POP CORN… Hmmm… Yummy? (Part 2, Finish)
Tililililiit! Telepon di meja Lila berdering, “Ya?… Siapa?! … Oke, suruh tunggu disitu, ntar gw ke sana Sie. Thanks yach,” Klick. Lila mengernyitkan keningnya, mengusap-usap dagunya, kebiasaannya kalau menemukan sesuatu yang janggal. “Ada apa Si Won Bin kesindang…?” katanya membatin, tapi tak urung dia langkahkan kakinya ke ruang receptionist. Di sana Jerry sedang menunggu di sofa sambil membuka-buka koran ditemani tatapan mupeng Sisi. Begitu melihat Lila muncul, Sisi mengirim kode-kode yang artinya kira-kira “Kenalin gw dunkkkzzzz… Duhhhh cakep banget adek loe!” dengan aksi teatrikal menyembah-nyembah kaki Lila. Lila pura-pura tidak melihat. “Tumben Jim, ga ada yang diisengin yah main ke tempat kerja gw?” seraya menghempaskan tubuhnya di sofa samping Jerry. Jerry tersenyum lebar melihat Lila, “Iya ne, mau ajak Kak Lila temani saya jalan-jalan putar Jakarta. Please…” Lila membeliak, “Eh gw lagi kerja. Loe pikir ini perusahaan nenek moyang gw apa?” Jerry menengok jam di pergelangan tangannya. “Sudah jam lima, waktunya pulang. Tidak boleh terlalu keras bekerja,” perkataannya lebih seperti perintah daripada permintaan. Membikin Lila gemas dan bersiap mendaratkan jarinya ke pipi Jerry. Jerry tak berkelit, entah mengapa dia senang bila Lila menyentuhnya biarpun pedih bekas cubitannya tapi dia bahagia. Lila tertawa-tawa kegirangan melihat Jerry mengaduh kesakitan. “Ya udah dech, karena loe tamu gw and ganteng pula, jangan ge-er dechhhh!!” Jerry tertawa senang.
“Loe culik Si Tatang ga bakalan dibunuh sama Re?” Lila masuk ke mobil Katana kesayangan Reva. Mobil yang ga begitu nyaman, karena setiap diajak lari mengocok penumpangnya serasa dalam Roller Coaster, namun Reva sayang sekali dengan Katana-nya. Alasannya, Katana ini sudah menemaninya mengarungi hidup sejak jaman kere. Dibeli dengan susah payah dari menyisihkan honor menulisnya. “Siapa Tatang?” Jerry tidak mengerti. Lila tersenyum geli, Reva memang sakit, mobil Katana-nya pun dia namai Tatang. “Ini, mobil Katana-nya Reva. Kan namanya Tatang,” masih dengan senyum geli Lila menjelaskan. Jerry tertawa, “My Aunty is really sick indeed… Hehehhee… But I really love her anyway, and she loves me too so very much even though she tries so hard not to show it… Dia meminjamkan Si Tatang (dengan penekanan) untuk saya berjalan-jalan karena dia sedang tidak bisa menemani saya. Dia sedang berusaha keras menyelesaikan proyek novel trilogi-nya.” Lila manggut-manggut. “Makanya loe sekarang gangguin gw yach?” ujarnya dengan mata menatap ke depan. Jerry terdiam lama membuat Lila menoleh karena tak ada tanggapan dari anak kecil cerewet ini. “You don’t like to walk with me?” Jerry berujar akhirnya dengan datar. Lila mendelik dilanjut dengan tertawa terbahak mendapati respon seperti itu. “Loe sensi banget dech hari ini! PMS yah?! Hahhahaa… Dasar anak kecil, diki-dikit merajuk,” katanya sambil mencibir dan mengacak rambut Jerry. Jerry menghindar, membuat Lila terheran-heran. “Loe kenapa sih? Kok kayaknya aneh banget hari ini? Salah makan yah?” Lila menatap sambil nyengir. “Oke dech, maap yah klo loe tersinggung. Gw seneng kok jalan ma loe, apalagi loe ganteng begini hehhehee… Asal jangan ada yang komen gw macam Tante Girang aja bawa-bawa berondong kemana-mana…,” Seketika air muka Jerry berubah senang. “Thank you… and I like to walk with you either, a smart beautiful woman. By the way, apa saya mirip pop corn?” Wajah Jerry mengernyit-ngernyit berusaha memahami. Lila malah tertawa terbahak-bahak, bukannya menjelaskan malah menjawab “Yes you are, honey…”
“Ga nyangka gw, loe bakal ngajak gw makan di tempat seromantis ini Say,” Lila berdiri di balkon sebuah restoran fancy ternama memandang Jakarta malam hari yang dipenuhi lampu, indah… “Hey look! Ada kembang api!” Lila berteriak-teriak kegirangan. Jerry yang sudah berdiri di sisinya menatapi kelakuan Lila dengan mata berbinar dan senyum lebar. Tiba-tiba saja lengannya yang kokoh merengkuh pinggang Lila, dan biiiiiiiiiiippppppppppp! (Maap, kena gunting Badan Sensor Film heheheheee…). Lila yang tak siap mendelik tak percaya, dan meronta melepaskan diri. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Jerry, keras dan telak meninggalkan bekas merah di pipi putihnya. “How dare you do that to me!!” mata Lila menyala-nyala. Jerry terlihat shock sama seperti Lila, tak menyangka reaksi Lila akan semarah itu. “I’m so sorry… I just… I don’t know how… But… This is not really my plan. I just… I guess, I was carried away… I’m so sorry, it doesn’t mean that I don’t respect you… I’m sorry if what I have done is hurting you…” Jerry mengusap-usap mukanya dengan kasar berulang-ulang, menatap Lila putus asa, menatap langit, begitu berulang-ulang. Membuat Lila tak tega tetapi juga belum siap untuk berkata-kata, speechless… Jerry menerawang ke atas langit mengucap sesuatu yang bahkan membuat Lila semakin shock. “I don’t know how to say this… But I… I love you very much…” katanya lirih. Lila merasakan sebuah dinamit menghantam kepalanya dan memecahnya menjadi berjuta-juta keping. Matanya menatap nanar ke mata pemuda 20-an dihadapannya. “Oh Tuhan, andai saja pemuda ini lahir sepuluh tahun lebih awal…” batinnya nelangsa. “Jerry honey… Please don’t be crazy… I am a lot more older than you are, how could you in love with me…? Clear your mind, I’m sure it’s only your emotion which talked. Please forget it and I will pretend that this never happened. I do love you honey… but not as a woman to a man. It’s a lot more precious love, which never be broke. Do you understand me honey…?” Lila menatap lembut pemuda didepannya dengan penuh kasih sambil menggenggam tangan dinginnya erat. “Mengapa umur menjadi masalah? Saya tidak keberatan kamu lebih tua sepuluh tahun dari saya.” Lila membeliakkan matanya jenaka dan berujar, “Yea right, and I will become a grandma for you honey… If… Re wasn’t killed me before that hehehhee…” Lila menatap dalam-dalam mata Jerry dengan senyuman dan mendaratkan telunjuknya di bibir ketika Jerry akan membuka kembali mulutnya untuk megucap pembelaan atas cintanya yang dipandang suci. “I’m sure you will understand it in the future honey…Besides that, cinta tak harus memiliki bukan?” Lila menghela nafas berat. “You can come to me again, if 10 years after today you haven’t find a girl better than me,” tangan Lila menyentuh sekilas dagu Jerry dan mencium pipinya lembut. “Honey, thanks for loving me… This is the sweetest thing ever happened in my entire life…” Jerry tak mampu berkata apa-apa karena tahu Lila tak kan bergeming walaupun dia menghiba merangkak memohon cintanya. Lila sama keras kepalanya dengan Aunty-nya. Dia hanya bisa pasrah dan diam-diam berdoa semoga tidak akan ada wanita yang mengisi harinya selama sepuluh tahun ke depan. Lebih dalam lagi berdoa agar Tuhan pun tak menyelipkan seorang lelaki di kehidupan Lila hingga sepuluh tahun ke depan! Kasihan Lila, termakan kata-katanya sendiri membuat seorang pemuda berdoa agar dirinya sulit berjodoh.
Dua hari dari peristiwa itu, Jerry pulang kembali ke Jepang biarpun visa berkunjungnya masih menyisakan satu minggu lagi. Re manyun-manyun karena masih kangen dengan keponakannya tercinta. Lila tahu semua karena kejadian di balkon restoran malam itu, tapi dia tidak menyentuh sedikit pun topik tersebut. Lila sudah memblok memorinya mengenai peristiwa itu dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Lila masih mampu mencubit lembut pipi Jerry sebelum dia berlalu, dibalas dengan ciuman ringan dipipinya. Membuat dia terpekik sedikit namun kemudian tersenyum. Mereka saling melempar senyum penuh arti. “Ahhh… Lelaki kecil yang manis… Andai saja aku seorang phedophil…” Lila membatin. “Ahhh… Beautiful young woman… Wait for me 10 years minus two days ahead. I will come to you with a bunch plenty of love…” Jerry membatin. Reva masih tetap berusaha menyembunyikan sudut matanya yang kembali berair…