Udah pada nonton berita? Udah pada baca berita? Udah pada denger berita?
Soal caleg yang (seperti sudah diprediksi sebelumnya) akhirnya harus masuk panti rehabilitasi mental gara2 suara yang didapatnya tidak sesuai ekspektasi sedangkan dia sudah habis2an berkorban harta?
Soal caleg yang tiba2 ditemukan gantung diri ditengarai karena malu tidak terpilih?
Soal caleg yang meninggal tiba2 setelah penghitungan suara karena shock kemudian terkena serangan stroke?
Memprihatinkan… Teramat sangat memprihatinkan… Kok rasanya, pemilu tak ubahnya ajang judi legal ya? Seperti demam SDSB, PORKAS, TOGEL, dan yang semacamnya, semua orang bermimpi jadi anggota legislatif. Berhutang sana sini, cari sponsor sana sini, suap sana sini dengan ekspektasi maksimal, terpilih menjadi anggota legislatif.
Entah mereka terlalu percaya diri bahwa kekuasaan begitu mudah didapat hanya dengan beralatkan materi? Atau mereka begitu meyakini bahwa rakyat Indonesia bisa “dimanduli”, ” dikebiri”, dengan disuapi angpaw sekedarnya? Atau mereka begitu memandang rendah rakyat Indonesia yang menderita honger odem karena cuma makan berlauk sayur kerupuk?
Pemilu legislatif belum lagi usai, caleg kelas gurem mulai bertumbangan secara tragis. Caleg eksekutif saling bergontokan bercuap soal kecurangan. KPU ketar ketir dipertanyakan tentang kemana mengalirnya dana pemilu 3 trilyun untuk pemilu legislatif yang berlubang disana sini seperti terjadi kemarin.
Hhhh… Apa jadinya Indonesia di masa yang akan datang? Jangan salahkan rakyat bila menjadi apriori… Tak sudi kami ikut menjadi bagian pembobrokkan negeri. Kami tak butuh politik busuk, kami tak butuh janji, kami hanya perlu bukti…
Siapa yang ga pernah denger keluhan orang2 klo berhubungan dengan birokrasi (baca: utamanya instansi pemerintah)? Siapa yang ga pernah denger orang malas ngurus surat2 kependudukan, keimigrasian, pajak, dan surat-surat lainnya karena terbentur birokrasi yang bertele2?
Belum lagi pungli2 yang selalu terselip di sana sini. Padahal sudah banyak stasiun televisi yang melakukan investigasi, bahkan hingga menemukan dan menangkap basah sang pelaku tapi rasanya masih saja terdapat kebocoran. Entah sengaja dibiarkan atau malas merubah.
Kebetulan minggu kemarin, saya mengantar kerabat ke sebuah RS kanker nasional terkenal di Jakarta. Ternyata birokrasi “aneh” pun masih menjadi momok di sana. Bayangkan, ketika saya mengantri resep, ada seorang Bapak renta yang sudah berdiri di sana selama setengah jam menunggu tanpa ada yang menghiraukan!
Saya tahu karena Bapak itu menghampiri saya ketika melihat saya memijit tombol nomor antrian dan mengajak berbincang. Tombol nomor antrian ini aneh sekali, kertas antrian muncul di dalam ruangan apoteker. Jadi setiap kali kita memijit nomor, maka harus diambilkan oleh Sang Apoteker.
Ketika saya minta, karena apotekernya sibuk sendiri, dengan masam dia cuma berkata, “Pijit dulu nomornya!”
Saya yang sudah kesal menunggu, jadi ikutan nyolot ditanggapi masam begitu. Saya jawab, “Udah dipijit dua kali!”
Ga ada kata maaf ataupun basa-basi lain, Sang Apoteker cuma menyobek 2 nomor antrian yang saya pijit dan memberikan pada saya. Yang satu lagi saya minta untuk Bapak yang tanya saya tadi.
Si Bapak renta bercerita bahwa dia sudah bertanya pada Sang Apoteker tapi tidak ditanggapi. Terlalu sekali! Saya ga habis fikir, sedangkan disitu kan tempatnya orang-orang sakit yang butuh dukungan, setidaknya layanilah dengan senyuman. Kalau malas menjawab mengenai prosedurnya, apa salahnya ditulis besar2 ditempel di dinding???
Karena ternyata bukan cuma Bapak itu saja yang kebingungan, selama satu jam saya mengantri di sana, ada kiranya lima orang yang saya beri penjelasan mengenai prosedur pembelian resep! Beli loch! Bukan minta!
Satu lagi yang lucu, saya melihat ada seorang yang mau menebus sisa resep yang mungkin karena satu dan lain hal tidak bisa tertebus langsung semuanya. Tahu apa jawaban Sang Apoteker?
“Maaf, untuk itu baru bisa dilayani sore!”
What the hell???!!! Trus, klo tu orang mati karena telat dikasiy obat bagaimana???!!!
Ketika orang yang tadi bilang bahwa dia cuma ada waktu saat itu karena sore dia harus bekerja, tak sedikitpun Sang Apoteker menghiraukannya! Ckckckckckkkk… Sungguh tega… Jahat sekali. Sungguh birokrasi yang aneh…
Itu cuma cerita mengantri resep loch, trus bagaimana dengan prosedur yang lain???
Pantaslah banyak pasien berduit kabur berobat ke luar negeri, RS sebesar dan seterkenal ini pun memberi pelayanan yang jauh dari memuaskan begini.
Cobalah kalau bisa jangan bikin birokrasi yang aneh, apalagi di tempat seperti RS begitu… Orang-orang di sana kan kebanyakan sedang dalam keadaan tidak sehat dan tidak semuanya melek teknologi, jangan buat mereka lebih menderita dengan aturan yang ga jelas…