinya, Tuhan…” hati Diana meraung, meradang, bayangan masa lalunya tercengkeram kuat dalam ingatan serasa baru kemarin dialaminya.

Masa lalu yang membuatnya tak berani menyusun asa, untuk masa depan seperti perempuan lainnya… Matanya terpejam, merasakan perih sekira mata pisau menyayati hatinya seiris demi seiris. Terisak diam-diam, dalam keheningan malam.

Begitu sibuk dengan kecamuk dalam otaknya, sehingga tak disadarinya ada sepasang mata sendu yang memancarkan sinar tak kalah pedihnya milik Bunda tercinta mengiringi isak diam-diam putri yang sangat dia cintai sepenuh hati.

Di sudut mata tua itu tergenang selaksa permata yang tak lama lagi pun akan tumpah membuncah… Kalau saja Tuhan mengijinkan, ingin rasanya dia saja yang menggantikan putri tercintanya mengalami tragedi yang sangat memilukan itu, tragedi yang membuat putrinya tak berani menyusun asa demi masa depannya seperti perempuan lain.

***

Hati Ferdian meracau sepanjang perjalanannya menuju pulang. Kepalanya dipenuhi bayangan perempuan itu. Diana, perempuan yang sekilas terlihat bagai gunung es, tegar, kokoh, kuat, sulit sekali untuk didaki, untuk ditaklukkan. Namun dibalik itu semua, ada hal yang tak pernah bisa dia ungkapkan, sebuah luka masa lalu mendalam yang menjadikannya begitu rapuh dan terkungkung.

Membuat perempuan itu begitu misterius baginya sehingga dia merasa menaklukkannya adalah sebuah tantangan bagi kelaki-lakiannya, bagaikan seorang matador yang lulus menaklukkan banteng.

Itu pada awalnya. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri, bahwa sekarang hatinya benar-benar tertawan, benar-benar menyayangi dan bahkan ingin memiliki perempuan itu.

Pertama kali mengenalnya, dia menganggap perempuan itu teramat angkuh sehingga merasa tak ada lelaki yang sepadan untuk bersanding atau bahkan hanya berteman dengannya. Sikap tegasnya, sikap dinginnya, sikap straight to the point-nya, sikap judesnya, sikap teramat mandirinya, semua sikapnya seolah-olah dijadikan benteng pertahanan untuk menghalau lelaki manapun untuk bahkan hanya berteman dengannya.

Sampai rekan-rekan sekantornya menjulukinya Miss Mount Everest! Senyum mengembang sedikit di bibir Ferdian mengingat itu.

Namun setelah beberapa kali pertemuan, ada yang lain ditemukannya dari perempuan ini. Beberapa kali dia merasa menangkap kelebat kabut kelam di mata perempuan itu. Awalnya dia tak yakin, karena setiap kali kelebat itu tertangkap, pada detik selanjutnya dia hanya melihat mata dingin yang sarat keangkuhan.

Mata yang berbingkai sebuah wajah yang menarik, tetapi teramat kaku dan tak pernah dihiasi senyuman. Membuatnya pernah sekali membayangkan, mungkin bila seorang anak kecil melihatnya, akan menangis karena ketakutan.

Sekali lagi sebuah senyuman membias di wajah Ferdian. Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya sekuat tenaga seolah mengusir beban yang memberati otaknya. Berfikir, begitu sulitnyakah mencintai perempuan ini?

Begitu sulitnyakah untuk menjadi seseorang yang mengiringinya menukar kenangan kelam masa lalunya dengan sebuah masa depan yang indah?

***

Sepagian ini, waktu Diana dihabiskan dihadapan cermin meja rias di kamarnya. Berusaha menyembunyikan garis hitam di bawah matanya, dan sembab bekas menangis semalaman. Dia mengutuk dirinya sendiri karena melakukan hal itu semalam dan membuatnya kesusahan sepanjang pagi ini.

Dia tak ingin semua orang menatap heran ke arah matanya dan menjadi bahan pergunjingan di toilet perempuan jika nanti dia muncul di kantor dengan mata habis perang seperti ini. Dengan putus asa, akhirnya dia menyerah mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dari tata rias penipu wajah itu.

Yah, setidaknya wajahnya sudah terlihat lebih baik. Hari ini dia memutuskan untuk memakai kaca matanya, walaupun sudah lama dia tanggalkan berganti lensa kontak. Semuanya demi menyamarkan mata yang menyebalkannya sepagian ini.

Diana bergegas menyambar tasnya untuk segera ke kantor, berpamitan pada ibunya dan menolak tawarannya untuk sarapan. Bukannya tidak menghargai jerih payah ibunya yang telah rela pagi-pagi membuatkannya sarapan, tapi waktu sudah tak mengijinkan. Jika dia tak segera pergi, mungkin dia akan terlambat sampai kantor, diikuti dengan terlambat pula mengikuti rapat.

Bila ini terjadi, akan memberikan alasan kuat lain bagi rekan-rekan sekantornya untuk heran dan menambah bahan bergunjing mengenai dirinya yang terkenal teramat sangat disiplin. Jangankan terlambat, waktu masuk kerja pun jauh dari waktunya datang ke kantor. Hanya Pak Min, cleaning service kantor yang bisa datang lebih pagi darinya.

Ibunda Diana, mengiringi kepergian putri tercintanya sampai ke depan pagar rumah sederhana nan asri itu. Dia menatap punggung anak satu-satunya yang tertinggal di rumah ini, karena anaknya yang lain sudah pergi dengan pasangan masing-masing membina rumah tangganya sendiri.

Kalaupun dulu dia tak berhasil membujuk Diana untuk menemani kesendiriannya di masa tuanya, mungkin anaknya yang ini pun sudah pergi ke luar pulau meninggalkannya. Pertanyaannya mengenai siapa yang mengantar putrinya itu tadi malam, tak sempat terlontar dari mulutnya.

Kebetulan tadi malam dia sempat melongok keluar dan mendengar sebuah mobil pergi menjauh seiring dengan kedatangan putrinya. Padahal dia sudah merangkai kata semalaman untuk merancang kalimat seperti apa dan cara seperti apa yang tak akan membuat anaknya gusar atau pun tersinggung ketika mendengar pertanyaannya.

Sebenarnya, dia ingin segera menanyakannya tadi malam ketika dilihatnya putrinya muncul dibalik pintu. Namun dia urungkan segera demi melihat raut muka anaknya yang berlipat sedemikian rupa. Dia hanya mampu menjawab “belum mengantuk” ketika anaknya bertanya karena mendapati ibunya belum tidur.

Tak ada lagi percakapan lainnya setelah itu, karena Diana langsung masuk, mendekam dikamarnya dan tak keluar lagi. Ketika dia mengikuti anaknya ke kamar karena penasaran, demi melihat anaknya terisak di atas tempat tidur, dia tak berani mengusik. Dia berharap, nanti malam kepenasarannya bisa terpuaskan.

***

Ferdian keluar dari mobilnya, dan memasuki rumah sederhana nan asri itu. Sudah sebulan ini, dia memiliki kegiatan rutin lain saat makan siang tiba atau sepulang kerja seperti sekarang ini. Mengunjungi Ibunya Diana! Sejak dia mengetahui tempat tinggal Diana, Ferdian sengaja sering mendatangi rumah itu untuk sekedar lebih mengenal Diana lewat cerita ibunya.

Sebenarnya, awalnya dia tidak sengaja menyelidiki. Ketika itu, Ferdian bertandang untuk bertemu Diana tentunya, namun yang dicari sedang tak ada di rumah. Jadilah dia ditemani ibunya yang menyambutnya dengan ramah dan menyenangkan, membuatnya kecanduan untuk melakukan pertemuan selanjutnya tanpa pernah bertemu Diana.

Hari itu, Ferdian bertandang dengan membawa sekedar buah tangan, kebetulan dia baru pulang tugas dari luar kota. Ibunda Diana menyambut kedatangan Ferdian dengan suka hati, dia sudah benar-benar kepincut pada Ferdian.

Pembawaannya yang kalem, bersahaja dan dewasa membuatnya sangat berharap agar pemuda ini bisa benar-benar menjadi menantunya. Ketertarikan Ferdian pada putrinya bisa dia rasakan dari setiap kata yang diucapkan pemuda itu mengenainya.

Matanya selalu memancar binar cinta setiap kali bicara, dan mendengarkan semua ceritanya dengan sangat antusias. Walau Ferdian pernah menyinggung soal luka masa lalu Diana, tapi ibunya tak bercerita seterbuka itu. Dia masih menghargai privacy anaknya. Dia berfikir, biarlah Diana sendiri yang bercerita semuanya bila memang sudah waktunya.

Mereka bicara ngalor-ngidul sesorean hingga malam, mengenai perjalanan Ferdian ke luar kota, anggrek-anggrek kesayangan Ibunda Diana, hingga masakan kesukaan Ferdian yang sengaja Ibunda Diana buatkan ketika tadi Ferdian menelpon memberitahunya akan datang.

Ferdian sangat senang atas perlakuan Ibunda Diana, serasa menjadi pengobat rasa rindunya pada mamanya sendiri di kampung halaman. Ibunda Diana memaksanya menemani makan malam, karena Diana lembur hari itu dan pasti pulangnya larut tak sempat makan malam di rumah.

Ferdian tak berani menolak melihat pancar mata penuh harap dan sedikit kesedihan dimata perempuan setengah baya itu ketika mengatakan anaknya tak pulang untuk menemaninya makan malam.

Dia menyantap makanan kesukaannya dengan lahap ketika sekonyong-konyong suara sepatu wanita memasuki ruang makan.

Serentak Ibunda Diana dan Ferdian menengok ke arah suara. Berdiri di ambang pintu, Diana dengan pancaran mata tajam dan rasa tak suka yang tak sedikitpun berniat dia samarkan. Mukanya memerah, tapi tak sepatah pun kata terucap dari bibirnya yang terkatup amat rapat.

Menyadari kehadirannya membuat gusar Diana, Ferdian segera menyudahi makan malamnya, meletakkan sendoknya dan meminum seteguk air.

“Selamat malam,” katanya sambil berdiri dan tersenyum samar ke arah Diana. Yang diberi salam tak menjawab sepatah kata pun, hanya sorot mata penuh tanya dan kebencian yang membuncah seakan berjuta mata pisau yang siap ditancapkan di dada sang pemuda.

Ibunda Diana menyadari suasana tegang itu, dan segera berinisiatif untuk menjadi penengah.

“Sudah pulang sayang, tak jadi lembur? Mari makan malam sekalian, pasti kamu belum makan kan?”

Suaranya lembut membujuk. Kini sorot mata Diana beralih kepada ibundanya, penuh tanda tanya dan ketidak percayaan karena merasa dikhianati.

“Tidak Bunda, Diana sudah makan tadi sebelum pulang.” Akhirnya keluar juga suaranya walau agak bergetar. Kemudian sorot matanya beralih kembali pada Ferdian yang juga sedang menatapnya.

“Aku harus bicara denganmu!” Katanya sambil berjalan ke teras halaman belakang.

Ferdian berfikir, mungkin inilah saatnya. Sekarang atau tidak selamanya. Dia berjalan mengikuti langkah kaki Diana, menggenggam tangan Ibunda Diana dan mengatakan,

“Doakan semuanya akan baik-baik Bunda,” ketika melalui perempuan itu yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Ibunda Diana tersenyum, seakan menjawab “Tentu saja, calon menantuku. Semoga engkau bisa menaklukkan hati anakku…”

“Apa yang kamu lakukan di rumahku?! Dan dengan ibuku?!” Diana tak menunggu Ferdian sampai duduk nyaman di kursi teras.

Diana duduk tegak dan angkuh, menyorotkan mata penuh tuduhan. Ferdian menempatkan pantatnya sampai merasa nyaman sebelum menjawab pertanyaan Diana.

“Aku hanya bersilaturahmi dengan Bunda,” katanya singkat menatap balik mata Diana lurus namun lembut dan penuh percaya diri.

“Apakah salah?” lanjutnya. Diana jengah ditatap lurus-lurus begitu, pipinya semburat merah.

Dia sangat benci dirinya karena merasa seperti itu, juga karena sekilas dilihatnya senyum senang pemuda itu melihat kelakuannya.

“Kamu pasti memiliki maksud tertentu dengan datang ke mari dan bertemu ibuku tanpa sepengetahuan aku pula! Apa hakmu melakukan itu?!” Diana mulai meradang lagi setelah percaya dirinya sedikit pulih.

Ferdian tak segera menjawab, malah meneliti wajah perempuan di depannya. Berharap perempuan itu akan salah tingkah seperti tadi, dan membuatnya senang hati merasa bahwa perempuan yang dicintainya merasakan hal yang sama walaupun dengan keras kepala tak mau mengakuinya.

Tapi Diana sudah mulai membentengi hatinya kembali, kali ini dia bertekad untuk tidak mau kalah. Ditentangnya tatapan Ferdian dengan tatapan angkuh walau hatinya berdegup semakin kencang setiap detiknya. Ferdian tersenyum penuh arti akhirnya menjawab,

“Awalnya aku memang berniat bertemu kamu. Tapi waktu itu kamu sedang tidak di rumah. Selanjutnya, aku kemari bukan untuk menemui kamu, tetapi ibumu. Ini rumahnya, dan aku sudah mendapat ijinnya datang kemari. Apakah semua tamu ibumu harus meminta restu darimu juga?”

Ferdian mengucapkannya dengan tenang sambil memainkan alis dan matanya dengan jenaka seolah pertanyaan yang dilontarkan Diana itu tak masuk akal dan kekanak-kanakkan. Muka Diana kembali memerah mendengar jawaban Ferdian.

“Bukan begitu, tapi kamu kan temanku… seharusnya… apakah kamu memata-mataiku?!” Diana berkata-kata tanpa redaksi yang jelas.

Fikirannya berkecamuk tak tentu arah karena marah dan bingung takut salah bicara dan dianggap ge-er. Ferdian tersenyum mendengar pertanyaan Diana,

“Mengapa aku harus memata-mataimu?” seraya mengerjapkan matanya menggoda.

Mata Diana membelalak marah, “Hey! You tell me! Kamu yang tiba-tiba berada dirumahku, berbincang dengan ibuku! Jangan dikira aku perempuan bodoh yang percaya semua omong kosongmu bahwa kamu bertandang tanpa ada tujuan khusus kecuali bertemu ibuku! Aku tahu pasti kamu ingin mengetahui sesuatu tentang diriku! Benar begitu bukan?! Apa yang kau ingin ketahui mengenai aku?! Tanya langsung padaku sekarang! Jangan seperti orang pengecut diam-diam menyelidikiku!!”

Napas Diana tersengal setelah memuntahkan begitu banyak kata penuh kemurkaan. Ferdian tertegun tak menyangka gadis didepannya ini bisa berkata sesadis itu, mengatainya pengecut. Hampir saja dia meledak juga, tapi untungnya dia masih bisa menguasai diri.

Dengan sorot mata tajam dia tatap lurus-lurus mata Diana,

“Baiklah, kamu benar. Aku memang ingin tahu semua tentang dirimu, sebagai seseorang yang ingin aku persunting. Tak perlu pura-pura tidak tahu karena aku sudah mengungkapkannya padamu sebulan yang lalu. Benar juga aku ingin tahu apa yang menyebabkan kamu begitu mati-matian tak ingin hidup berdampingan dengan seorang suami. Aku pernah menanyakannya padamu waktu itu dan kamu tak mau menjelaskannya padaku, makanya aku mencoba mencari tahu sendiri. Sekarang, mumpung kamu sudah mengatakan bahwa aku harus menanyakan semuanya padamu, baik….”

Ferdian menghela nafas sebentar, dan mengamati perubahan wajah Diana yang sedikit memucat. Diana menyadari semuanya harus dibuka saat ini, dan dia harus sudah siap menerima semua konsekuensinya, yang terburuk sekalipun.

Kehilangan lagi seorang lelaki yang dia cintai…

Ditengah kekalutannya menata hati, suara Ferdian menghentakkannya kembali ke alam sadar.

“Aku tanyakan sekarang langsung padamu, kamu hanya perlu menjawabnya dengan jujur. Entah aku overestimate atau apa, tapi aku bisa merasakan kamu pun tertarik padaku. Masalahnya, kamu tak mau mengakuinya. Ada sesuatu hal yang aku tak tahu yang menyebabkan kamu berlaku seperti ini, dan aku ingin tahu apa itu. Beri aku kesempatan menentukan jalan hidupku, jangan terlalu egois menganggap bahwa aku tak pantas memilikimu karena masalah itu. Katakan padaku jawabannya sekarang, biarkan aku memutuskan apa yang aku pilih…” suara Ferdian terdengar melembut namun tegas.

Dia tahu sungguh sulit dan berat bagi Diana mengatakan semuanya. Dia tak ingin menekan Diana hingga ke sudut bagai tikus yang kepergok mencuri ikan. Ferdian mengulas sebuah senyuman, seolah memberi kekuatan kepada Diana.

“Tak apa-apa, katakan semuanya… Beri aku kesempatan…” katanya menganggukkan kepalanya dan menatap lurus mata Diana dengan penuh kelembutan.

Disudut lain, Ibunda Diana berdoa sambil menitikan airmatanya. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk puterinya, dan tidak membiarkannya terpuruk lagi bila Ferdian bukan seseorang yang ditunjuk Tuhan untuk mendampinginya.

Diana menghela nafas panjang, dan melepaskannya sekaligus seolah membuang kegundahan yang dirasainya menyesakkan dada.

“Baik… Aku akan ceritakan semuanya. Bila kau benar-benar ingin mengetahuinya…” Dia berdiam sejenak, menerawang, mencoba mengumpulkan potongan-potongan masa lalu yang sekuat tenaga coba dia enyahkan.

“Kejadiannya sudah lama sekali… Ketika aku masih kelas dua SMA… Aku,… divonis menderita kanker ovarium…”

Diana tak berani menatap Ferdian, atau dia tak akan bisa melanjutkan seluruh ceritanya. Ferdian serasa tersengat ribuan volt listrik, tak mengatakan apa-apa mencoba mencerna apa yang telah dikatakan Diana dan tak berani menebak apa yang akan dikatakan Diana selanjutnya.

“Dokter saat itu mengatakan bahwa ovariumku harus diangkat, dua-duanya, karena sudah parah… Bila tidak, kanker itu akan menyebar ke organ dalamku yang lain… Aku tak bisa memutuskan lain… Akibatnya, aku tak akan bisa memiliki keturunan seumur hidupku…”

Diana tersenyum diantara lelehan airmata, dan memberanikan diri menoleh ke wajah Ferdian. Lelaki didepannya tergugu, tak mengatakan apa-apa, hanya kengerian jelas terpancar di raut wajahnya. Diana memalingkan mukanya, merasa bahwa ketakutannya bukan hanya semata ketakutan. Dia akan benar-benar kehilangan lagi…

“Kurasa, itu saja yang bisa aku katakan… Jangan katakan apapun sekarang, dan aku yakin kamu pun tak punya kata untuk mengungkapkan perasaanmu saat ini…”

Diana menatap lelaki didepannya lekat, “Di… Aku…” Ferdian mencoba membuka mulutnya dan menggapai tangan Diana, membuat Diana kaget tak menyangka.

Tubuhnya mengejang sesaat menerima remasan tangan Ferdian, dengan cepat dia mengenyahkan harapan yang tiba-tiba merasuk jiwanya.

“Pulanglah sekarang… Tolong, jangan katakan apapun sekarang… Pulanglah…Jika kamu sudah mempunyai jawaban berdasarkan fikiranmu yang jernih, kamu boleh kembali”

Diana mencoba menarik tangannya, namun genggaman tangan Ferdian begitu kuat seolah tak rela melepaskannya. Diana menatap Ferdian penuh permohonan. Akhirnya Ferdian mengalah, dia lepaskan genggamannya dan membiarkan tangan itu ditarik oleh pemiliknya.

“Sekarang pulanglah… Kamu boleh kembali kapan saja bila sudah memiliki jawabannya. Kamu juga boleh menghilang begitu saja dari hidupku bila tak sanggup mengatakan kebenaran dihatimu…” Diana memberi seulas senyum, getir. Mencabik-cabik hati Ferdian dan Ibunda Diana di sudut lain.

***

Seorang gadis kecil berusia sekira 3 tahun berlari-lari menuju halaman demi didengarnya deru mobil yang teramat dikenalnya.

“Papa pulang! Papa pulang!” Teriaknya menyambut lelaki yang turun dari mobil. Seorang lelaki tegap yang menyambut tubuh kecil itu untuk direngkuh dalam pelukannya.

“Sasqy sedang makan ya sayang? Kok makan sambil lari-lari? Engga baik itu, kalau makan itu mesti duduk yang manis yaaaa?” Katanya lembut sambil berkali-kali mencium pipi montok gadis kecil itu.

Sasqy, demikian gadis kecil itu dipanggil, tertawa-tawa kegelian karena pipi dan dagu lelaki itu yang kasar oleh cambang.

“Iya Ayah, Sasqy tadi juga makannya duduk sama Bunda. Tapi Sasqy dengar Ayah pulang makanya Sasqy lari keluar…,” katanya manja.

“Tuuuh kan, Bunda bilang juga apa, ga baik kan makan sambil lari-lari…” Sesosok perempuan muda sudah berdiri menatap penuh cinta kedua orang yang sangat dia sayangi bercengkerama berdua.

Ya, Ferdian telah memutuskan untuk tetap mengikuti hati nuraninya setelah bergelut berminggu-minggu dengan ego orang tuanya. Namun, Tuhan memang Maha Adil, tak disangka-sangka ternyata Diana bisa hamil hanya dalam waktu sebulan setelah pernikahan mereka.

Dokter mengatakan, bahwa ovarium kanan Diana tak diangkat seluruhnya. Organ yang tersisa itu ternyata masih mampu memproduksi sel telur untuk dibuahi. Manusia memang kadang kala terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Padahal apa yang akan terjadi di depan adalah sepenuhnya kekuasaan Tuhan…

Dear Diary… Kurasa Cinta Itu Tidak Buta

Tuesday, June 3rd, 2008

11 Januari 2006

Dy, hari ini aku berkenalan dengan seseorang, namanya Ray. Kami bertemu di internet, dikenalkan seorang rekanku sekerja. Dia lumayan, agak sedikit kaku bila berbicara, mungkin karena kami baru ”bertemu”.

Aku tidak menganggapnya istimewa, lagipula kami baru saja berkenalan. Walaupun aku tahu, temanku mempunyai maksud mencomblangiku dengan lelaki ini.

15 Januari 2006

Hampir setiap hari Ray menyapaku lewat chat, walaupun hanya sebuah kata ”halo”. Aku senang memiliki teman bicara di sela pekerjaanku yang semakin menumpuk saja. Ray seperti sebuah iklan di tengah film horor yang memacu adrenalin.

25 Januari 2006

Agak lama aku tak menyapamu ya Dy? Pekerjaanku sedikit hectic, aku tak memiliki energi untuk menulis sedikit. Lagi pula tak ada yang terlalu istimewa.

Ray… mmm… dia masih rajin menyapaku. Bahkan selalu menanyakan keberadaanku bila aku sehari saja tidak online pada temanku. Rasanya… Ada gelagat ”berbeda” darinya… Apakah dia ada ”sesuatu” padaku?

10 Februari 2006

Dy, dua minggu ini Ray curhat mengenai pekerjaannya. Katanya, dia merasa bukan berada di ”dunianya”. Dia bercerita bagaimana dia harus ”terjerumus” di bidang yang sekarang digelutinya.

Katanya, dia terpaksa memilih bidang IT karena paksaan orang tuanya. Ray lebih tertarik pada bidang elektro, namun ayahnya tak pernah mengijinkannya. Bahkan, dia tidak diizinkan kuliah dulu selepas SMA, hanya karena dia bersikeras ingin masuk jurusan yang benar-benar dia minati. Ayahnya tak bersedia mengeluarkan biaya kuliah bila dia tak memasuki bidang IT.

Dia sampai harus menganggur setahun untuk tidak kuliah, menanti kemungkinan ayahnya akan luluh dan mengijinkannya masuk jurusan elektro. Namun ternyata tidak, ayahnya terlalu tangguh, atau egois? Entah…

Aku bisa mengerti alasan orang tuanya yang mengatakan bahwa bidang IT tak kan ”habis” dimakan zaman. Dunia modern akan selalu membutuhkan pakar IT, apalagi dengan ketergantungan manusia pada bidang komputer ini yang semakin besar saja.

Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Ray, yang ingin mempertahankan idealismenya. Toh, sebuah bidang tidak akan bisa diselami secara maksimal bila yang mendalaminya tak ada minat sedikit pun pada bidang tersebut. Terus terang, ada rasa iba padanya yang harus terkungkung oleh keegoisan orang tua.

28 Februari 2006

Dy, rasanya tak ada hari tanpa Ray ya? Aku harap kamu tak akan bosan mendengar cerita-ceritaku ya Dy…

Hari ini Ray memberiku fotonya… Aku tak memintanya. Mungkin, dia ingin aku lebih mengenalnya… Entahlah…

Dia memintaku mengirimkan foto-fotoku juga, walaupun aku sudah memajangnya di Y!M. Katanya, fotoku disitu kecil sekali, dia tak bisa melihatku jelas. Aku mengirimkannya beberapa foto, dia bilang aku lumayan, manis. Aku hanya tersenyum menanggapinya, dan berkata,

”Hati-hati, foto bisa menipu. Orang jelek pun bisa kelihatan cantik dengan sedikit ’koreksi’”.

Btw, dia lumayan juga…

13 Maret 2006

Ray bercerita tentang seorang perempuan hari ini Dy… Katanya, dia selalu bertemu perempuan ini di kereta dalam perjalanannya menuju dan pulang kantor. Kebetulan mereka sejurusan.

Dia bilang perempuan ini cantik, dan memperlihatkan “perasaan khusus” padanya. Aku sedikit berfikir, apa maksud Ray bercerita mengenai perempuan ini padaku? Mencoba membuatku cemburukah? Mengetes reaksikukah? Atau hanya curhat biasa seperti yang selalu dia lakukan?

16 Maret 2006

Masih mengenai perempuan itu Dy… Ray bilang dia sedikit jengkel dengan perempuan itu. Ternyata dia makin ekstrim memamerkan perasaannya. Katanya, perempuan itu selalu berusaha memonopolinya dari teman perempuan lainnya. Perempuan ini selalu kelihatan tidak suka secara terbuka ketika Ray berbicara dengan teman perempuannya yang lain. Padahal teman yang diajak bicara Ray sudah menikah, bahkan sedang mengandung!

Aku bertanya kepadanya, kenapa harus jengkel pada perempuan itu? Bukannya dia bilang perempuan itu cantik? Kenapa tidak sekalian saja mendekatinya? Kan lumayan, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui hehehhee…

Dia bilang, memang perempuan itu cantik. Tapi cara dia berbicara, dia tidak menyukainya. Perempuan itu terlalu “tinggi”. Selalu menceritakan ini dan itu yang seolah memperlihatkan bahwa dia “lebih” dari orang lain. Lagi pula perempuan ini ternyata sudah memiliki kekasih!

Mulai menarik ya Dy? :wink:

23 Maret 2006

Hari ini Ray meminta no teleponku. Dia bahkan memintaku membeli sebuah HP CDMA agar kami mudah “berhubungan”. Aku tak langsung menyanggupinya, dan mengatakan aku belum terlalu membutuhkannya.

1 April 2006

Akhirnya aku membeli sebuah HP CDMA juga Dy… Kami mulai rajin bertelepon. Tapi aku tak pernah meneleponnya duluan. Aku hanya meneleponnya bila dia minta, atau bila telepon kami tiba-tiba terputus. Kami makin terasa dekat saja….

Oya, cerita mengenai perempuan itu sudah berakhir. Katanya, perempuan itu yang menjauh darinya.

13 April 2006

Dy, kemarin dia bilang suka padaku… Sebenarnya dari beberapa waktu lalu dia sudah menyiratkan itu, tapi tidak sampai eksplisit mengatakannya. Kemarin, dia benar-benar melakukannya. Aku tak terlalu kaget, aku hanya mengatakan padanya jangan terburu-buru menyimpulkan perasaan itu. Bertemu muka pun kami belum pernah, mana ada cinta seperti itu? Terus terang saja aku tak bisa meyakini kesungguhannya.

Dia bilang, dia juga belum meyakininya seratus persen, namun bila nanti kami bertemu dan benar-benar merasa cocok, dia ingin menjalani segalanya dengan serius. Dia bilang sudah jemu luntang-lantung membujang seperti ini terus.

Aku bilang, kita memang harus bertemu. Dan jangan katakan tentang hubungan yang lebih jauh sebelum kami bertemu. Dan kami membuat janji bertemu minggu depan.

27 April 2006

Kami batal bertemu Dy… Dia ada pameran akhir pekan kemarin… Aku kecewa tapi juga lega… Aku merasa ada sedikit takut bertemu dengannya… Atau banyak?

Aku takut dia tidak menyukaiku… Aku takut dia membayangkan lebih mengenai diriku… Aku takut, aku tak seperti khayalannya….

Sebenarnya aku bisa saja menemuinya di pameran itu, memberinya kejutan, tiba-tiba muncul dihadapannya. Tapi ternyata aku belum siap… (menghela nafas berat).

30 April 2006

Tak terasa aku dan Ray sudah lebih dari tiga bulan menjalani hubungan yang tak jelas ini. Pacaran bukan, teman… rasanya lebih dari itu. Ah, apalah namanya ini aku tak perduli.

Hari ini aku menodongnya bercerita mengenai pacar-pacarnya. Dia bercerita pernah memiliki sebuah cinta pertama yang sangat indah. Perempuan itu adalah teman kuliahnya. Katanya sih, banyak teman lelaki yang menyukai gadis ini. Karena selain pintar, gadis ini juga lembut dan manis.

Awalnya dia tidak terlalu kenal dengan gadis ini, bahkan mengobrol pun jarang. Waktunya habis untuk bekerja dan kuliah, tak sempat memikirkan hal seperti itu. Suatu hari mereka bertemu dalam bus kota menuju kampus, dan mereka mengobrol sepanjang jalan. Ternyata gadis itu cukup menyenangkan sebagai teman bicara.

Entah mengapa, setelah itu, Si Gadis selalu Ray temui di halte yang sama padahal biasanya dia memakai sepeda motor ke kampus. Mereka pun semakin dekat hari demi hari, sampai kemudian mereka berpacaran.

Namun sayang, ternyata orang tua gadis itu tak menyetujui hubungan mereka berdua, dan sekarang gadis itu telah menikah dengan lelaki lain. Katanya mereka putus baik-baik. Bahkan Ray datang ke pesta pernikahan gadis itu. Hmmm…

14 Mei 2006

Dy… Ray bercerita mengenai orang tuanya baru saja di telepon. Hampir satu jam, bahkan mungkin lebih kami berbicara.

Orang tua Ray bercerai ketika dia dan adiknya masih kecil… Ibunya pulang ke Jawa, ayahnya bertugas di Bali, sedangkan dia yang masih SD ditinggal hidup sendiri di pinggiran Jakarta bersama seorang adik perempuannya! Ya Tuhan, adakah orang tua yang sebegitu teganya terhadap anak-anaknya???

Katanya, bertahun-tahun dia hidup seperti itu. Berlaku menjadi orang tua bagi adiknya yang masih kecil, sedangkan dia sendiri pun belum dewasa. Terus terang aku sangat terenyuh, tenggorokanku tercekat tak tahu harus berkata apa… Dia bercerita dengan suara yang lirih seolah memendam pedih yang dalam dan tak pernah tercurah pada siapa pun sebelumnya.

Ingin rasanya aku merengkuhnya, memberikan sebuah bisikan bahwa dia lelaki yang hebat. Bisa menjadi seseorang seperti dia saat ini. Di akhir ceritanya dia berkata, dia berjanji pada dirinya sendiri tak ingin berakhir seperti orang tuanya bila kelak dia berumah tangga… Aku hanya mengaminkannya, dan berdoa semoga apa yang diharapkannya bisa terkabul.

Ayahnya kini sudah menikah lagi, dan dari ceritanya, aku merasakan bahwa hubungannya dengan ibu tirinya cukup baik. Aku berharap mereka semua akan selalu baik-baik saja… Amin…

29 Mei 2006

Aku senang sekali Dy! Kantorku sebentar lagi akan berwisata ke luar pulau! Yeeee!! Ini pertama kalinya aku akan naik pesawat! Haha norak sekali yah?

Okay, back to Ray. Kami janjian bertemu (lagi), untuk kesekian kalinya. Kali ini rasanya aku sudah semakin mantap. Aku pasrah, apapun yang akan terjadi nanti, tentunya itu yang terbaik. Ray bilang, dia sedang dalam penggemukan badan dua minggu terakhir ini hihihii… Dia ingin terlihat ”bagus” ketika bertemu denganku nanti agar tidak mengecewakan. Aku hanya tertawa saja.

17 Mei 2006

Hari ini akhirnya kami bertemu Dy! Kami janjian di sebuah mall. Aku sudah berdandan secantik mungkin, biarpun rasanya tak akan berubah banyak dari aslinya… Yaaaa setidaknya aku sudah berusaha… Sebelum berangkat aku menghela nafas panjang, rasanya jantungku berdegup begitu kencang menanti pertemuan ini. Ya ampun, blind date sepertinya sangat tidak disarankan bagi seorang penderita penyakit jantung.

Ketika aku baru saja sampai di Mall, HP ku berbunyi. Dia bertanya aku sampai dimana, aku jawab sudah sampai dan sedang menuju ke sana. Dia bilang, menunggu di sebuah kios didepan SMA dekat Mall. Aku pun menuju ke sana. SMA nya ketemu, tapi dia dimana aku tak melihatnya. Atau tak mengenalinya?

Ketika aku mencoba menelponnya, sebuah suara memanggil namaku dari arah belakang. Seorang lelaki melambai ke arahku seraya tersenyum.

Kakiku serasa melayang ketika mendekatinya, semoga saja mukaku tidak seperti orang sekarat karena takut dan malu. Ini blind date pertamaku (mungkin juga yang terakhir). Blind date tak cocok untuk kesehatan jantungku.

Hmmm… Dia lumayan, mungkin sedikit kurus, tapi tampangnya lumayan… Kami mengobrol sebentar di sebuah warung, dia menawariku makan. Tapi aku jawab masih kenyang, padahal aku belum makan apapun hahaha… Entah mengapa, perutku tak bisa dimasuki apapun bila aku tegang begini. Kami minum teh botol sebelum kemudian dia membawaku ke rumahnya dengan motornya. Wow… Aku mau dibawa kerumahnya… Katanya dia ingin aku bertemu adiknya… Aku berfikir tentu orangtuanya juga ada di rumah… Hmmm… In the first date?

Aku menurut saja, ketika dia memberikan sebuah helm untuk dipakai, tapi menolak ketika dia menawarkan jaket. Aku bilang tak apa-apa, dan dia tak memaksa walaupun dia berkata akan banyak angin bila berkendaraan dengan motor.

Sampai di Serpong, kami menuju sebuah rumah makan. Begonya, saking gugupnya aku tak bisa membuka tali helm yang kupakai. Hingga harus memintanya membukakan kaitnya. Kulihat tangannya sedikit gemetar, aku tersenyum dalam hati.

Dari rumah makan kami menuju ke rumahnya, di sebuah kompleks perumahan bagi pegawai di lembaga penelitian milik pemerintah. Tempatnya sangat asri, dengan pepohonan yang begitu hijau dan rimbun. Benar saja, dirumahnya telah menunggu ibunya. Bahkan ayahnya yang sedang bekerja pun, tengah hari tiba-tiba datang!

Aku mengobrol ringan dengan mereka, mereka banyak bertanya tentang keluarga dan tempat tinggalku. Orang tuanya ramah, bahkan ayahnya mengundangku ke sana hari minggu kapan-kapan biar bisa bakar ikan dari kolam belakang rumahnya.

Ayahnya sebentar kemudian pamit kembali ke kantor. Aku bertanya pada Ray, apakah dia yang meminta ayahnya pulang untuk menemuiku? Dia katakan, ayahnya memang suka pulang untuk makan siang. Well, okay…

Setelah menonton tivi sebentar, Ray bilang bosan dan mengajakku menonton film di Mall dekat-dekat situ. Aku menurut. Kami menonton film Transformer. Sampai menjelang malam kami baru kembali ke Jakarta. Ray menanyakan jalan menuju tempat tinggalku, karena dia tidak pernah bawa motor sampai ke Jakarta. Aku bilang tak usah, biar aku naik bis atau taksi saja. Aku takut dia kemalaman sampai di rumah.

Kami mengakhiri pertemuan itu dengan makan malam di sebuah warung nasi goreng, dan berpisah setelah Ray mengantarku menuju sebuah taksi. Sebenarnya aku sedikit khawatir, karena tadi ketika mengantarku, rantai motornya agak sedikit bermasalah. Makanya setelah sampai di rumah aku mencoba menelponnya, tetapi tidak di angkat. Pastinya dia masih dalam perjalanan, lalu aku mengirimkan sms agar dia memberitahuku bila telah sampai.

Beberapa menit kemudian HP ku berbunyi, dia mengabarkan sudah sampai dengan selamat. Aku lega, dan tidur lelap dengan sebuah senyuman…

18 Mei 2006

Dy… Ray tak bisa dihubungi… Telepon tidak diangkat, sms pun tidak dijawab… Ada apa ya…

19 Mei 2006

Dy… Hari ini akhirnya aku berhasil menelepon Ray, tapi cara bicaranya… Sungguh sangat berbeda… Rasanya dia tidak seantusias dulu… Ada apa Ray? Apakah hatimu berubah setelah pertemuan itu? Dy, aku merasa ketakutanku akan segera menjadi kenyataan…

Biarlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah…

20 Mei 2006

Aku mengiriminya sebuah email sebelum berangkat berlibur, untuk berpamitan. Aku juga bertanya, ada apa dengan dirinya… Mengapa aku merasa bahwa dia berubah… Aku meminta dia untuk jujur mengatakan semua yang dia rasakan. Bagiku kebenaran itu walaupun pahit, lebih berarti dari pada sebuah kepura-puraan atau digantung tanpa jawaban yang jelas. Aku harap ketika aku kembali nanti aku akan mendapat jawabannya Dy…

22 Mei 2006

Aku bergembira dengan liburan ini Dy, tapi rasanya hatiku tak sepenuhnya disana… Hatiku terus bertanya ada apa dengan Ray… Apa yang salah dengan kami, atau dengan aku?

Tengah malam sebuah sms membangunkan tidurku yang tidak lelap. Sms dari Ray, yang menghancurkan seluruh sisa liburanku… Dia mengatakan dia tak bisa tidur nyenyak sebelum mengatakan semuanya padaku, bahwa dia tidak bisa menyayangiku, dan dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia tidak bisa mencintaiku. Dia meminta maaf, dan berharap bisa bertemu bila nanti aku kembali dan ingin mengatakannya secara langsung.

Aku menahan pedih dihatiku, dan menahan lelehan air mata yang hampir tumpah. Dengan jari bergetar aku menjawab sms beruntun dari Ray dengan hanya sebuah sms : Tidak apa-apa, terima kasih sudah mengatakan dengan jujur semuanya. Tak ada yang harus dimaafkan, tidurlah dengan nyenyak. Bahkan aku menambahkan ikon senyuman untuknya.

Ya Tuhan… Ternyata hatiku tetap pedih walaupun aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi…

Esok paginya, aku berjalan menyusuri pantai Kuta sendirian… Berdiri menyongsong ombak, berharap pedih dihatiku akan tersaput olehnya dan terbawa hingga ke tengah lautan sana…Tapi ternyata tidak bisa, hatiku tetap terkoyak… Aku tak mengerti semuanya, aku tak mengerti apa yang salah… Aku hanya membutuhkan sebuah jawaban untuk mengapa…

Cinta ternyata tidak buta… Cinta masih mengedepankan penampilan fisik untuk bisa tumbuh… Cinta tanpa kehadiran fisik adalah semu…

(Persembahan bagi seseorang yang berhutang jawaban untuk sebuah kata ”mengapa”…)

Sepenggal Akhir Cerita

Monday, May 19th, 2008

Aku berjalan menuju pintu keluar airport. Kakiku serasa melayang, jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat deras menggenggam erat handle travelling bag-ku. Kacamata hitam bertengger di wajahku, menyembunyikan sepasang mata gelisah yang mencari sosok yang kukenal.

 

Akankah dia benar-benar datang? Hatiku membatin.

 

Biarpun aku sudah siap menghadapi hal terburuk bahwa aku hanya akan mengejar angin, menemui sebuah ruang hampa di negeri yang jauh ini, namun tak urung ada sedikit harap, ada sedikit asa, kau akan muncul dengan bijaksana. Sekali aku menghela nafas paling dalam, berharap dengan begitu bebanku akan sedikit berkurang.

 

Banyak sekali manusia, sosok mereka pun hampir semua sama. Aku hanya berdiri tertegun. Tak perduli orang melaluiku dengan tergesa, bahkan ada yang menyenggolkan tubuhnya dan melirikku kesal. Entah berapa lama aku mematung, hingga keadaan di sekelilingku mulai agak lengang.

 

Sesosok lelaki berkemeja panjang abu-abu dengan celana kain warna hitam menghampiriku dengan senyum lembut. Aku hanya menatapinya mendekat dengan hati semakin bergejolak. Rambutnya rapi dengan warna sedikit cokelat, kacamata bertengger di hidung tingginya membingkai mata tajam namun lembut, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman.

 

”Assalaamu’alaikum,” lelaki kurus tinggi itu tiba di depanku. Aku masih tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja mataku berlomba-lomba mengeluarkan bongkahan kristal bertubi-tubi.

 

”Oh Dear, come here…,” sekonyong-konyong lelaki itu mendekat dan meraih kepalaku, tubuhku, ke dalam pelukannya.

 

”Nice to meet you, wa’alaikum salaam…,” suaraku terdengar parau disela isak. Kurasakan dekapannya semakin erat, tangannya mengusapi kepalaku. Setelah beberapa saat, dia membimbingku ke luar airport menuju sebuah taksi. Dia berbicara sejenak dengan sopir taksinya dalam bahasa urdu, sebelum kemudian meluncur membelah jalan raya Karachi.

 

“Take off ur glasses dear… I have said that you got something beautiful in your eyes, don’t hide it.” Dia mengulurkan tangannya mencopot kacamata hitamku, menatap mataku dalam, seraya mengusap airmata yang masih saja menetes. Aku benci diriku yang seperti ini, terlalu melankolis!

 

“I didn’t think that you will really come, thank you…” Ujarku membuat matanya sedikit menyipit.

 

“Haaayy… I have said that I will come. So I come. How’s your trip?”

 

Aku tersenyum, dan menegaskan diriku untuk berhenti menangis. Menyudahi semua kecengengan yang selama ini kumanjakan.

 

”It was a busy trip,” suaraku sudah kembali normal dengan sedikit senyum penuh arti aku mengucapkannya. Keningnya berkerut, “Busy? What you were busy of?”

Aku mengerjapkan mataku menggodanya, ”Busy to tell my heart not to beat so fast.”

Dia tertawa keras. Aku menikmati tawanya, indah…

 

Hari ini kami menikmati makan malam di restaurant dekat hotel. Tak terlalu lama, dia ingin aku beristirahat setelah perjalanan panjang. Dia memastikan aku sampai ke kamar hotel dengan selamat, dan pamit langsung pulang. Aku memberinya senyum termanis sebelum dia berlalu. Aku menutup pintu dan langsung berbaring.

 

Perutku terasa sakit lagi, akhir-akhir ini sakitnya sering kali kambuh. Kuharap, selama di sini, sakitnya tak kan terlalu parah. Entah bagaimana, aku bisa tidur dengan tenang malam itu. Mungkin karena hatiku yang bahagia bertemu Sang Pujaan Hati.

 

***

 

Esoknya aku sudah bersiap-siap dari pagi karena kami akan bermain ke pantai hari ini. Katanya, dia sudah menyusun rencana mengisi tiga hari kunjunganku di negeri ini. Perutku masih sedikit sakit, tapi aku yakin sakitnya akan reda bila bertemu dengannya, karena dia adalah obat mujarab bagi sakitku separah apapun itu.

 

Jam sudah menunjukkan angka sepuluh, namun dia belum juga muncul. Dia memberikan sebuah nomor untuk dihubungi, tapi aku tak berani mengusiknya… Aku tak mau dia bermasalah dengan istrinya bila aku menelepon. Jam sebelas tiba-tiba pesawat telepon dikamar hotelku berdering, operator memberi tahuku ada telepon darinya.

 

”Dear, I’m so sorry… Little Sara’s a little bit sick. I can’t go there to see you. Well, probably, if there’s possible, I will come… I will call you then…”

 

Aku terdiam serasa seperti kapas yang indah mengembang tersiram air. Aku mencoba tersenyum, orang bilang lawan bicara akan merasa bila kita tersenyum saat berbicara di telepon seraya berkata,

 

”That’s okay Dear… I understand. Stay there with Little Sara. I can see some places around the hotel. Or maybe go to the beach by my self.”

 

“No! No! Don’t go too far without me Dear… Okay, you can take a tour near the hotel, but don’t go too far. I’m so sorry can’t take you to the beach today…” Suaranya penuh dengan penyesalan.

 

“Haaayyy you have said sorry twice, that’s too much. Okay, bye now, take care of the little angel. I wish she’ll be all right and get well soon. Allah Hafiz.”

 

“I know you will understand Dear, Allah Hafiz.”

 

Perutku seketika terasa mulas tak terkira begitu gagang telepon aku letakkan. Aku bergulingan ke sana ke mari menahan sakit. Tanganku dan seluruh tubuhku banjir keringat dingin dan menggigil. Aku menggigit bantal agar tak berteriak atau meraung terlalu keras menahan sakit. Aku butuh obatku, tapi tak kuasa bergerak mencarinya. Hingga akhirnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

 

***

 

Aku membuka mataku pelan-pelan, mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Kulirik jam di dinding, telah menunjukkan angka empat!!! Ya Tuhan, aku pingsan selama tiga jam!! Perutku masih sedikit nyeri, tapi sudah tak sehebat tadi.

 

Kuraih obat penahan rasa sakit di dalam tas dengan susah payah, dan kuminum dua butir. Sprei sudah tak karu-karuan bentuknya bekas aku bergumul tadi. Badanku lemas, aku harus makan. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan makanan ke kamar. Badanku terlalu lemas untuk keluar kamar. Baru saja telepon diletakkan, ia berdering. Operator mengatakan, lelaki itu menelpon untuk ketiga kalinya dimana yang dua kali sebelumnya tidak ada yang mengangkat.

 

”Hello…”

”Haaayyy where have you been? You didn’t pick up my call twice, but recepsionist said that you were not going anywhere.”

Aku memutar otak mencari alasan.

“I was sleeping Honey… Sorry I can’t hear the ring. I must be sleeping like death hehhehee…” aku memaksakan sebuah tawa.

“Alhamdulillah, I thought there was something happenned to you. Thank goodness if you were just fine. I just want to tell you that I can’t go to Karachi today…”

“That’s okay. I have told you to stay there. I’m fine, don’t worry about me. I’m a big girl, don’t I?”

“Are you okay?” Suaranya terdengar amat merasa bersalah.

“I’m sure I’m okay. Besides that, there’s a man infront of my room asked a date with me hehehhee…”

“Really??? And what you said??” Suaranya terdengar khawatir.

“Hahaha… I’m just kidding honey… Haaayyy… There’s my meal coming. Okay, call me tomorrow yaar… Allah Hafiz,” Suara bel pintu terdengar.

“Okay Dear, enjoy your meal. I will call you as soon as possible. Allah Hafiz.”

Aku meletakkan gagang telepon dan berjalan tertatih menuju pintu.

 

***

 

Esoknya, aku masih tergolek lemah ketika telepon berdering.

“I’m in the lobby, get ready. We will have a date today Dear…”

“Haaayyy so early… Okay, I will get ready. Just wait.”

 

Aku menelan dua butir lagi obat penahan rasa sakit dan menyeret tubuhku ke kamar mandi. Setengah jam kemudian aku sudah keluar dengan mengenakan rok payung kembang-kembang , kemeja putih dipadu kerudung bunga-bunga biru senada. Selop putih berhak dan clutch putih melengkapi penampilanku. Perfect. Wajahku sudah tak terlihat pucat karena dipulasi blush on dan lipstick.

 

Disudut lobby, kulihat seorang lelaki berjanggut mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam.

”Haaayyy we both look so match together, what a weird coincident” Aku menyapanya dengan sebuah gurauan.

Lelaki itu tersenyum, “No, you wear blue cause my heart told you,” katanya sambil memicingkan mata jenaka. Aku hanya tertawa kecil. “Shall we go now?”

“Yes Dear, as you wish.”

 

Lepas Ashar kami beranjak pulang dari pantai. Setelah puas mengobrol dan berjalan-jalan di pantai. Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam dengannya di pantai ini. Menatapi langit yang jernih penuh dengan bintang. Namun dia kelihatan harus segera pulang. Dan aku tak berani mengutarakan keinginanku. Tak apa… Begini pun aku sudah teramat senang. Lagipula, perutku pun sudah mulai terasa kambuh lagi sakitnya.

 

Berkali dia memergokiku meringis membuatnya bertanya kenapa. Aku hanya mengatakan silau oleh sinar matahari yang memang hari itu begitu cerah dengan langit biru dihiasi sedikit saja awan putih bersih. Dan aku pura-pura tak perduli ketika melihat kilat khawatir di matanya.

 

***

 

Aku pulang siang ini…

Ketika sedang membereskan bawaan, terdengar sebuah ketukkan di pintu kamar. Kulihat dia tersenyum di baliknya ketika kubuka.

 

”Can I come in?” Dia bertanya. ”If you wanted to…” Aku menatapnya sedikit heran, aku tak mengira dia akan ke kamarku. Biasanya dia hanya menemuiku di lobby, atau mengantarku sampai ke depan pintu. Aku menutup pintu. Lalu, sekonyong-konyong, dia duduk dilantai dihadapanku sambil menangkupkan kedua telapak tangannya membuatku terpekik kaget.

 

”Please go to a doctor and take your med honey… I know you are very sick! I know you are really want to be together with me… But I’m so very sorry I can’t do that… I have a wife with three children… I can’t hurt them… I love you too,but not in that kind of relationship… Please honey… Don’t make me feel so bad about this all…Don’t punished me with it…I’m so very sorry…” Aku terlongong mendengar dia memohon-mohon begitu rupa.

 

Aku menjatuhkan tubuhku dihadapannya.

“You don’t need to do this! I hate you doing this! Come on! Stand up!” Aku melepas tangannya yang tertangkup dan berusaha membuatnya berdiri. Tetapi lelaki itu malah merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Lelaki itu terisak! Oh Tuhan… Apa yang telah aku lakukan pada lelaki ini hingga membuatnya seperti ini…?

 

Aku tak kuasa menahan tangis. Air mataku mengalir deras dalam keheningan. ”I’m sorry to drag you in this horrible situation Clown…” Aku berusaha bicara dengan suara tercekat.

“Don’t be worry, I have gone to the doctor and took the med. You must know that there’s nothing to do with you about my illness. It’s my fault who makes you feel that you are responsible for this. Maybe that’s what people called mad love…” Aku melepas rangkulannya dan memperlihatkan kotak obatku.

“See? This is all my med,” aku memperlihatkannya dengan tampang dipaksa jenaka seolah itu adalah hal yang lucu.

“Oh Dear, you don’t know how glad I am to hear that… Like a big stone take away from my chest… Please tell me how exactly your condition?” Lelaki itu menatap mataku dalam, tajam namun penuh kelembutan dan cinta. Aku tersenyum, “Honestly… I don’t know exactly my condition either. Yes, I am sick. But I have my medicine. About how long I could stand with this horrible desease, that’s God’s secret I think. I’m ready for the worst thing could be happenned. I believe it’s my kismat, am I right?” mataku memicing seraya tersenyum.

“Just please take care of your self Dear… And take the med ontime…” Tak ada senyum di wajahnya, hanya rona khawatir, rasa bersalah dan tak berdaya yang terpancar…

 

***

 

Aku menatap lelaki itu sekali lagi, untuk terakhir kali. ”May I kiss your hand, Dear…?” kataku lirih.

”Sure,” dia mengulurkan tangan kanannya. Aku meraihnya dan meletakkannya di dahiku dengan penuh khidmat. Dia mengusap kepalaku lembut, terasa bergetar…

 

Tuhan, terima kasih memberiku kesempatan bertemu dengan lelaki ini… Kemudian… aku terbatuk hebat dan tiba-tiba memuntahkan darah segar…

 

Lelaki itu terhenyak, seraya memeluk tubuhku yang terkulai lemas. Bajunya basah oleh darah, mulutnya berteriak-teriak memohon pertolongan. Namun, aku menutup mulutnya dengan telunjukku seraya menggeleng.

”I think… My time has come… Thank you… for all you have gave me… It’s a bless for me to know you… I love you…” ujarku dengan susah payah dan nafas tinggal satu-satu.

Terakhir kulihat disela tangisnya lelaki itu menuntunku mengucap syahadat… Kemudian, semuanya gelap…