Archive for November, 2008

Akhirnya… sampai juga…

Thursday, November 27th, 2008

Bener, akhirnya sampe juga gw di hari terakhir gw… di umur kepala dua hehehee… tapi gapapa, bukannya orang bilang life begins at fourthy?! Berarti gw masih ada waktu sampe sepuluh taun ke depan buat mempersiapkan “hidup” hehehhee…

Sialnya, temen gw nyeletuk gini, “Life begins at fourthy kan berlaku cuma buat cowok…”

Ngomongnya lempeng siy, tapi mayan bikin gw zedhank hahaha… Iye juga yah… Jangan-jangan klo buat cewek, “Life shut down at fourthy???”

Yah… seenggaknya gw berarti masih punya waktu 10 taon lagi buat “padam” hahaha…

Oke dech, happy birthday novia!!!  May you will be happy forever!!!

Birokrasi = Darting

Monday, November 17th, 2008

Siapa yang ga pernah denger keluhan orang2 klo berhubungan dengan birokrasi (baca: utamanya instansi pemerintah)? Siapa yang ga pernah denger orang malas ngurus surat2 kependudukan, keimigrasian, pajak, dan surat-surat lainnya karena terbentur birokrasi yang bertele2?

Belum lagi pungli2 yang selalu terselip di sana sini. Padahal sudah banyak stasiun televisi yang melakukan investigasi, bahkan hingga menemukan dan menangkap basah sang pelaku tapi rasanya masih saja terdapat kebocoran. Entah sengaja dibiarkan atau malas merubah.

Kebetulan minggu kemarin, saya mengantar kerabat ke sebuah RS kanker nasional terkenal di Jakarta. Ternyata birokrasi “aneh” pun masih menjadi momok di sana. Bayangkan, ketika saya mengantri resep, ada seorang Bapak renta yang sudah berdiri di sana selama setengah jam menunggu tanpa ada yang menghiraukan!

Saya tahu karena Bapak itu menghampiri saya ketika melihat saya memijit tombol nomor antrian dan mengajak berbincang. Tombol nomor antrian ini aneh sekali, kertas antrian muncul di dalam ruangan apoteker. Jadi setiap kali kita memijit nomor, maka harus diambilkan oleh Sang Apoteker.

Ketika saya minta, karena apotekernya sibuk sendiri, dengan masam dia cuma berkata, “Pijit dulu nomornya!”

Saya yang sudah kesal menunggu, jadi ikutan nyolot ditanggapi masam begitu. Saya jawab, “Udah dipijit dua kali!”

Ga ada kata maaf ataupun basa-basi lain, Sang Apoteker cuma menyobek 2 nomor antrian yang saya pijit dan memberikan pada saya. Yang satu lagi saya minta untuk Bapak yang tanya saya tadi.

Si Bapak renta bercerita bahwa dia sudah bertanya pada Sang Apoteker tapi tidak ditanggapi. Terlalu sekali! Saya ga habis fikir, sedangkan disitu kan tempatnya orang-orang sakit yang butuh dukungan, setidaknya layanilah dengan senyuman. Kalau malas menjawab mengenai prosedurnya, apa salahnya ditulis besar2 ditempel di dinding???

Karena ternyata bukan cuma Bapak itu saja yang kebingungan, selama satu jam saya mengantri di sana, ada kiranya lima orang yang saya beri penjelasan mengenai prosedur pembelian resep! Beli loch! Bukan minta!

Satu lagi yang lucu, saya melihat ada seorang yang mau menebus sisa resep yang mungkin karena satu dan lain hal tidak bisa tertebus langsung semuanya. Tahu apa jawaban Sang Apoteker?

“Maaf, untuk itu baru bisa dilayani sore!”

What the hell???!!! Trus, klo tu orang mati karena telat dikasiy obat bagaimana???!!!

Ketika orang yang tadi bilang bahwa dia cuma ada waktu saat itu karena sore dia harus bekerja, tak sedikitpun Sang Apoteker menghiraukannya! Ckckckckckkkk… Sungguh tega… Jahat sekali. Sungguh birokrasi yang aneh…

Itu cuma cerita mengantri resep loch, trus bagaimana dengan prosedur yang lain???

Pantaslah banyak pasien berduit kabur berobat ke luar negeri, RS sebesar dan seterkenal ini pun memberi pelayanan yang jauh dari memuaskan begini.

Cobalah kalau bisa jangan bikin birokrasi yang aneh, apalagi di tempat seperti RS begitu… Orang-orang di sana kan kebanyakan sedang dalam keadaan tidak sehat dan tidak semuanya melek teknologi, jangan buat mereka lebih menderita dengan aturan yang ga jelas…

Tapak-Tapak Menuju Akhir…

Monday, November 17th, 2008

Tiada terasa… kaki-kaki ini telah sampai pada tapak-tapak hampir menuju akhir… Meninggalkan jejak-jejak dalam maupun samar…

Hitam, coklat, merah, jingga, kuning… Hijau, biru, ungu, abu-abu, putih… Emas maupun perak…  Bagai pelangi bertaburan mengelilinginya… Mewakili setiap rasa yang berpendar dalam sejumput jiwa… Bahagia… Lara… ceria… Melenakan asa…

Terima kasih pada semua sahabat  yang telah memberi pelajaran atas sebuah arti pendewasaan, kebersamaan, pengorbanan, dan kebahagiaan…

Setetes maaf sungguh sangat berarti bila pada setiap jejak tapak kaki meninggalkan noktah jelaga yang mungkin mengiris nadi… Tak pernah sedikitpun terpercik menyengajakan mengirisnya, namun apalah daya bila begitulah adanya yang terasa…

Ngayal Yuk…

Thursday, November 6th, 2008

Suka ngayal ga? Klo engga, yuk gw ajak belajar ngayal hehehehhe… Barusan tiba-tiba aja terlintas, klo gw bisa jadi sesuatu yang lain, gw pengen jadi apaan.

=> Pernah nonton serial tivi HEROES (http://id.wikipedia.org/wiki/Heroes)  khan? Klo misal gw boleh punya “keistimewaan” kayak cast HEROES, gw pengen bisa jadi kayak  Matt Parkman. Kenapa? Karena manusia punya begitu banyak hal dikepalanya. Pasti asyik bisa tau isi kepala orang tanpa musti nanya-nanya or nebak-nebak yang bisa aja salah atow bikin orang yang ditanya ga nyaman or merasa terintimidasi. And pastinya, gw ga akan bisa diboongin hehehe… Truth, even though feels bitter, but just like medicine, it’s healing isn’t it? Tapi pasti berisik banget yak :p

=> Klo misal, ada tokoh kartun yang bisa diidupin (haha bener-bener ngayal! Yahhh namanya ngayal, ga usah tanggung-tanggung hehe…), dan gw yang ada diposisi tokoh kartun itu, gw pengen jadi Oscar (Rose of Versailles) hihi… Ga tau dech, itu komik bener-bener dalem banget dihati gw. Konflik batin, intrik, politik, perjuangan, loyalitas and dedikasinya buat tanah airnya TE-O-PE BE-GE-TE!

=> Klo mesin waktu bener-bener “ditemukan”, gw pengen pergi ke saat manusia baru muncul. Biar gw tau, dari mana gw berasal. Dan ke saat-saat yang banyak terdapat kontroversi dalam catatan sejarah di seluruh dunia, biar gw tau yang semua orang tau saat ini bener atau cuman fiksi.

=> Klo teleport bener-bener bisa dilakuin, gw pengen pergi ke planet-planet lain buat nyari apa ada makhluk lain mirip manusia di “luar sana”. Apakah mereka seperti kita, berbudaya dan beragama?

Mmmm… Kayaknya udah mulai terlalu dalem berkhayalnya *rolling eyes*