Archive for May, 2008

Akan Jadi Apakah Indonesiaku…?

Monday, May 26th, 2008

Mungkin terlalu dalam, terlalu besar yang aku pikirkan pagi ini dalam sebuah kepala yang begitu kecil, dalam otak yang begitu kerdil…

Tuhanku, hari ini aku sedih, pilu, pedihhhh sekali… Hanya karena melihat seraut wajah seorang ibu. Tak banyak orang yang memperhatikannya, bahkan mungkin hanya aku seorang yang sekilas saja melirik… Wajah tirusnya, tatapan nanarnya, kepasrahannya… mungkin juga rasa frustrasinya… menghadapi hidup yang semakin memberinya beban teramat berat.

Kulihat matanya begitu terkoyak memandang dunia… Kulihat dadanya sesak menghirup kehidupan… Kulihat matanya kering dan hampa… Tak ada airmata…

Ada apakah dengan dunia ini Tuhan…? Tak cukupkah keserakahan untuk dituntaskan saja…? Tidakkah ini saatnya tangan-Mu untuk terulur bagi tangan-tangan rapuh serupa tulang berbalut kulit hitam  keriput nan legam… Bergetar…

Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka Tuhan…?

Aku tertawa dalam hati… Ya, apa yang sudah engkau lakukan?! Kataku pada diriku sendiri. Berteriak mencibir, atas keegoisanku sendiri.  Untuk apa bila hanya bisa bersedih untuk mereka?! Untuk apa bila hanya bisa meratapi nasib mereka?! Untuk apa bila setiap hari kau hanya bersenang-senang memenuhi perut buncitmu?! Menjejali mata dan hatimu dengan kefoya-foyaan?! Binar-binar semu…

Sedihmu hanyalah sampai disitu… hanya sebatas kata-kata munafik! Kau tak lebih dari tikus-tikus koruptor itu yang bergembira ria di atas penderitaan mereka!

Tuhanku… Aku harus berubah…

Sepenggal Akhir Cerita

Monday, May 19th, 2008

Aku berjalan menuju pintu keluar airport. Kakiku serasa melayang, jantungku berdegup kencang, tanganku berkeringat deras menggenggam erat handle travelling bag-ku. Kacamata hitam bertengger di wajahku, menyembunyikan sepasang mata gelisah yang mencari sosok yang kukenal.

 

Akankah dia benar-benar datang? Hatiku membatin.

 

Biarpun aku sudah siap menghadapi hal terburuk bahwa aku hanya akan mengejar angin, menemui sebuah ruang hampa di negeri yang jauh ini, namun tak urung ada sedikit harap, ada sedikit asa, kau akan muncul dengan bijaksana. Sekali aku menghela nafas paling dalam, berharap dengan begitu bebanku akan sedikit berkurang.

 

Banyak sekali manusia, sosok mereka pun hampir semua sama. Aku hanya berdiri tertegun. Tak perduli orang melaluiku dengan tergesa, bahkan ada yang menyenggolkan tubuhnya dan melirikku kesal. Entah berapa lama aku mematung, hingga keadaan di sekelilingku mulai agak lengang.

 

Sesosok lelaki berkemeja panjang abu-abu dengan celana kain warna hitam menghampiriku dengan senyum lembut. Aku hanya menatapinya mendekat dengan hati semakin bergejolak. Rambutnya rapi dengan warna sedikit cokelat, kacamata bertengger di hidung tingginya membingkai mata tajam namun lembut, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman.

 

”Assalaamu’alaikum,” lelaki kurus tinggi itu tiba di depanku. Aku masih tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja mataku berlomba-lomba mengeluarkan bongkahan kristal bertubi-tubi.

 

”Oh Dear, come here…,” sekonyong-konyong lelaki itu mendekat dan meraih kepalaku, tubuhku, ke dalam pelukannya.

 

”Nice to meet you, wa’alaikum salaam…,” suaraku terdengar parau disela isak. Kurasakan dekapannya semakin erat, tangannya mengusapi kepalaku. Setelah beberapa saat, dia membimbingku ke luar airport menuju sebuah taksi. Dia berbicara sejenak dengan sopir taksinya dalam bahasa urdu, sebelum kemudian meluncur membelah jalan raya Karachi.

 

“Take off ur glasses dear… I have said that you got something beautiful in your eyes, don’t hide it.” Dia mengulurkan tangannya mencopot kacamata hitamku, menatap mataku dalam, seraya mengusap airmata yang masih saja menetes. Aku benci diriku yang seperti ini, terlalu melankolis!

 

“I didn’t think that you will really come, thank you…” Ujarku membuat matanya sedikit menyipit.

 

“Haaayy… I have said that I will come. So I come. How’s your trip?”

 

Aku tersenyum, dan menegaskan diriku untuk berhenti menangis. Menyudahi semua kecengengan yang selama ini kumanjakan.

 

”It was a busy trip,” suaraku sudah kembali normal dengan sedikit senyum penuh arti aku mengucapkannya. Keningnya berkerut, “Busy? What you were busy of?”

Aku mengerjapkan mataku menggodanya, ”Busy to tell my heart not to beat so fast.”

Dia tertawa keras. Aku menikmati tawanya, indah…

 

Hari ini kami menikmati makan malam di restaurant dekat hotel. Tak terlalu lama, dia ingin aku beristirahat setelah perjalanan panjang. Dia memastikan aku sampai ke kamar hotel dengan selamat, dan pamit langsung pulang. Aku memberinya senyum termanis sebelum dia berlalu. Aku menutup pintu dan langsung berbaring.

 

Perutku terasa sakit lagi, akhir-akhir ini sakitnya sering kali kambuh. Kuharap, selama di sini, sakitnya tak kan terlalu parah. Entah bagaimana, aku bisa tidur dengan tenang malam itu. Mungkin karena hatiku yang bahagia bertemu Sang Pujaan Hati.

 

***

 

Esoknya aku sudah bersiap-siap dari pagi karena kami akan bermain ke pantai hari ini. Katanya, dia sudah menyusun rencana mengisi tiga hari kunjunganku di negeri ini. Perutku masih sedikit sakit, tapi aku yakin sakitnya akan reda bila bertemu dengannya, karena dia adalah obat mujarab bagi sakitku separah apapun itu.

 

Jam sudah menunjukkan angka sepuluh, namun dia belum juga muncul. Dia memberikan sebuah nomor untuk dihubungi, tapi aku tak berani mengusiknya… Aku tak mau dia bermasalah dengan istrinya bila aku menelepon. Jam sebelas tiba-tiba pesawat telepon dikamar hotelku berdering, operator memberi tahuku ada telepon darinya.

 

”Dear, I’m so sorry… Little Sara’s a little bit sick. I can’t go there to see you. Well, probably, if there’s possible, I will come… I will call you then…”

 

Aku terdiam serasa seperti kapas yang indah mengembang tersiram air. Aku mencoba tersenyum, orang bilang lawan bicara akan merasa bila kita tersenyum saat berbicara di telepon seraya berkata,

 

”That’s okay Dear… I understand. Stay there with Little Sara. I can see some places around the hotel. Or maybe go to the beach by my self.”

 

“No! No! Don’t go too far without me Dear… Okay, you can take a tour near the hotel, but don’t go too far. I’m so sorry can’t take you to the beach today…” Suaranya penuh dengan penyesalan.

 

“Haaayyy you have said sorry twice, that’s too much. Okay, bye now, take care of the little angel. I wish she’ll be all right and get well soon. Allah Hafiz.”

 

“I know you will understand Dear, Allah Hafiz.”

 

Perutku seketika terasa mulas tak terkira begitu gagang telepon aku letakkan. Aku bergulingan ke sana ke mari menahan sakit. Tanganku dan seluruh tubuhku banjir keringat dingin dan menggigil. Aku menggigit bantal agar tak berteriak atau meraung terlalu keras menahan sakit. Aku butuh obatku, tapi tak kuasa bergerak mencarinya. Hingga akhirnya, aku tak ingat apa-apa lagi.

 

***

 

Aku membuka mataku pelan-pelan, mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Kulirik jam di dinding, telah menunjukkan angka empat!!! Ya Tuhan, aku pingsan selama tiga jam!! Perutku masih sedikit nyeri, tapi sudah tak sehebat tadi.

 

Kuraih obat penahan rasa sakit di dalam tas dengan susah payah, dan kuminum dua butir. Sprei sudah tak karu-karuan bentuknya bekas aku bergumul tadi. Badanku lemas, aku harus makan. Akhirnya aku memutuskan untuk memesan makanan ke kamar. Badanku terlalu lemas untuk keluar kamar. Baru saja telepon diletakkan, ia berdering. Operator mengatakan, lelaki itu menelpon untuk ketiga kalinya dimana yang dua kali sebelumnya tidak ada yang mengangkat.

 

”Hello…”

”Haaayyy where have you been? You didn’t pick up my call twice, but recepsionist said that you were not going anywhere.”

Aku memutar otak mencari alasan.

“I was sleeping Honey… Sorry I can’t hear the ring. I must be sleeping like death hehhehee…” aku memaksakan sebuah tawa.

“Alhamdulillah, I thought there was something happenned to you. Thank goodness if you were just fine. I just want to tell you that I can’t go to Karachi today…”

“That’s okay. I have told you to stay there. I’m fine, don’t worry about me. I’m a big girl, don’t I?”

“Are you okay?” Suaranya terdengar amat merasa bersalah.

“I’m sure I’m okay. Besides that, there’s a man infront of my room asked a date with me hehehhee…”

“Really??? And what you said??” Suaranya terdengar khawatir.

“Hahaha… I’m just kidding honey… Haaayyy… There’s my meal coming. Okay, call me tomorrow yaar… Allah Hafiz,” Suara bel pintu terdengar.

“Okay Dear, enjoy your meal. I will call you as soon as possible. Allah Hafiz.”

Aku meletakkan gagang telepon dan berjalan tertatih menuju pintu.

 

***

 

Esoknya, aku masih tergolek lemah ketika telepon berdering.

“I’m in the lobby, get ready. We will have a date today Dear…”

“Haaayyy so early… Okay, I will get ready. Just wait.”

 

Aku menelan dua butir lagi obat penahan rasa sakit dan menyeret tubuhku ke kamar mandi. Setengah jam kemudian aku sudah keluar dengan mengenakan rok payung kembang-kembang , kemeja putih dipadu kerudung bunga-bunga biru senada. Selop putih berhak dan clutch putih melengkapi penampilanku. Perfect. Wajahku sudah tak terlihat pucat karena dipulasi blush on dan lipstick.

 

Disudut lobby, kulihat seorang lelaki berjanggut mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam.

”Haaayyy we both look so match together, what a weird coincident” Aku menyapanya dengan sebuah gurauan.

Lelaki itu tersenyum, “No, you wear blue cause my heart told you,” katanya sambil memicingkan mata jenaka. Aku hanya tertawa kecil. “Shall we go now?”

“Yes Dear, as you wish.”

 

Lepas Ashar kami beranjak pulang dari pantai. Setelah puas mengobrol dan berjalan-jalan di pantai. Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam dengannya di pantai ini. Menatapi langit yang jernih penuh dengan bintang. Namun dia kelihatan harus segera pulang. Dan aku tak berani mengutarakan keinginanku. Tak apa… Begini pun aku sudah teramat senang. Lagipula, perutku pun sudah mulai terasa kambuh lagi sakitnya.

 

Berkali dia memergokiku meringis membuatnya bertanya kenapa. Aku hanya mengatakan silau oleh sinar matahari yang memang hari itu begitu cerah dengan langit biru dihiasi sedikit saja awan putih bersih. Dan aku pura-pura tak perduli ketika melihat kilat khawatir di matanya.

 

***

 

Aku pulang siang ini…

Ketika sedang membereskan bawaan, terdengar sebuah ketukkan di pintu kamar. Kulihat dia tersenyum di baliknya ketika kubuka.

 

”Can I come in?” Dia bertanya. ”If you wanted to…” Aku menatapnya sedikit heran, aku tak mengira dia akan ke kamarku. Biasanya dia hanya menemuiku di lobby, atau mengantarku sampai ke depan pintu. Aku menutup pintu. Lalu, sekonyong-konyong, dia duduk dilantai dihadapanku sambil menangkupkan kedua telapak tangannya membuatku terpekik kaget.

 

”Please go to a doctor and take your med honey… I know you are very sick! I know you are really want to be together with me… But I’m so very sorry I can’t do that… I have a wife with three children… I can’t hurt them… I love you too,but not in that kind of relationship… Please honey… Don’t make me feel so bad about this all…Don’t punished me with it…I’m so very sorry…” Aku terlongong mendengar dia memohon-mohon begitu rupa.

 

Aku menjatuhkan tubuhku dihadapannya.

“You don’t need to do this! I hate you doing this! Come on! Stand up!” Aku melepas tangannya yang tertangkup dan berusaha membuatnya berdiri. Tetapi lelaki itu malah merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Lelaki itu terisak! Oh Tuhan… Apa yang telah aku lakukan pada lelaki ini hingga membuatnya seperti ini…?

 

Aku tak kuasa menahan tangis. Air mataku mengalir deras dalam keheningan. ”I’m sorry to drag you in this horrible situation Clown…” Aku berusaha bicara dengan suara tercekat.

“Don’t be worry, I have gone to the doctor and took the med. You must know that there’s nothing to do with you about my illness. It’s my fault who makes you feel that you are responsible for this. Maybe that’s what people called mad love…” Aku melepas rangkulannya dan memperlihatkan kotak obatku.

“See? This is all my med,” aku memperlihatkannya dengan tampang dipaksa jenaka seolah itu adalah hal yang lucu.

“Oh Dear, you don’t know how glad I am to hear that… Like a big stone take away from my chest… Please tell me how exactly your condition?” Lelaki itu menatap mataku dalam, tajam namun penuh kelembutan dan cinta. Aku tersenyum, “Honestly… I don’t know exactly my condition either. Yes, I am sick. But I have my medicine. About how long I could stand with this horrible desease, that’s God’s secret I think. I’m ready for the worst thing could be happenned. I believe it’s my kismat, am I right?” mataku memicing seraya tersenyum.

“Just please take care of your self Dear… And take the med ontime…” Tak ada senyum di wajahnya, hanya rona khawatir, rasa bersalah dan tak berdaya yang terpancar…

 

***

 

Aku menatap lelaki itu sekali lagi, untuk terakhir kali. ”May I kiss your hand, Dear…?” kataku lirih.

”Sure,” dia mengulurkan tangan kanannya. Aku meraihnya dan meletakkannya di dahiku dengan penuh khidmat. Dia mengusap kepalaku lembut, terasa bergetar…

 

Tuhan, terima kasih memberiku kesempatan bertemu dengan lelaki ini… Kemudian… aku terbatuk hebat dan tiba-tiba memuntahkan darah segar…

 

Lelaki itu terhenyak, seraya memeluk tubuhku yang terkulai lemas. Bajunya basah oleh darah, mulutnya berteriak-teriak memohon pertolongan. Namun, aku menutup mulutnya dengan telunjukku seraya menggeleng.

”I think… My time has come… Thank you… for all you have gave me… It’s a bless for me to know you… I love you…” ujarku dengan susah payah dan nafas tinggal satu-satu.

Terakhir kulihat disela tangisnya lelaki itu menuntunku mengucap syahadat… Kemudian, semuanya gelap…

Filsafat Bus

Thursday, May 15th, 2008

Bayangkan sodara-sodara, pagi ini ditolak 3 bus dan menolak 2 bus dalam waktu hampir satu jam! Well, agak lebay siy, sebenernya cuma setengah jaman hehehhee… Untungnya, setelah menelan kekecewaan, kegeraman, kemasygulan (hayyaahhhh bahasa apaan lagi tuh), datanglah seekor eh sebuah bis yang ternyata membawaku lebih cepat dari bus biasanya.

Ditengah penantian itu tiba-tiba teringat sebuah artikel kiriman seorang sahabat tentang bus. Katanya, menanti bus itu tak ubahnya seperti menanti jodoh (halahhhh topik itu lageh????? Ga bosen apa?).

Begini katanya.

Awalnya, ketika bus pertama lewat, orang tersebut berfikir “Ahhh masih pagi, busnya jelek. Tunggu bus selanjutnya aja.”

Bus kedua lewat, orang tersebut berkata, “Ahhh… Busnya penuh, males musti berdiri. Tunggu bus selanjutnya aja.”

Bus ketiga, ke empat, ke lima, ke enam, ke tujuh… dan selanjutnya masih dikomentari kurang ini dan kurang itu.

Bus ke sekian yang akhirnya sesuai dengan keinginan lewat, orang tersebut melambai. Tapi busnya yang tak mau berhenti, terus melaju tanpa menghiraukannya.

Kemudian lamaaaaaaaaaaaaa bus tak lagi datang. Jam bahkan sudah menunjukan pukul delapan kurang lima, hanya lima menit lagi saja sampai ke waktu masuk kerja. Orang tersebut mulai gelisah. Kesal, kecewa, marah, sedih, menyesal semua rasa menyatu karena tak juga ada bus yang lewat. Ketika akhirnya bus lewat, dia langsung melambai dan masuk begitu busnya berhenti, tak perduli lagi jurusannya sesuai atau tidak.

Ehm, klo aku yang ada di posisi itu, kayaknya aku bakalan telpon Bluebird aja dech Wuakakakakakakkkkk…..!

Dari kejadian tadi pagi, aku mulai menimbang-nimbang dan mencoba menganalisa (lagi) manusia macam apakah aku ini…

Pertama-tama, aku mencerna, kriteria apakah yang aku buat ketika memilih bus. Ternyata kriteriaku hanya satu, yaitu mendapatkan bus yang sesuai dengan jurusan. Dua bus yang kutolak tadi adalah bus yang walaupun masih bisa dinaiki, tapi tidak sampai pada tujuan akhir. Sedangkan 3 bus yang menolakku, terlalu angkuh untuk menaikkan hanya dua penumpang saja demi mengejar penumpang yang lebih banyak. Dan aku menyimpulkan itu adalah sebuah idealisme semata. Bagiku idealisme itu penting, dan juga penting memiliki sebuah idealisme.

HIDDEN PERSONALITY (PART 5, Finish)

Wednesday, May 14th, 2008

“Sorry ya Mel, aku musti ngomong ini sama kamu…” Lila mengaduk-aduk es telernya.

“Mau ngomong apa siy mBak? Kok kayaknya serius banget, jadi deg-degan nih…” Melly menyahut dengan nada manja, mukanya disorongkan mendekat muka Lila seraya menatapnya lekat. Lila merinding, merasa memang ada ‘yang lain’ dari sikap Melly. Tuhan… Semoga gue cuman sugesti aja… Mudah-mudahan prasangka gue sama anak ini ga bener… Lila meracau dalam hati. Tak tega rasanya melihat gadis secantik ini ternyata… gay…

“Mmmm… Sebelomnya aku minta maaf ya Mel… Aku cuman pengen tanya, rasanya kok kamu perhatian banget yah sama aku? Aku ga pernah diperhatiin temen seperti kamu perhatian sama aku. Maaf klo salah, mmm… tapi… aku ngerasa ada yang lain aja… Maaf ya Mel…” Lila grogi, bingung mau mulai dari mana.

Melly terlihat sedikit melengak, tetapi sejurus kemudian sudah kelihatan biasa lagi. Pintar sekali anak ini mengendalikan emosinya.

“Menurut mBak ada yang lain gimana? mBak ga suka aku perhatian sama mBak?” Melly masih menatap lekat mata Lila. Lila melengos, pura-pura melihat keluar kafetaria.

“Bukan begitu Mel… Bukan aku ga suka… duhhh bingung nih gimana ngomongnya… Gini dech, aku cuman pengen tanya, apa alasan kamu perhatian banget sama aku?” Lila makin gregori.

Sekilat Lila melihat sebuah sorot aneh dari mata Melly, namun kemudian kembali tersaput oleh sebuah senyuman tenang Melly yang kemudian berucap,

“Melly memang sayang sama mBak…”, seketika Lila terkesiap mukanya memucat.

“Sayang gimana maksud kamu?” katanya mengejar dengan nada penuh kekhawatiran. God, Please don’t… doanya dalam hati.

“Melly sayang sama mBak, seperti kakak Mel sendiri… Sejak hari pertama masuk kerja disini, yang suka bimbing Mel, mengerti sama Mel, baik sama Mel, cuman mBak aja… mBak baik, karena itu Mel sayang sama mBak. Jangan khawatir mBak, Mel ga seperti yang mBak Lara gosipin kok…” Melly menunduk.

Lila serasa terhempas dari tebing yang tinggi. Bebas lepas, namun juga sakit dan merasa berdosa menuduh Melly dengan hal yang sadis seperti ini.

“Aku minta maaf ya Mel… Aku bener-bener ga bermaksud buat bikin kamu sakit hati… Hanya saja, aku butuh kepastian. Terus terang aja, aku memang sempat termakan gossip itu, apalagi perhatian kamu rasanya ‘beda’ sama aku hehehehe… Bodoh banget yah aku…?” Lila menggenggam tangan Melly.

“Kamu mau maafin aku? Aku lega ternyata kamu tidak seperti yang digosipin orang…” katanya sungguh-sungguh.

“Ga apa-apa mBak. Aku malah senang mBak ngomong begini sama Melly, daripada tiba-tiba mBak menjauh tanpa bilang kenapa.” Melly tersenyum. Dan lagi, Lila melihat kelebat sorot mata itu. Hanya sekelebat saja.

No hurt feeling yah Mel…Anggap aja ini percakapan bodoh antara dua sahabat yang belum saling mengerti.” Lila mengedipkan sebelah matanya.

Certainly not, mBak…” Mereka pun saling melempar senyuman. Lila lega…

***

================================================================

Tuhan… Mengapa aku ditakdirkan seperti ini… Menjadi manusia yang berbeda dari manusia lainnya… Aku benci menjadi seperti ini Tuhan, aku tak ingin menjadi seperti ini. Tetapi aku tak kuasa menolak semuanya. Aku tak bisa menolak rasa cinta ini, aku benar-benar mencintainya…

Adakah aku berbuat dosa di kehidupan yang lalu, bila benar reinkarnasi itu ada, sehingga Engkau harus menimpakan balasannya di kehidupanku saat ini Tuhan?

Aku mohon, cabut seluruh rasa yang aku punya agar aku tak pernah merasakan rasa yang salah…

Tuhanku… Dalam termangu aku masih menyebut namamu… biar susah sungguh mengingatmu penuh seluruh…*

================================================================

Jari-jemari perempuan itu menari di atas tuts-tuts keyboard dengan lelehan air mata di pipinya. Kemudian berhenti, dan bergerak meremas rambutnya, menelungkupkan wajahnya penuh kekalutan.

“Aku mencintaimu Lila… Dengan segenap rasa hatiku… Entah sejak kapan…” suaranya lirih penuh kesakitan yang tak terperi.

*)Doa, karya Chairil Anwar

Leadership Is Not About Position, But An Attitude

Wednesday, May 14th, 2008

Ya, ini saya baca di sebuah artikel majalah beberapa waktu yang baru lalu. Katanya, leadership (kepemimpinan) bukan berhubungan dengan jabatan melainkan sifat individunya. Siapa saja bisa memiliki sifat ini biarpun Anda bukan seorang yang memiliki jabatan.

Orang yang memiliki sifat pemimpin ditandai dengan cara kerja yang terorganisir dengan rapi, setiap pekerjaan didukung oleh tahap-tahap prosedur untuk mencapai sebuah target tertentu, dan pandai mengevaluasi hasilnya. Tak perlu ada “mandor” yang mengawasi dia akan melakukan pekerjaan sesuai tanggung jawabny. Penuh inisiatif, dan bersikap membimbing.

Sifat pemimpin sangat tidak bisa disetarakan dengan “bossy”. “Bossy” lebih cenderung pada sifat kekanakkan yang membutuhkan pengakuan lingkungan tentang level/tingkatan sang individu di lingkungan tersebut. Sikap “bossy” ditandai dengan rasa ingin menang sendiri (tanpa memiliki argumen pembenar yang jelas), pandai menyuruh/mengintimidasi (tanpa melihat siapa yang bertanggung jawab), dan bila terjadi suatu masalah biasanya angkat tangan, cuci tangan bersih-bersih dan menunjuk orang lain sebagai pelaku utama. Berbeda dengan seorang yang berjiwa leadership, dia akan lebih cenderung melihat kepada inti masalah dan pencarian solusi daripada menyelidiki siapa yang salah (problem solver).

Kebalikan dari sifat leadership adalah “krocoist” (hahhahaa… bikin istilah sendiri). “Krocoist” adalah mental inlander warisan penjajahan selama berabad-abad (emang bisa? Wong yang dijajah nenek moyang kok bukan generasi yang ada sekarang :p)

Mental “krocoist” selalu berada di garda paling belakang, berusaha untuk invisible, pasif, melakukan tanggung jawab hanya bila ada “mandor”, dan biasanya “klop” berada dekat orang yang bersifat “bossy”. “Bossy” pandai menyuruh, “krocoist” musti selalu disuruh hehehhee…. klop kan? :p

Silakan menilai, diri Anda termasuk kepada kelompok yang mana. Selamat merenung dan memperbaiki diri ;)

Kemping Lembang (Part 2)

Tuesday, May 6th, 2008

Oke, lanjut lagi, mpe mana ya tadi? Oh iye, dah nyampe TKP nih ceritanya.

Penderitaan temen cowok gw itu ternyata belom pula berakhir. Secara doi cowok sendiri, doi didaulat jadi bagian angkut2 air. Waduh neeeeeekkk mending klo cuman angkut air di pinggiran situ doank, ini pancurannya musti turun ke bawah bukit!!! Woowwwooowwww gempor dah doi, kesian banget, jadilah direkrut anggota baru mendadak hehhehee just because, anak2 ceweknya ga pada rela bantuin :p Ya iyaaaaaaaalaaaaahhhh bisa2 ni betis segede tales bogor balik ntar.

Singkat cerita kita mulai masak2 negh. Hari pertama ga begitu menyiksa soale tu masakan udah dibikin dari rume temen gw koordinator, jadi kita tinggal nanak nasi and bagi2 doank. Hari kedua mulai kewalahan hihihihiiii… nasi kagak mateng, sayur ga keruan rasenye. Lebih bete lagi waktu tu panitia yg seksi TEPE (Tebar Pesona) bolak-balik muluw ngambilin aer minum! Kagak tauw ape tu aer penuh perjuangan ngambilnya sekuat jiwa dan raga! Makin bete lagi waktu dimintain tolong ambil aer kagak ade yang mauw. Takut luntur kali pesonanya klo ngangkut aer, ntar turun derajat hehehhee… Akhirnya, gw sepakat ma temen2 tu aer ga kite masak hahhahahaaaaaaaa… Sakit perut sakit perut dah loe semua. Kite bikin argumen pembenaran sendiri. Wong ini aer pegunungan kok, di iklan aja kan dibilang, aer pegunungan ntu sehat and aman buat diminum tanpa dimasak pun (hihihihiii… aseli pembenaran yang ngarang buat nutupin rasa bersalah).

Malem ditempat kemping berasa duingin seduingin2nya. Aer baru mateng aja langsung dingin lagi. Lembang geto loch, di ujung awan pula kempingnya. Kira2 jam sepuluhan, temen gw atu ribut minta dianter ke pancuran kebelet BAK. Yahh… kebetulan gw jg lagi pengen, pergilah kite bedua ma temen cowok dua ke pancuran. Pas balik lagi, temen gw yang lain atu misah-misuh ga karuan gara2 ga diajak ke pancuran. Gw bedua temen gw yg tadi pandang2an, lahhh mana gw tau die mo BAK juga. Akhirnya gw bilang gini aje, “udah dech, loe pi**s di semak2 aje. Pancurannya serem banget tau. Gw jagain dech biar ga ada yang liat yah yah yah”, secara tu pancuran jauh dibawah bukit, gempor dech kaki gw musti balik lagi ke sono. Entah karena udah teramat sangat kebelet ato kemakan diplomasi gw hehehheee temen gw nurut aje. Hehehhee jadilah doi BAK disemak-semak sambil wanti2 ma gw ga bakalan bilang sape2. Gw ga bilang sape2 kan yak? Hihihihiii…

Kira2 tengah malem, temen gw yang laen tiba2 kejang2 bibirnya gerak2 ga jelas menggumam2. Gw ma dua temen cewek tarzan gw udah pucet aja, jangan2 ini gara2 “rumahnya yg disemak2″ dipi**sin temen gw trus marah bikin temen gw kerasukan hiiiiiiii…. Gw rada2 bingun mo nulungin temen gw ini, soale mo disuruh Istighfar temen gw ni nonmuslim. Gimane nih??? Gw ribut ma temen2 gw. Kebetulan yg laen lagi pada keliaran jurit malem, pade jaga di pos. Akhirnya kita pada baca2 do’a sebisanya, sambil tiup2 ubun2 temen gw kayak yg pernah gw baca dibuku do’a hehehhee… Sok iyehhhh… Pas gw lagi tiup2 itu, gw denger gumaman temen gw. “Gw kedinginannnnnn brrrr…. bukan kesurupannn…. brrrr… minta selimut duuuunkkk brrrr….” Gw yang lg khusyuk niupin ubun2 temen gw langsung diem and sejurus kemudian ketawa meledak2, temen gw yang laen pada lompat semua menjauh dikiranya tu jin pindah ke gw hahahhaaaaaaaaa…. Tawa gw makin meledak liat tingkah temen2 gw. Sambil masih ketawa ga henti2, gw bilang klo temen gw itu kagak kesurupan tapi kedinginan, minta selimut hihihihiii… Walhasil gw digebukin cewek2 tarzan itu rame2 gara2 bikin jantung mereka copot ma tawa gw hahahhaaaaaaaaa…

Really a beautiful experience with you all mate… Tau kapan kita bisa kumpul2 lagi kayak dulu yak? Dah pade jadi ibu2 siy kalian hehehheee… Gw aja negh kayaknya yang awet tua hahahhaaa…

Kemping Lembang (Part 1)

Tuesday, May 6th, 2008

Gw, termasuk yang hobi bertualang, bertualang makanan juga tempat2 baru… Tapi lebih suka tempat yang alami and natural (eh sama aja yak??? hihihihii…). Cuman, yaaa maklum ajah karena masih hobi setengah2, bukan backpackers sejati, jadinya gw masih tergantung banget ma budget and prefer tempat yg tergolong masih “nyaman” dan “aman” baik untuk kondisi kantong maupun jiwa hehehhee…

Nah, kemping inilah salah satu cara gw menghemat biaya travelling waktu jaman sekolah and kuliah dulu hihihii… Mayan, ikut2 jadi panitia, bisa makan and jalan2 haratis, namanya juga mahasiswa :p Hmmm… Waktu ospek mahasiswa baru angkatan bawah gw, gw nekat jadi volunteer seksi konsumsi dengan pertimbangan, gw ga bakal kelaperan hihihihiii… Secara, tiap ari ngadepin makanan gicu lochhh… Soal bisa masak apa kagak, masakan gw enak apa kagak, gw mah kagak peduli yang penting gw ikut terdaftar di list hihi..

Singkat cerita, sehari sebelon jadwal keberangkatan, gw ma beberapa cewek tarzan lainnya nyiapin apa2 yang musti disiapin berhubungan ma perkonsumsian. Kurang ajarnya, tuh bahan2 masakan, bumbu2 and sebagian masakan dah didelegasiin ma emaknya salah satu temen gw yg jadi ketua koordinator hahahhaaa… Walhasil, kita tinggal angkut and potong2 bahan yg bisa disiapin disono dengan pertimbangan, biar ga terlalu banyak tenaga yg dibuang disono hehehhe… (klo gitu, nape ga sekalian aja pesen katering yak????!!! Ya engga dunk, enak bener orang diospek kok makannya katering. Mereka musti ngerasain bagaimana pedihnya makanan ospek hehehehe… kejam)

Nah, sebagai pasukan pengolah makanan, kite2 kagak ikut ma rombongan truk TNI. Kita ceritenye nyewa sendiri angkot buat ngangkut2 tu makanan ma para pasukannya. Maka diutuslah satu2nya anggota cowok pasukan konsumsier (bikin istilah seenak perut mode on*) untuk mencari sebuah angkutan yang agak besar tapi murah hehehhee… Prinsip ekonomi dunks. Dah dapet angkot tuh ceritenye temen gw itu, and melapor. Pas gw liat, ya ampyuunn… angkot St Hall - Lembang yang you know what gimane kondisinya… Sebelom ditanya, temen gw itu udah langsung bilang, “ya klo mo yang murah ya cuma yg begini yang mao. Tapi tenang aja, ni angkot kan emang udah jalurnya kesono, so don’t judge angkot by it’s cover” katanya sambil nyengir2 kuda. Dasar kuda! Melelehlah kami cewek2 tarzan ini ma bahasa diplomasi temen atu ini, and kita mulai angkut2 buat take off ke TKP.

You know what??? Tempat kempingnya ituw boooooooooooooowwwww eh kata mBak Ratih Sang ga boleh manggil orang pake kata bo karena berasal dari kata cabo, gw ganti aja ma Neeeeeeeeekkkk… ekstreem abissssyyy and penuh gelora hasrat tiada tersalurkan (nah lho mulai ngaco negh…). Sepanjang jalan gw ma cewek2 tarzan ituw sibuk megangin panci2 isi makanan karena terancam tumpah gara2 tu sopir ternyata bekas pembalap drugrace plus jalan yang berkelok-kelok and turun naik menambah indahnya suasana. Walhasil, bukan cuman tangan yang beraksi, ampe kaki pun ikut naik ke pinggiran panci karena tangan dah ga bisa diandelin hihihiiii… Dah macam Jet Li lagi digodok di padepokan Shaolin ampe split-split :p Ternyata itu belon yang terburuk, tinggal beberapa langkah lagi sampe (langkah dinosaurus maksutnya hihhihiii) tu mobil yg ada di tanjakan curam mendadak berenti!!! Iye bener berenti!!! Mati mesin!!!! Gile niy jantung, ga tau dah copot gelinding ke mana. Sedikit2 tuh angkot mulai gelinding mundur… Cewek2 tarzan udeh mulain tereak2 ga karu2an, kena histeria kompleks. Si sopir drugrace tereak, “Eh tu yg cowok, tolong cari batu! Ganjel ban belakangnya!” Muke gw ma cewek2 tarzan pucet sepucet2nya. Butet dech… Jadi mpe sini aje apa ya story gw??? Berakhir dengan tragis bersama makanan yang porak poranda??? Hhhh… Baiklah… To be or not to be… (hihihihiii apa coba?). Temen gw yg atu2nya cowok itu pun kena dikerjain. Doi turun nyari batu dengan paniknya. Setelah dapet disuruh dorong… Tragisnya, waktu tuh angkot dah mo maju lagi, dengan gagahnya tu angkot melenggang tanpa setitikpun memberi belas kasih pada tatapan nanar penuh kesedihan temen cowok gw yg berpeluh2 dibelakang sana dgn muka merah kecapekan and kepanasan tak berdaya mengejar hihihihiii… Sopirnya cuma tereak,

“Ditunggu di atas! Takut ni mobil mati lagi klu berenti!”

Hahahhaaaaaa… kesian dech loe friend… setelah itu, gw bersumpah kagak akan maw lagi jadi seksi konsumsi di acara kemping brutal kayak begini seumur idup gw… NEVER!!!!!! NEVER AGAIN!!!!

Ceritanya lom selese, ntar disambung lagi yeeeeee…. :d

HIDDEN PERSONALITY (PART 4)

Monday, May 5th, 2008

Gedubrak! Lila terhempas dari kasurnya terjun bebas ke lantai. “Revaaaaaaaaa!!! Aduhhhh… kebiasaan dech loe kalo tidur ngabisin tempat begituwwww!” Lila melolong ga terima.

Reva terlentang di atas tempat tidur dengan aman sentausa, lengkap dengan muka bayinya. Lila merutuk-rutuk dalam hati, melihat Reva. Dalam imajinasinya, dia sedang membejek-bejek tubuh Reva sampai menjadi adonan donat.

Jam menunjukkan pukul 9 siang. Glad it’s Saturday… katanya dalam hati. Lila mengumpulkan segenap tenaganya berdiri untuk melaksanakan balas dendam. Dia mengambil ancang-ancang dan hups! Dia menerbangkan bantalnya ke tubuh Reva, manuver pertama! Selanjutnya manuver yang lebih dahsyat!

Dia menjatuhkan tubuhnya di atas bantal yang notabene berada di atas tubuh Reva. Reva menjerit-jerit terbangun, dan langsung melakukan pembalasan. Mencoba menggeliat mengenyahkan tubuh Lila yang ganas penuh amarah. Namun apa daya, tubuh Reva yang kecil tak mampu menyingkirkan mesin giling di atas tubuhnya.

Setelah Reva menepuk kasur tiga kali, Lila tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan seraya berdiri di atas kasur dan menginjak bantal yang masih berada di atas tubuh Reva yang tak kuasa bergerak. Laksana matador yang baru selesai menaklukkan banteng. Hihihiii… Sinting…

Suara nada sms masuk terdengar dari hape Lila, membuatnya menyudahi upacara kemenangannya. Reva dengan sigap menyambar hape sebelum sempat tersentuh oleh Lila. Terjadi lagi pergumulan dua perempuan barbar memperebutkan hape.

“Bentar-bentar, Lil… Dari Melly,” Reva menyerahkan hape yang sudah berhasil dibaca sms-nya.

“Perasaan kok, anak ini sering banget sms-in loe yach? Cuman bilang met pagi doank, dah makan belom, makan yang banyak, kayak pacaran aja kalian.” Reva nyengir menyerahkan hape ke Lila.

Lila meringis, “Iya, gw juga ga ngerti negh Va. Niy anak kok jadi begini… Jadi kepikiran email gossip dari mBak Lara…”

“Lara Croft? Yang suka bikin gossip asal di kantor loe ituw? Mangnya diye bilang paan?” Lila dan Reva duduk bersisian di sisi tempat tidur yang berantakan kayak kapal pecah. Dilantai teronggok mangkuk bekas mie tadi malem plus mug besar berisi setengah kopi item Sumatera entah refill yang ke berapa sisa Reva begadang.

“Iya, mmmm… Kira-kira dua minggu yang lalu die kirim gw email gossip bilang klo Si Melly tuh lesbong, and diye ada hasrat ma gw heheheee… Gw anggap waktu itu tuh Lara Croft biang gossip cuman ngarang aja bikin ide sadis cuma buat nyari bahan gossip. Tapi kok… Rasanya… Menurut loe gimana Va?“ Lila tiba-tiba berpaling ke arah Reva menatap lekat-lekat mukanya.

“Mmmm… Menurut gw Lil… Ini menurut gue aja nih yah… Menurut gue, kita kayaknya musti mandi dulu dech atow seenggaknya gosok gigi! Mulut loe bau naga!!! Hahahahaaa…!” Reva berlari ke kamar mandi.

Lila ikut ketawa cekakakan. “Iya juga negh, mulut gue bau naga heheheee…”

 

Lila dan Reva berbincang dengan masing-masing sepiring nasi uduk di hadapannya.

“Kayaknya emang ada yang ga beres sama si Melly ini Lil… Mang orangnya kayak gimana sih?” Reva penasaran.

“Ih orangnya cantik Va, tapi ya lebih cantik gue lahhh hehheheeee… Gue aja yang cewek liat dia seneng, kok ada gitu loch cewek secantik itu. Kadang gw pikir, jangan-jangan doi alien…” Mata Lila menerawang, seraya mengangguk-angguk bak profesor sedang meyakini sebuah teori baru.

“Sirik aja loe!!!” Reva menimpukkan sebuah kerupuk ke muka sobatnya dan terkikik berdua.

“Tapi iya juga tuh, akhir-akhir ini kok makin banyak cewek cakep yah, heran. Kita yang biasa-biasa begini jadi susah neghhh…”

“Tuhh kan bener, kayaknya mang teori gue itu bener. Sebenernya dunia kita ini sedang di invasi sama makhluk alien dech. Serius gue!” Lila meyakinkan Reva dengan mimik serius. Sejurus kemudian mereka berdua sudah tertawa terbahak-bahak.

“Sakit jiwa!” Reva menimpukkan sebuah kerupuk lagi.

“Eh, loe kan pernah gw kenalin ma dia. Itu lochhh yang makan tongseng Bang Kumis bareng kita waktu ituuuw,” Lila teringat.

“Ooooo yang itu… Hmmm…” Reva mengangguk-angguk.

“Mmmm… Menurut gue siy sebaeknya loe ngomong langsung sama dia dech. Soalnya gue juga dah ngerasa ada yang ga beres sama ini cewek Lil. Kayaknya perlakuannya ma loe udah agak-agak ga normal. Yaaa biarpun loe emang bukan cewek normal yeeee… Tapi ni cewek lebih abnormal lagi” kata Reva sungguh-sungguh.

Lila mendelik, “Hobi banget loe ye nyela gue!”

“Mmm… bener juga siy eloe. Kayaknya gue mang musti clear-in masalahnya dari sekarang. Cuman, klo ternyata engga, apa ga bakalan bikin doi sakit hati Nek? Loe inget donk waktu gw dikantor yang dulu juga pernah dituduh begitu. Sadis banget ya tu orang fitnah gue begitu???” Tiba-tiba Lila berhenti.

“Va, jangan-jangan emang ada yang ga beres ama gue. Heran, kok sampe dua kali gue kena masalah beginian biar pun dengan cerita yang berbeda…”

“Yahhhh dia baru nyadar. Kan gue dah bilang dari tadi loe tuh mang abnormal hehheheee…” Reva tertawa senang merasa menang.

“Emang bener gue keliatan abnormal Va? Loe bisa liat gue kayak cewek lesbian?” Lila mengejar.

“Yeeee die seriusssss! Udah lah Non… Klo loe ngerasa straight, bukan termasuk komunitas gay. Percaya dunk ma hati nurani loe sendiri. Tapi selama ini gue sama loe, gue ga merasa ada yang aneh ma loe. Yaaaa biarpun loe ga laku-laku amat sama cowok hehehehe… Tapi loe emang bukan tipe lesbong. Klo barbar iya, tapi bukan lesbong lahhhh… Klo lesbong mah, loe pasti ngerasa ‘apa-apa’ deket-deket ma gue. Atow… jangan-jangan… Loe ngerasa ‘apa-apa’ ga deket-deket gue?!” Reva menelisik roman Lila lekat-lekat. Lila mendelik, mulai bangkit gemasnya ‘ditembakkin’ Reva dari tadi. Dia bangun dari duduknya menyerbu kepala Reva ingin ngejitak. Reva berlari menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.