POP CORN… Hmmm… Yummy? (Part 1)
“La, temenin gw yuk! Jemput ponakan gw dari Jepang, katenye pengen liburan di sini,” Reva menarik selimut tanpa peri kemanusiaan, bak pesulap menarik taplak dari meja berisi penuh peralatan makan diatasnya tanpa membuat peralatan makan itu bergerak dari tempatnya. Tidak perduli Lila sedang tidur lelap dan mungkin saja terkena shock karena hentakan tiba-tiba yang dilakukan Reva. Lila yang untung saja memang cuman sedang tidur-tidur ayam, pura-pura tidak mendengar dan menarik kembali selimutnya menutupi kepala. Mulutnya menggumam-gumamkan sesuatu yang ga jelas sama sekali. “Lila! Please dunk bangun! Gw ga bisa idup tanpa loe! Please don’t make me losing my world…” Reva tiba-tiba meraung hiperbolis. Lila langsung menghentakkan selimut yang menutupi mukanya seraya menatap Reva dengan jijik. “Ngomong paan loe? Jijay banget sumpeh dech! Jangan bikin gw muntah dech loe. Pergi aja sono sendiri, gw ngantuk. Lagian, ceritanya pan gw lagi marah ma loe!” Lila menghardik Reva kasar and pasang muka jutekz sejutekz-jutekznya masih teringat kejadian di kawinan Jacelyn minggu lalu. “Yaaaahhh eloe, cerita yang itu pan udah tamat dari kemaren. Waktu episode gw minta-minta maap ma loe and nemenin loe jelasin ma ortu loe soal calon loe yang ga ada ituw. Loe kemana aja mangnya ga nonton episode yang ituw? Kelayapan muluw siy loe,” Reva nyerocos ga jelas dengan muka lempeng rebahan disisi Lila dengan cueknya. “Iiiihhh dasar loe nyebelin!” Lila mendaratkan guling ke wajah Reva dengan telak. Reva yang ga siap dengan serangan mendadak agak gelagapan, namun sejurus kemudian bangkit dari gelagapannya dan meraih bantal untuk dijadikan senjata balik menyerang. Tidak bisa dihindarkan lagi, perang dunia tiga pun pecahlah (eh udah kejadian lom siy yah perang dunia ketiga? Hihihihi maklum nilai sejarah gw tiarap serendah-rendahnya). Lila dan Reva saling gebuk dan ketawa sekeras-kerasnya. Dasar, manusia-manusia setara peterpan (bukan pereman terminal antapani loch) yang tidak akan pernah bisa menjadi dewasa. Mental balita yang terperangkap di tubuh tua menuju keriput. Lupa kalau umur sudah merangkak menuju 30 tahun. Tiba-tiba Lila mendadak menghentikan aktivitasnya menggebuki Reva yang disambut dengan sebuah hantaman keras tanpa dapat dibendung ke arah wajahnya. Buk! Lila pun terkapar rebah, pasrah di atas ranjang tapi dia tak membalas. “Jam berapa die datang Re?” kata itu yang keluar dari mulut Lila seraya menoleh ke arah jam di dinding. Reva secara reflek ikut menoleh ke arah jam. “Jam 5 siy katanya…,” Reva meringis. Lila membeliak, “Gile loe, ini udah setengah enem! Bisa-bisa jamuran ponakan loe nunggu di Cengkareng! Wahhh loe tega Re, gimana coba klo ada yang nyulik?!” Lila misah-misuh ga keruan, agak-agak merasa bersalah karena ikut andil dalam keterlambatan ini. Reva keliatan tenang dan masih juga bisa cengar-cengir, “Ga apa-apa. Cowok ini, udah mahasiswa pula masa’ ga bisa mikir sech mau-maunya diculik pake embel-embel mo dikasih permen. Yang ade, die yang nyulik anak perawan orang hehhehee…” Lila mengernyit, “Ponakan loe yang mana siy? Si… Jerry yah? Anak kecil jahil and gemesin ituw? Yang pipinya putih and tembem kayak bakpao?” Reva mengangguk-angguk masih tetap rebahan. “Wahhh… Masa’ siy udah mahasiswa sekarang??? Iiihhh… Kok waktu cepet banget yah larinya. Perasaan baru kemaren kan die kita kejar-kejar gara-gara pipinya ituw lochhhh menggoda iman hehehhehee…” Lila menerawang, ingat kejadian sekitar sepuluh tahun lalu, ketika dia masih pake seragam putih abu-abu dan Jerry pake baju putih merah. Lila senyum-senyum sendiri ingat kelakuannya yang mengejar-ngejar Jerry kayak mengejar anak ayam cuma buat mencubit pipinya yang chubby, dan biasanya diakhiri dengan teriakan histeris Jerry yang marah dan ga rela diperlakukan as delicious as Lila’s belly button (maksutnyah, seenak udelnya Lila hehhehee).
Lila dan Reva celingak-celinguk di terminal kedatangan luar negeri mencari sesosok pemuda 20 tahun-an yang pipinya putih and chubby sesuai ingatan sepuluh tahun lalu. “Gimandra negh Re, nampakznyah ponakan loe dah beneran raib. Loe siy ga niat banget mo jemput, jadwal arrival jam lima nongol jam…,” Lila menengok jam di tangannya sekilas. “Ya ampyun, jam lapan Re! Pantes aja tu anak mabur. Jangan-jangan, doi balik Jepang lageh. Loe Bibi macam apa siy?” Lila menatap Reva dengan tatapan insulting. Seperti biasa, Reva lempeng aja dituduh macam-macam oleh Lila. Cuma satu aja yang bikin dia mendelik, “Ihhhh bahasa loe ga elit banget! Masa’ gw dipanggil Bibi?! Loe kira gw Bibi penjual pecel apa?! Aunty donk, Aunty. Lagian, gw dari dulu pan udah nyuruh Si Jerry manggil gw Kakak hehehe…,” Reva cengengesan. “Yang gini negh yang namanya melawan hukum alam, melawan kodrat. Udah tua mah tua aja lah Jeng… Hihihi…” Lila mengacak-acak rambut Reva yang seadanya dan dicat merah dan biru, bener-bener tipikal seniman eksentrik. “Hehehhee… Yaaa siapa tahu klo gw bertahan berjiwa muda terus begini, Tuhan bisa lupa berapa umur gw hahhahahaaa…!” Reva tertawa terbahak-bahak lepas. Ditatap Lila dengan prihatin, “Sakit ni anak, semoga Tuhan mengampuni Loe Re… Ummm… Tapi… Gw juga ikutan sekte loe dech siapa tahu analisa loe kali ini bener hihihihii…” Akhirnya mereka cekikikan berdua tanpa menyadari ada sepasang mata mengamati semenjak lima menit yang lalu.
Pipi pemuda itu tidak seperti yang dibayangkan dua perempuan yang melawan kodrat itu. Pipi itu masih putih agak kemerahan tapi tidak tembem. Rahangnya kuat membingkai sebuah wajah di atas rata-rata dengan tatanan rambut disisakan satu senti. “Kalian datang untuk tertawa karena topik tidak jelas atau akan menjemput saya ne?” terdengar suara pemuda itu dengan logat yang agak aneh mengejutkan dua perempuan yang diamatinya sedari tadi. Serentak Lila dan Reva menoleh ke arah suara. Lila tercekat menahan nafas, “Gile! Won Bin Re?! Bukannya dia orang Korea, kok speaks Bahasa yach…?” Reva mengernyitkan alis melihat pemuda yang berdiri beberapa meter dihadapannya dengan senyum jahil dan mata jenaka. “Jerry?! Loe beneran Jerry?!” Reva berlari menghambur ke arah pemuda itu dengan jari-jemari siap mendarat di pipinya. Sang pemuda dengan sigap menangkap tangan Reva tak rela pipinya dijamah. “Eits! Jangan coba-coba ya, saya sudah besar sekarang. Tidak akan membiarkan kalian mencubit-cubit pipi saya. How r u Aunty? Or… Kak Re?” Jerry memeluk Reva dengan erat dan senyum tak lepas dari bibirnya. “Wahhh… Loe udah gede ya… Tega loe ga pernah balik ke Indonesia selama sepuluh tahun. Ahhh… sudahlah… yang penting loe sekarang udah di sini. Loe ganteng banget sekarang yach, ampe ga ngenalin gw…” Reva menatap takjub keponakannya yang hilang sepuluh tahun lalu, ada setitik air di sudut matanya yang cepat diusapnya pura-pura menyibak rambut agar tidak sampai tumpah. Tapi terlambat, air mata itu sudah terlihat oleh Jerry. “Woowww… U r crying?! It’s miracle! Hahahha…” Jerry memelototi wajah tantenya menggoda dan tertawa-tawa senang melihat tantenya berusaha menyembunyikan wajah. Reva menonjok bahu Jerry dengan kesal, “Loe udah berani ya ma gw sekarang? Mentang-mentang badan loe udah gede begini…”, Jerry hanya tertawa-tawa kegirangan. “So, itu pasti Kak Lila?” katanya sekonyong-konyong mengalihkan pandangan ke arah Lila. Reva mengikuti pandangan Jerry, “Oh ya, dia masih terkesima dikiranya Won Bin nyasar ke Indonesia hehhehee… La!” ujarnya seraya melambai ke arah Lila yang masih mengamati dari tempatnya tadi. Lila masih diam di tempatnya, Jerry mendekatinya. “Halo Kak Lila, apa kabar ne?” katanya seraya mengamati wajah Lila dekat-dekat dengan senyum dan mata jenaka. “Tidak mau cubit pipi saya?” Jerry menggoda. Lila tertawa, sekilat tangannya mendarat di pipi Jerry yang memang berada dekat sekali. “Hahahhahaaa… Kenaaaaaaaaaaa! Duhhhh loe udah gede banget ya sekarang! Ganteng kayak Won Bin! Sepuluh taon loe ngilang! Kita-kita bener-bener keilangan loe tauw?!” Jerry yang tidak menyangka akan diserang secara brutal begitu misah-misuh ga keruan menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jepang. Reva yang melihatnya tertawa-tawa melompat-lompat sambil bertepuk tangan kegirangan. Masih manyun mengusap-usap pipinya yang semakin merah karena serangan Lila dia berujar, “Baka…!” Entah mengumpat Lila atau mengumpati dirinya sendiri yang tidak sigap mempertahankan “propertinya” dari serangan mendadak tadi. Reva dan Lila semakin tergelak-gelak kegirangan melihat Jerry manyun mengutuk-ngutuk sambil toss di udara. Bener-bener ga inget umur…