HIDDEN PERSONALITY (PART 2)

Tilililiiitt… Telepon di meja Lila berdering. Lila agak terlonjak kaget karena sedang asyik berkutat dengan angka-angka di layar komputernya.

“Butet dech, untung jantung gw ga copot!” Katnya merutuk-rutuk.

“Halo?”, “Eh, halo mBak Lila. Udah waktunya makan siang nih mBak, makan yuk!”

Sebuah suara manja mendayu-dayu diseberang sana menjawab. Lila melirik jam di komputernya, “Oh ya ampyun! Dah jam duabelas aja ya? Ga berasa banget! Aku nanti dech makan siangnya Mel, lagi tanggung nih. Maaf ya…”

“Yahhh… mBak Mel workaholic nih, hati-hati loch mBak ntar sakit klo telat-telat makan muluw…” Suara di seberang sana terdengar merajuk dan khawatir.

“Hehehee… Engga kok, cuman beberapa hari ini aja agak hectic. Kamu makan aja duluan yah!” Lila merasa agak sedikit tidak enak, tapi apa daya pekerjaan masih bertumpuk menanti untuk dijamah sebelum deadline.

“Ya udah dech, ntar aku beliin aja makan siang buat mBak Lila,” klik! Terdengar bunyi gagang telepon diletakan sebelum Lila sempat mengatakan penolakannya.

“Yahhh dimatiin, ya udah hehhehee… Syukur dech ada yang beliin makan siang, gw ga perlu pergi ke luar.” Lila terkikik senang. Sejurus kemudian dia mulai kembali tenggelam dengan pekerjaannya.

“Ini aku beliin ayam kalasan plus keremesnya kesukaan mBak.” Melly tersenyum dengan mata berbinar sudah berada di depan Lila dengan sepiring nasi plus lauk pauk di tangannya.

“Ya ampun Mel! Sampe segitunya, makasih banget loch. Kamu sudah makan? Berapa nih?” Lila cepat merogoh tasnya mengambil dompet.

“Ga usah mBak, aku yang traktir! Aku dah makan tadi di sana. Yuk mBak, aku balik ke ruanganku.” Melly cepat berbalik demi melihat Lila merogoh tasnya, dan berlalu dengan mengedipkan sebelah matanya.

“Yahhhh Mel! Jangan gitu donkz, Aku kan jadi enak niy kalo begini hehehheee…” Lila tersenyum devil. “Makasih Lochhhh!” Teriaknya sambil melambai.

“Asyiiikkk… Rejeki mah datengnya dari mana ajah hehehhee…” Kata Lila sambil menyuap nasinya.

“Ehm! Dapet upeti nech! Hati-hati loch ada peletnya!” Suara Lara yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya kontan membuat Lila tersedak dan terbatuk-batuk.

“Uhuk! Uhuk! Apaan sih niy Si mBak, keselek nich! Uhuk! Ngagetin aja. Dateng-dateng kok ngomong yang enggak-enggak.” Lila meraih mug didepannya dan mereguk isinya menetralisir kerongkongannya yang agak perih keselek sambel.

“Yaaaa gitu aja kok kaget Jeuuunnngggg… Perasaan nada suara gw biasa aza dech! Loe nya kali sensi waktu denger kata pelet hehehhee… Hati-hati looowwwwh!” ucap Lara sambil berlalu membawa serta bibir dowernya dengan mata menyala-nyala.

Hiiii klo di pelem kartun, tu orang pasti udah digambarin bercula, bertaring lengkap dengan api menyelubungi tubuhnya hehehhee… Imajinasi Lila mulai beraksi.

Namun tak bisa dipungkiri, kata-kata Lara membuat Lila menatap piring nasinya dengan tatapan sendu. Setelah lirik kiri kanan meyakinkan tak ada lagi orang yang dengan seenak udelnya nongol begitu aja di sekitar mejanya, dia meraih piring dan memutarkannya di antara kakinya tiga kali!

“Hiiiihihihiiii… termakan mitos gw!” Dia terkikik sendiri dilanjut dengan menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Mental anak kecil yang suka lupa apa yang baru saja terlintas tadi tanpa bekas hehehee…

Leave a Reply