Archive for the ‘Sosial & Psikososial’ Category

Ngayal Yuk…

Suka ngayal ga? Klo engga, yuk gw ajak belajar ngayal hehehehhe… Barusan tiba-tiba aja terlintas, klo gw bisa jadi sesuatu yang lain, gw pengen jadi apaan.

=> Pernah nonton serial tivi HEROES (http://id.wikipedia.org/wiki/Heroes)  khan? Klo misal gw boleh punya “keistimewaan” kayak cast HEROES, gw pengen bisa jadi kayak  Matt Parkman. Kenapa? Karena manusia punya begitu banyak hal dikepalanya. Pasti asyik bisa tau isi kepala orang tanpa musti nanya-nanya or nebak-nebak yang bisa aja salah atow bikin orang yang ditanya ga nyaman or merasa terintimidasi. And pastinya, gw ga akan bisa diboongin hehehe… Truth, even though feels bitter, but just like medicine, it’s healing isn’t it? Tapi pasti berisik banget yak :p

=> Klo misal, ada tokoh kartun yang bisa diidupin (haha bener-bener ngayal! Yahhh namanya ngayal, ga usah tanggung-tanggung hehe…), dan gw yang ada diposisi tokoh kartun itu, gw pengen jadi Oscar (Rose of Versailles) hihi… Ga tau dech, itu komik bener-bener dalem banget dihati gw. Konflik batin, intrik, politik, perjuangan, loyalitas and dedikasinya buat tanah airnya TE-O-PE BE-GE-TE!

=> Klo mesin waktu bener-bener “ditemukan”, gw pengen pergi ke saat manusia baru muncul. Biar gw tau, dari mana gw berasal. Dan ke saat-saat yang banyak terdapat kontroversi dalam catatan sejarah di seluruh dunia, biar gw tau yang semua orang tau saat ini bener atau cuman fiksi.

=> Klo teleport bener-bener bisa dilakuin, gw pengen pergi ke planet-planet lain buat nyari apa ada makhluk lain mirip manusia di “luar sana”. Apakah mereka seperti kita, berbudaya dan beragama?

Mmmm… Kayaknya udah mulai terlalu dalem berkhayalnya *rolling eyes*

Terkontaminasi Syndroma Cinlau!!! @#%^$#!!##$%?

You know dunks artis bechek yang doyan ngojyekh satu ini? Hehehheehe… Akhir-akhir ini Cinlau mendadak dangdut jadi artis fenomenon karena logat bulenya yang terkesan bechek en menggelitik telinga Indonesia. Banyak yang “benci” sama logatnya, sampe dibikin ringtone segala. Padahal aselinya, kemungkinan besar mereka yang “benci”lah yang merupakan fans terbesarnya Cinlau. Ngaku dechhhhh… Heheehehe…

Gara2 kemaren pagi di kantor agak heboh menemukan sebuah request di forum untuk lagunya Cinlau, gw jadi kena kompor bledhug ikutan latah nyari lagu, lirik, ngedengerin bahkan ngeresapin isi lagu yang dimaksud. Dan sekarang, gw kena imbas pengen nulis bahasan about Cinlau. Tapi bukan semata mengenai artis ini, melainkan perilaku masyarakat terhadap sebuah anggapan kolektif sosial.

Ketika masyarakat (dalam arti mayoritas) “mencap” sesuatu atau seseorang sebagai sesuatu yang “negatif”, jelek, norak, ga lumrah dalam lingkungan sosial, perilaku seseorang akan cenderung merasa malu, takut ketahuan dan akan “dicap” ikutan jelek, norak, waktu harus mengakui bahwa ternyata dirinya menyukai hal tersebut (guilty pleasure????) . Padaha, “cap” yang diberikan belum tentu benar dan bersih dari sikap sentimen.

Menurut gw pribadi siy, berbeda bukanlah sebuah aib. Tidak sama bukanlah dosa. Jadi kenapa harus mencibir? Gw ga sedang membela Cinlau, cuma prihatin aja kadang-kadang sama sikap masyarakat yang menganggap kebenaran identik dengan anggapan kolektif mayoritas lingkup sosial.

Apa salah ketika seorang anak remaja yang masa kecilnya dihabiskan di luar negeri dengan bahasa pergaulannya Bahasa Inggris tidak fasih berbahasa Indonesia? Gw rasa engga.

Apa salah kalo cara bicaranya “terkesan” dibuat-buat? So what? Gw bilang itulah style-nya dia, ga berbeda sama orang yang selalu jilat bibir setiap kali ngomong kayak Murdiono or Armand Maulana hehheheee…

So guys, stop judging people would you?

Menulis : Terapi Kejiwaan atau Pencetus Penyakit Jiwa?

Judulnya seru yah??? Hehehehee… Ehm, baiklah… Aku mulai berfikir lagi tentang hal yang tak penting. Kali ini objek penelitiannya adalah diriku sendiri :p

Menulis bisa menjadi terapi kejiwaan ataukah malah menjadi pencetus penyakit jiwa???

Bagi sebagian orang, terutama yang kurang lihai menterjemahkan dan mensinkronkan kerja otak ke dalam bahasa verbal, menulis merupakan sebuah solusi. Menulis yang dimaksud disini adalah menuangkan sebuah pemikiran dalam bentuk essai, bukan sekedar mengetik atau menulis dalam artian harfiah. Aku, adalah orang yang kadang bisa berhenti “bicara” (chat juga kuanggap sedang berbicara) di tengah-tengah tanpa tahu harus berkata apa selanjutnya karena mungkin kerja otakku tak sinkron dengan kerja jari dan mulutku. Otakku telah selesai berfikir dan meloncat ke topik yang lain sedangkan jari dan mulutku belum sempat menuangkannya dalam bentuk verbal. Haha… cacat. :p

Menulis bisa membuatku tenang manakala hati bergejolak. Bahkan menulis bisa mensugesti diri untuk tidak memikirkan suatu masalah yang “belum selesai”. Ketika aku tak tahu sebuah jawaban atas suatu hal, aku akan menyelesaikan semuanya dalam bentuk tulisan. Dan percaya atau tidak, itu membuatku lebih rileks dan tidak akan menganggapnya sebagai suatu masalah lagi.

Persoalan muncul ketika sugesti tersebut semakin menguasai, bahkan membuat kita terperangkap dalam sebuah dunia imajinatif yang kita buat sendiri. Membuat seseorang mempunyai “dunia sendiri”, dan mulai tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan.

So, mau jadi penulis? hehehheee…

© 2008 Novia
Designed by NET-TEC Webhosting -- Made free by Trauringe | Wintergarten | Ratenkredit | ringtones