HIDDEN PERSONALITY (PART 5, Finish)
“Sorry ya Mel, aku musti ngomong ini sama kamu…” Lila mengaduk-aduk es telernya.
“Mau ngomong apa siy mBak? Kok kayaknya serius banget, jadi deg-degan nih…” Melly menyahut dengan nada manja, mukanya disorongkan mendekat muka Lila seraya menatapnya lekat. Lila merinding, merasa memang ada ‘yang lain’ dari sikap Melly. Tuhan… Semoga gue cuman sugesti aja… Mudah-mudahan prasangka gue sama anak ini ga bener… Lila meracau dalam hati. Tak tega rasanya melihat gadis secantik ini ternyata… gay…
“Mmmm… Sebelomnya aku minta maaf ya Mel… Aku cuman pengen tanya, rasanya kok kamu perhatian banget yah sama aku? Aku ga pernah diperhatiin temen seperti kamu perhatian sama aku. Maaf klo salah, mmm… tapi… aku ngerasa ada yang lain aja… Maaf ya Mel…” Lila grogi, bingung mau mulai dari mana.
Melly terlihat sedikit melengak, tetapi sejurus kemudian sudah kelihatan biasa lagi. Pintar sekali anak ini mengendalikan emosinya.
“Menurut mBak ada yang lain gimana? mBak ga suka aku perhatian sama mBak?” Melly masih menatap lekat mata Lila. Lila melengos, pura-pura melihat keluar kafetaria.
“Bukan begitu Mel… Bukan aku ga suka… duhhh bingung nih gimana ngomongnya… Gini dech, aku cuman pengen tanya, apa alasan kamu perhatian banget sama aku?” Lila makin gregori.
Sekilat Lila melihat sebuah sorot aneh dari mata Melly, namun kemudian kembali tersaput oleh sebuah senyuman tenang Melly yang kemudian berucap,
“Melly memang sayang sama mBak…”, seketika Lila terkesiap mukanya memucat.
“Sayang gimana maksud kamu?” katanya mengejar dengan nada penuh kekhawatiran. God, Please don’t… doanya dalam hati.
“Melly sayang sama mBak, seperti kakak Mel sendiri… Sejak hari pertama masuk kerja disini, yang suka bimbing Mel, mengerti sama Mel, baik sama Mel, cuman mBak aja… mBak baik, karena itu Mel sayang sama mBak. Jangan khawatir mBak, Mel ga seperti yang mBak Lara gosipin kok…” Melly menunduk.
Lila serasa terhempas dari tebing yang tinggi. Bebas lepas, namun juga sakit dan merasa berdosa menuduh Melly dengan hal yang sadis seperti ini.
“Aku minta maaf ya Mel… Aku bener-bener ga bermaksud buat bikin kamu sakit hati… Hanya saja, aku butuh kepastian. Terus terang aja, aku memang sempat termakan gossip itu, apalagi perhatian kamu rasanya ‘beda’ sama aku hehehehe… Bodoh banget yah aku…?” Lila menggenggam tangan Melly.
“Kamu mau maafin aku? Aku lega ternyata kamu tidak seperti yang digosipin orang…” katanya sungguh-sungguh.
“Ga apa-apa mBak. Aku malah senang mBak ngomong begini sama Melly, daripada tiba-tiba mBak menjauh tanpa bilang kenapa.” Melly tersenyum. Dan lagi, Lila melihat kelebat sorot mata itu. Hanya sekelebat saja.
“No hurt feeling yah Mel…Anggap aja ini percakapan bodoh antara dua sahabat yang belum saling mengerti.” Lila mengedipkan sebelah matanya.
“Certainly not, mBak…” Mereka pun saling melempar senyuman. Lila lega…
***
================================================================
Tuhan… Mengapa aku ditakdirkan seperti ini… Menjadi manusia yang berbeda dari manusia lainnya… Aku benci menjadi seperti ini Tuhan, aku tak ingin menjadi seperti ini. Tetapi aku tak kuasa menolak semuanya. Aku tak bisa menolak rasa cinta ini, aku benar-benar mencintainya…
Adakah aku berbuat dosa di kehidupan yang lalu, bila benar reinkarnasi itu ada, sehingga Engkau harus menimpakan balasannya di kehidupanku saat ini Tuhan?
Aku mohon, cabut seluruh rasa yang aku punya agar aku tak pernah merasakan rasa yang salah…
Tuhanku… Dalam termangu aku masih menyebut namamu… biar susah sungguh mengingatmu penuh seluruh…*
================================================================
Jari-jemari perempuan itu menari di atas tuts-tuts keyboard dengan lelehan air mata di pipinya. Kemudian berhenti, dan bergerak meremas rambutnya, menelungkupkan wajahnya penuh kekalutan.
“Aku mencintaimu Lila… Dengan segenap rasa hatiku… Entah sejak kapan…” suaranya lirih penuh kesakitan yang tak terperi.
*)Doa, karya Chairil Anwar