Archive for March, 2008

POP CORN… Hmmm… Yummy? (Part 1)

Monday, March 31st, 2008

“La, temenin gw yuk! Jemput ponakan gw dari Jepang, katenye pengen liburan di sini,” Reva menarik selimut tanpa peri kemanusiaan, bak pesulap menarik taplak dari meja berisi penuh peralatan makan diatasnya tanpa membuat peralatan makan itu bergerak dari tempatnya. Tidak perduli Lila sedang tidur lelap dan mungkin saja terkena shock karena hentakan tiba-tiba yang dilakukan Reva. Lila yang untung saja memang cuman sedang tidur-tidur ayam, pura-pura tidak mendengar dan menarik kembali selimutnya menutupi kepala. Mulutnya menggumam-gumamkan sesuatu yang ga jelas sama sekali. “Lila! Please dunk bangun! Gw ga bisa idup tanpa loe! Please don’t make me losing my world…” Reva tiba-tiba meraung hiperbolis. Lila langsung menghentakkan selimut yang menutupi mukanya seraya menatap Reva dengan jijik. “Ngomong paan loe? Jijay banget sumpeh dech! Jangan bikin gw muntah dech loe. Pergi aja sono sendiri, gw ngantuk. Lagian, ceritanya pan gw lagi marah ma loe!” Lila menghardik Reva kasar and pasang muka jutekz sejutekz-jutekznya masih teringat kejadian di kawinan Jacelyn minggu lalu. “Yaaaahhh eloe, cerita yang itu pan udah tamat dari kemaren. Waktu episode gw minta-minta maap ma loe and nemenin loe jelasin ma ortu loe soal calon loe yang ga ada ituw. Loe kemana aja mangnya ga nonton episode yang ituw? Kelayapan muluw siy loe,” Reva nyerocos ga jelas dengan muka lempeng rebahan disisi Lila dengan cueknya. “Iiiihhh dasar loe nyebelin!” Lila mendaratkan guling ke wajah Reva dengan telak. Reva yang ga siap dengan serangan mendadak agak gelagapan, namun sejurus kemudian bangkit dari gelagapannya dan meraih bantal untuk dijadikan senjata balik menyerang. Tidak bisa dihindarkan lagi, perang dunia tiga pun pecahlah (eh udah kejadian lom siy yah perang dunia ketiga? Hihihihi maklum nilai sejarah gw tiarap serendah-rendahnya). Lila dan Reva saling gebuk dan ketawa sekeras-kerasnya. Dasar, manusia-manusia setara peterpan (bukan pereman terminal antapani loch) yang tidak akan pernah bisa menjadi dewasa. Mental balita yang terperangkap di tubuh tua menuju keriput. Lupa kalau umur sudah merangkak menuju 30 tahun. Tiba-tiba Lila mendadak menghentikan aktivitasnya menggebuki Reva yang disambut dengan sebuah hantaman keras tanpa dapat dibendung ke arah wajahnya. Buk! Lila pun terkapar rebah, pasrah di atas ranjang tapi dia tak membalas. “Jam berapa die datang Re?” kata itu yang keluar dari mulut Lila seraya menoleh ke arah jam di dinding. Reva secara reflek ikut menoleh ke arah jam. “Jam 5 siy katanya…,” Reva meringis. Lila membeliak, “Gile loe, ini udah setengah enem! Bisa-bisa jamuran ponakan loe nunggu di Cengkareng! Wahhh loe tega Re, gimana coba klo ada yang nyulik?!” Lila misah-misuh ga keruan, agak-agak merasa bersalah karena ikut andil dalam keterlambatan ini. Reva keliatan tenang dan masih juga bisa cengar-cengir, “Ga apa-apa. Cowok ini, udah mahasiswa pula masa’ ga bisa mikir sech mau-maunya diculik pake embel-embel mo dikasih permen. Yang ade, die yang nyulik anak perawan orang hehhehee…” Lila mengernyit, “Ponakan loe yang mana siy? Si… Jerry yah? Anak kecil jahil and gemesin ituw? Yang pipinya putih and tembem kayak bakpao?” Reva mengangguk-angguk masih tetap rebahan. “Wahhh… Masa’ siy udah mahasiswa sekarang??? Iiihhh… Kok waktu cepet banget yah larinya. Perasaan baru kemaren kan die kita kejar-kejar gara-gara pipinya ituw lochhhh menggoda iman hehehhehee…” Lila menerawang, ingat kejadian sekitar sepuluh tahun lalu, ketika dia masih pake seragam putih abu-abu dan Jerry pake baju putih merah. Lila senyum-senyum sendiri ingat kelakuannya yang mengejar-ngejar Jerry kayak mengejar anak ayam cuma buat mencubit pipinya yang chubby, dan biasanya diakhiri dengan teriakan histeris Jerry yang marah dan ga rela diperlakukan as delicious as Lila’s belly button (maksutnyah, seenak udelnya Lila hehhehee).

Lila dan Reva celingak-celinguk di terminal kedatangan luar negeri mencari sesosok pemuda 20 tahun-an yang pipinya putih and chubby sesuai ingatan sepuluh tahun lalu. “Gimandra negh Re, nampakznyah ponakan loe dah beneran raib. Loe siy ga niat banget mo jemput, jadwal arrival jam lima nongol jam…,” Lila menengok jam di tangannya sekilas. “Ya ampyun, jam lapan Re! Pantes aja tu anak mabur. Jangan-jangan, doi balik Jepang lageh. Loe Bibi macam apa siy?” Lila menatap Reva dengan tatapan insulting. Seperti biasa, Reva lempeng aja dituduh macam-macam oleh Lila. Cuma satu aja yang bikin dia mendelik, “Ihhhh bahasa loe ga elit banget! Masa’ gw dipanggil Bibi?! Loe kira gw Bibi penjual pecel apa?! Aunty donk, Aunty. Lagian, gw dari dulu pan udah nyuruh Si Jerry manggil gw Kakak hehehe…,” Reva cengengesan. “Yang gini negh yang namanya melawan hukum alam, melawan kodrat. Udah tua mah tua aja lah Jeng… Hihihi…” Lila mengacak-acak rambut Reva yang seadanya dan dicat merah dan biru, bener-bener tipikal seniman eksentrik. “Hehehhee… Yaaa siapa tahu klo gw bertahan berjiwa muda terus begini, Tuhan bisa lupa berapa umur gw hahhahahaaa…!” Reva tertawa terbahak-bahak lepas. Ditatap Lila dengan prihatin, “Sakit ni anak, semoga Tuhan mengampuni Loe Re… Ummm… Tapi… Gw juga ikutan sekte loe dech siapa tahu analisa loe kali ini bener hihihihii…” Akhirnya mereka cekikikan berdua tanpa menyadari ada sepasang mata mengamati semenjak lima menit yang lalu.

Pipi pemuda itu tidak seperti yang dibayangkan dua perempuan yang melawan kodrat itu. Pipi itu masih putih agak kemerahan tapi tidak tembem. Rahangnya kuat membingkai sebuah wajah di atas rata-rata dengan tatanan rambut disisakan satu senti. “Kalian datang untuk tertawa karena topik tidak jelas atau akan menjemput saya ne?” terdengar suara pemuda itu dengan logat yang agak aneh mengejutkan dua perempuan yang diamatinya sedari tadi. Serentak Lila dan Reva menoleh ke arah suara. Lila tercekat menahan nafas, “Gile! Won Bin Re?! Bukannya dia orang Korea, kok speaks Bahasa yach…?” Reva mengernyitkan alis melihat pemuda yang berdiri beberapa meter dihadapannya dengan senyum jahil dan mata jenaka. “Jerry?! Loe beneran Jerry?!” Reva berlari menghambur ke arah pemuda itu dengan jari-jemari siap mendarat di pipinya. Sang pemuda dengan sigap menangkap tangan Reva tak rela pipinya dijamah. “Eits! Jangan coba-coba ya, saya sudah besar sekarang. Tidak akan membiarkan kalian mencubit-cubit pipi saya. How r u Aunty? Or… Kak Re?” Jerry memeluk Reva dengan erat dan senyum tak lepas dari bibirnya. “Wahhh… Loe udah gede ya… Tega loe ga pernah balik ke Indonesia selama sepuluh tahun. Ahhh… sudahlah… yang penting loe sekarang udah di sini. Loe ganteng banget sekarang yach, ampe ga ngenalin gw…” Reva menatap takjub keponakannya yang hilang sepuluh tahun lalu, ada setitik air di sudut matanya yang cepat diusapnya pura-pura menyibak rambut agar tidak sampai tumpah. Tapi terlambat, air mata itu sudah terlihat oleh Jerry. “Woowww… U r crying?! It’s miracle! Hahahha…” Jerry memelototi wajah tantenya menggoda dan tertawa-tawa senang melihat tantenya berusaha menyembunyikan wajah. Reva menonjok bahu Jerry dengan kesal, “Loe udah berani ya ma gw sekarang? Mentang-mentang badan loe udah gede begini…”, Jerry hanya tertawa-tawa kegirangan. “So, itu pasti Kak Lila?” katanya sekonyong-konyong mengalihkan pandangan ke arah Lila. Reva mengikuti pandangan Jerry, “Oh ya, dia masih terkesima dikiranya Won Bin nyasar ke Indonesia hehhehee… La!” ujarnya seraya melambai ke arah Lila yang masih mengamati dari tempatnya tadi. Lila masih diam di tempatnya, Jerry mendekatinya. “Halo Kak Lila, apa kabar ne?” katanya seraya mengamati wajah Lila dekat-dekat dengan senyum dan mata jenaka. “Tidak mau cubit pipi saya?” Jerry menggoda. Lila tertawa, sekilat tangannya mendarat di pipi Jerry yang memang berada dekat sekali. “Hahahhahaaa… Kenaaaaaaaaaaa! Duhhhh loe udah gede banget ya sekarang! Ganteng kayak Won Bin! Sepuluh taon loe ngilang! Kita-kita bener-bener keilangan loe tauw?!” Jerry yang tidak menyangka akan diserang secara brutal begitu misah-misuh ga keruan menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jepang. Reva yang melihatnya tertawa-tawa melompat-lompat sambil bertepuk tangan kegirangan. Masih manyun mengusap-usap pipinya yang semakin merah karena serangan Lila dia berujar, “Baka…!” Entah mengumpat Lila atau mengumpati dirinya sendiri yang tidak sigap mempertahankan “propertinya” dari serangan mendadak tadi. Reva dan Lila semakin tergelak-gelak kegirangan melihat Jerry manyun mengutuk-ngutuk sambil toss di udara. Bener-bener ga inget umur…

LIFE IS TRULY ODD (PART 2 FINISH)

Wednesday, March 19th, 2008

Pesta pernikahan Jacelyn, adik Lila tinggal menghitung hari, dan Lila belum juga punya kandidat untuk jadi pendampingnya nanti. Mama Lila sudah wanti-wanti untuk mengenalkan pacarnya sekalian ke keluarga besar. Tanpa lupa mengingatkan bahwa sekarang umurnya sudah hampir mencapai tiga puluh tahun. Dalam hati Lila membatin, “Mangnya napa umur hampir tiga puluh??? Gw yang lom kawin kok orang laen yang repot? Jadinya kan kalo diingetin terus-terusan kayak begini, maw ga maw gw jadi ikutan mikir jugaaaaa… Arghhhh!” Lila menjambak rambutnya yang makin cekot-cekot dengan brutal. Tiba-tiba terdengar suara Mas Joko CS kantornya dengan nada khawatir, “Aduh mBak, jangan dijambak-jambak itu rambutnya, nanti saya ambilkan obat sakit kepala saja kalau migrennya kambuh ya…” Lila hampir terlonjak, tak menyangka masih ada orang di kantor jam lembur begini. “Eh, Mas Joko, ga usah Mas, makasih saya ada kok. Belom pulang Mas? Ini kan udah Jam delapan? Biasanya jam enam sudah pulang kan?” Kali ini Mas Joko yang hampir terlonjak melihat penampakan di depannya. Bagaimana tidak kaget melihat rambut Lila jigrak tidak karuan gara-gara dijambak-jambak tadi, dengan mata agak memerah. Kayak film horor hiiii… Mas Joko merinding sendiri, dan reflek menengok kiri kanan dan terakhir ke kaki Lila. Mukanya pucat seketika, kaki Lila ga menyentuh tanah!!! Ya iyaaaalaahhhh… Wong disitu pake karpet kok, mana bisa donk nyentuh tanah hihihihi… Paling banter juga nyentuh tegel. “Belom nih mBak, saya tadi baru pulang diminta temenin ke Mangga Dua sama Mas Syaiful, benerin komputer bantuin angkut-angkutnya.” Lila mengangguk-angguk, shiluetnya makin mengerikan saja. Mas Joko meringis-ringis seram. “Ya sudah, saya permisi pulang duluan yah mBak.” Katanya minta diri cepat-cepat, takut Lila berubah jadi kuntilanak hehehheee… Begini nih kalau kebanyakan nonton film horor. “Iya Mas silakan, aku juga bentar lagi balik negh, puyeng banget kepala,” katanya sembari membereskan rambutnya dengan jemari. Diaduk-aduknya isi tas mencari sisir, sadar juga dia ternyata rambutnya ga karu-karuan. Lima belas menit kemudian dia sudah berjalan lunglai, pulang.

 

Hari H, Jacelyn kelihatan cantik sekali, manglingi kalau kata orang Jawa bilang. Lila menatap sedikit iri, bagaimanapun dia perempuan normal yang mendambakan hidup seperti perempuan lain seusianya yang kebanyakan sudah memomong anak. Lila menarik napas berat dan membuangnya dengan keras, membuat perias pengantinnya menengok sekilas dan tersenyum samar. “Kenapa bukan gw yang duduk disituw? Gw kan juga ga jelek-jelek amat. Hu uh! Sebal! Aaarrrrggghhh!” batinnya dalam hati. Sejurus kemudian ibunya masuk ke kamar pengantin, demi melihat Jacelyn beliau terpekik girang. “Duh! Duh! Anakku sudah cantik begini… Semoga perkawinan kalian langgeng sampai ajal menjemput ya sayang…” katanya sambil mencium kening Jacelyn. Sejurus kemudian, dia tiba-tiba berbalik pada Lila. “Lila, mana calonmu? Kamu sudah janji kan akan mengenalkannya pada seluruh keluarga besar hari ini? Mama sudah bilang loch sama MC-nya untuk diberi space special buat perkenalan kalian,” katanya dengan nada biasa saja. Tetapi di kuping Lila, bagai godam besar menghantam gong maha dahsyat. “Mama! Kok ga bilang-bilang bikin begituan? Batalin, batalin! Lagian, Lila kan ga janji, Mama sendiri yang nyimpulin begitu. Lila juga ga tahu apa calon Lila bakalan bisa datang atow engga…” Lila meracau putus asa dan panik. Mama mendelik, “Pokoknya Mama ga mau tahu, semua harus berjalan sesuai rencana. Eits!” telunjuk Mama mengacung ke udara, “No but!” Lila menghembuskan nafas geram, bila sudah begini Mama tak akan lagi bisa dibantah. Lila kadang benci sifat Mama yang sepertinya tidak mau mengerti perasaan dia. Ingin menangis, ingin marah, putus asa, panik, semua rasa bercampur menjadi satu. Lila akhirnya pasrah, sudahlah apapun yang akan terjadi, terjadilah…

 

Sebuah ketukan terdengar di kamar Lila. Lila yang terpekur dikamarnya tak berani keluar, seram membayangkan pertanyaan-pertanyaan dari kaum kerabat yang sudah mendapatkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya (baca, Mama) bahwa dia akan mengenalkan arjunanya malam ini. Dia merasa terintimidasi akut. “Yang begini nih yang disebut kekerasan dalam rumah tangga,” batinnya gemas. Terdengar lagi ketukan di pintu kamarnya agak sedikit lebih keras. “Ya, sebentar!” dengan langkah lunglai Lila berjalan menuju pintu. Diputarnya kunci dengan malas-malasan. Begitu pintu terbuka, sesosok manusia berpakaian jas menyeruak masuk ke kamarnya. Hampir saja Lila terpelanting karena terdorong oleh sosok itu. Lila ternganga karena kaget, matanya membeliak namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tangannya refleks menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. “What’s this all mean…?!” serunya setelah agak reda dari keterkesimaannya. Sosok didepannya hanya tersenyum-senyum sambil mengangkat-angkat alis. “Hehehhee… Gimana? Gw cakep ga? Udah pantes lom jadi calonnya eloe?” Lila menatap jijik kearah Reva. “Loe bener-bener gila Re, serius! Loe butuh rehabilitasi! Tuhaaannn kenapa gw dikasih sobat segila dia…” serunya meratap-ratap. Reva hanya tersenyum penuh arti, bahkan terlihat puas karena bisa mendedikasikan dirinya demi membantu sahabatnya tercinta. “Listen to me honey, believe me it’s a very much crazy and ridiculous idea that you have made! Keluarga gue kenal loe dari ujung rambut ampe ujung kaki, biarpun loe nyamar pake karung goni di kepala loe, keluarga gw bakalan tau loe tuh Reva! Biarpun to**t loe ga semenonjol cewek-cewek normal, tapi mereka akan tetep tau loe cewek!!! Jangan fikir hidup gw ini sinetron picisan yang orang bisa nyamar cuman dengan dipasangin wig aja dan orang-orang ga bakalan kenal siape eloe!!! Aduhhhh Reva… Gw ga tauw musti ngomong apa lagi… Loe emang bener-bener gila…” Lila akhirnya hanya terpekur lemas dipinggiran tempat tidur, ditingkahi tatapan Reva yang full cengengesan.

Beus Full Dedeth!

Tuesday, March 18th, 2008

Rabu, 24 Januari 2007

Poe iyeu naek beus mani istuning pisan… FULL DEDET!! Dencis mah eleh we lah! Hihihi… Tapi untungna meneran kenekna tangginas, bur-ber kahareup ka tukang neang jalan sangkan eta beus laluasa ngarayap di jalan (bener ngarayap! da muaceeeeeeeeeetttt pisan). Dasarna dipaparinan ku Nu Kawasa boga tampang innocent, dina beus nu sakitu dedetna, aya wae nu haat mere tempat hahahaha… Dan duduklah diriku dengan aman sentausa… :D

Sapanjang jalan si kenek ribut pahibut ngatur sewa jeung jajalaneun beus. “Miring mBak, miring Pak, ayo masuk lagi! masuk lagi!, masih kosong! masih kosong!” cenah bari nyurung2 sewa. Nempo sewa sakitu dedetna, disurung2 sangkan bisa leuwih dedet! Kurang ajar, sapi ge noker mun dikitukeun mah komo jelema! Nya ngarambek atuh, ngan teu warani ngomong, ukur camberetut daragang tutut :p

Teu sirikna unggal halteu ngasupkeun sewa! Nepi ka dedet na panto ampir mudal, untung sim aing (wups punten ah hehe… esmosi yeuh) diuk di deukeut panto, jadina bisa jadi sukarelawan metotan teteh2 jeung ibu2 nu keukeuh peuteukeuh (kade salah nya, lain keukeuh sumeukeuh! Nu bener mah KEUKEUH PEUTEUKEUH!! Bejaan tah ka nu sok harayang ngomong sunda bari jeung teu nyaho undak usukna asal ngeunaheun sorangan wae! Ngarusak pisan!) harayang naek bari jeung hararese oge. “Pegangan tangan saya aja ngga apa2 mBak…” ceuk sim aing asa jadi pahlawan hahahha…

Teu cukup ku kitu, unggal ngarasa jalan beusna kahalangan, si kenek langsung bertindak. Lumpat kahareup geus kawas polantas pisan. Trus, menta jalan ka beus nu lian sangkan mere jalan! Anehna, teuing ngomongna kumaha, beus2 nu lian marere jalan! Hebring euyy!!!! Salut lah! Two thumbs up!! Teu disangka2, si kenek the ningan urang sunda oge! Soalna pas di cabang jalan cawang atas si kenek teh ngomong kieu… “Kiri Bang, potong aja! Kosong! Bebeskeun we bebeskeun!” cenah. Ngadenge kitu, na jero hate kuring ngupat… “Bebeskeun we beungeut sia!” (wuaaahahahahaa…. Punten deui ahhh… leuwih esmosi!)…

Akhirna, sanggeus sajam di jalan, nepi oge ka Mampang. Na hate mikir… wahhhh sigana bakal jeblog yeuh, aya galian busway didaerah eta, da kamari hujan teu anggeus2 nepi ka peuting. Amit-amit taneuh beureum!!! Kawas geus ti sawah jeblogna!! Ngerakeun!! Padahal kantorna di gedung make karpet! Bisa2 dicarekan OB hese makumna hehehe… Ahhh… untung deui… si supir nurunkeunana saencan naek jembatan layang… Boa-boa ngadengeeun sim aing ngupat na hate nya??? :p

Alhamdulillah, dugi kalayan salamet… ok that’s all folks!

PS : Yang engga ngerti, bisa hubungi 911 hehehe…

Pelantikan IPSI Galur Rasa

Tuesday, March 18th, 2008

Hihihhi… can nanaon geus hayang seuri iyeu teh kumaha… Ehm, kieu caritana yeuh batur. Kuring teh lumayan resep kana ngulik elmu olah kanuragan. Jaman SMP kuring ngiluan Karate, jaman SMA ngiluan IPSI, kuliah ngilu Taekwondo katempo pisan nyak rayunganana hahaha… Kulantaran kitu, jadina euweuh hiji oge nu nepi ka sabuk luhur. Paling ukur nepi ka sabuk hejo hehehe… Tapi teu nanaon da niatna oge ngan ukur sangkan rada gerak teu lembon teuing. Cacakan pangawakan awewe, tapi cenah ceuk batur mah kuring teh kawas Mantili mun keur mapakkeun jurus2 teh hahahhaa… (katempo kolotna nya, taun sabaraha tah carita Brama Kumbara :p)

Nu rek dicaritakeun ayeuna teh pas jaman SMA, pangalaman keur dilantik jadi anggota paguron silat. Harita teh kabeneran pelantikanana diayakeun di Gunung Tua, Subang. Ngaranna di gunung, neang cai teh lumayan hese. Kudu aprak-aprakkan ka pancuran nu ayana di handeuleum sieum kekekkekkkk… Nya maklum weee da urang dayeuh kuring mah , teu biasa leumpang na taneuh beureum, jaba mudun, becek deuih da barudak barulak-baralik wae ka cai. Gampang pisan tiseureuleu! Meus meus ngarawel taktak baturan meus meus ngarawel leungeunna meus meus ngarawel buukna da sieun ragrag hahaha… Baturan kuring nu sarua ti dayeuh baketut ngocomang panjang pondok, ambek dijadikeun puntangan, padahal manehna oge keur bajoang sakuat tanaga sangkan teu labuh hahahha… katambah acan aya listrik, wahhh pokona mah penderitaan tiada akhir we lah hihi… (didramatisir saeutik).

Biasana, mun pelantikan dimana2 ge sok aya wae ngaprak peutingna. Tahhh kuring ge sarua. Sakabeh nu ngilu pelantikan dijieun sababaraha kelompok nu anggotana 6 nepi ka 8 urangan. Tiap kelompok dibere lilin hurung hiji jang bekel lunta nyusur2 jalan nu geus ditangtukeun ku lanceuk2 sapaguron. Edunna teh teu meunang mawa korek! Cenah mah sangkan katingali mana nu bisa nyepeng amanah mana nu henteu… (kumaha maneh we lah cek kuring na jero hate nu penting mah kuring lulus hehehe… Ngan na jero hate da betus langsung mah hemir oge, hayang di arah meureunan sapeupeuting di”gawe”an???? kekekkekk). Oh enya, ditambahan deui peupeujeuh, mun aya nanaon, kasasar atawa mendakan nu aneh titah ngagorowok wae “Ge-eR! Ge-eR!” maksudna mah pondokna tina Galur Rasa, lain Gede Rumasa :p

Kelompok ka hiji geus bral miang kalayan aman sentausa, nyaaa sahenteuna nepi ka pos hiji lah. Selang lima menit, kelompok kadua ge bral miang teu loba carita… Pas anu katilu, karek oge sabaraha meter kahareup, pet! lilinna pareum!!! Atuhhhh kacipta mongklengna, da di tempat start oge geus teu katingali belegbeg-belegbegna acan. Keur mah bajuna hideung, katurug2 poek… Halahhh kabayang… “Alah siah, itu kumaha?” cek kuring, kabeneran kadengeeun ku lanceuk sapaguron. “Ahhh keun we, da aya pos deukueut dinya”, cenah nembalan. Kuring ukur pateuteup2 jeung batur sejen.

Teu sabaraha lila, jol aya sora gudubrag gadabrug diembohan ku sora embe pating erele ti lebah kelompok tilu tadi poekeun lilin… Nu araya di tempat start patingcuringhak, narangtung harayang nyaho naon nu geus kajadian. Si lanceuk sapaguron nu tadi nembal kuring berengbeng lumpat ka tempat kajadian. Rada lila lumayan karek balik deui, bari cakakak cikikik sorangan. Nya ditaranya ku lanceuk sapaguron nu lian da panasaran harayang nyaho. Kuring jeung babaturan yunior mah teu wani nanya, ngan masang cepil da sarua panasaranana hehehe… Bari masih keneh seuri si Akang teh ngomong kieu, “eta, barudak nu tadi… hahahah! Pan poekkeun, teu bisa ningali curuk2 acan! Kalah hayuh nyuksruk ka kandang embe! hahahahhah! Nya puguh rame, embena pating erele, lain mah geura marangkat ti dinya kalah ngadon darongko bari gogorowokan Ge-eR! Ge-eR! Hahahahhahaaaaaa…. Belegug!”

Kuring jeung babaturan yunior harita mah ngan bati nyengir koneng, da ari kudu sarua nyeungseurikeun mah asa teu wasa sieun katulah…. Tapi mun ayeuna mah inget deui, wuahahahahahhhhh……. Ngilu ahhhh seuri nepi ka nyeri kulit beuteung…. Hahahahhaaaa…! Cik, saha nu rumasa nyuksruk ka kandang embe, ngacung!!!!!! Hahahhahahaaaaa….!!!

Kehidupan Adalah Pohon Takdir

Friday, March 14th, 2008

Ya, kehidupan ibarat sebuah pohon takdir yang ditumbuhi beribu bahkan berjuta cabang dan ranting. Ada cabang yang kokoh berdaun rimbun berbunga dan berbuah melimpah. Ada cabang yg kokoh namun tak dihiasi terlalu rimbun daun maupun buah dan bunga yang indah, tapi masih tetap berdaun, berbuah dan berbunga. Ada pula cabang yang kering hingga hanya memiliki sedikit daun karena meranggas, tanpa memiliki sedikitpun buah dan bunga. Yang paling menyedihkan adalah cabang yang bahkan mati sebelum ditumbuhi daun…

Ketika cabang terbentuk, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi terhadap cabang tersebut. Semuanya berada diluar jangkauan, berada diluar kuasa kita.

Cabang dan ranting adalah pilihan-pilihan yang harus kita tempuh untuk menjalani kehidupan. Setiap keputusan memiliki konsekuensi dan resiko masing-masing. Jadi, kehidupan yang dimiliki saat ini adalah hasil dari keputusan atas pilihan-pilihan yang sudah kita lakukan dimasa lalu. Waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. Tidak berguna menyesali pilihan yg sudah kita ambil, all you have to do is just make the best decision in the future to make a betterment of the life we’ve been through. Hidup ada ditangan kita sendiri, baik atau buruk hasil yg kita dapat, itulah resiko atas pilihan yang telah kita buat.

WORKING HARD, WORKING SMART

Friday, March 14th, 2008

Mungkin banyak orang berfikir bahwa pegawai yang menghabiskan banyak waktu berada dikantor adalah pegawai teladan yang berdedikasi tinggi dan meluangkan seluruh waktunya demi kemajuan perusahaan. Pemikiran seperti ini tidaklah salah, tapi tidak juga sepenuhnya benar. Bagi saya pribadi, menemui situasi seperti ini, justru harus diwaspadai. Mengapa demikian? Berikut pengamatan dan pemikiran berdasarkan pengalaman yg saya alami sendiri.

Seorang pegawai meluangkan banyak waktu demikian lama berada dikantor karena beberapa kemungkinan,

1. Pekerjaan yang dibebankan terlalu banyak dan tidak sesuai dengan kapasitas kerja normal. Pembebanan pekerjaan diluar batas kapasitas normal berbahaya bagi perusahaan. Mengapa demikian? Pegawai yang bekerja terlalu keras, sampai mungkin tidak sempat istirahat akan menghasilkan hasil kerja yg tidak maksimal bahkan cenderung tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi bila pekerjaan tersebut berhubungan dengan tenggat waktu dan target tertentu. Hal ini bisa diindikasikan dengan banyaknya produk output error dan pegawai rentan terkena sakit (biasanya penyakit yg berhubungan dengan organ pencernaan diakibatkan stress yang memicu produksi asam lambung tinggi).
Solusi : Menambah pegawai.

2. Pegawai bekerja dengan tidak efisien dan efektif. Hal ini bisa terjadi bila pegawai tidak kompeten di bidangnya, atau tidak dapat memanfaatkan alat bantu kerjanya secara optimal. Sehingga, banyak pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan dengan cepat, namun karena keterbatasan pengetahuan dilakukan dengan waktu yang lama.
Solusi : Training/Pelatihan.

3. Ada kecengan di kantor heheheheee… Mulai dech ngelantur :p

Bagi para pegawai, ada sedikit pengalaman yang ingin saya bagikan. Bila Anda tidak merasa pintar ataupun cerdas, jadilah orang yang banyak tahu. Tambah terus pengetahuan Anda, entah dari membaca, mendengar, bertanya dan yang lebih cepat adalah learning by doing. Jangan segan-segan untuk melakukan hal yang baru untuk menopang pekerjaan Anda. Cobalah, cobalah dan tetap mencoba. Kesalahan memberi Anda pembelajaran tentang sesuatu yang benar. Jangan pernah menciut karena jawaban-jawaban yang tak bersahabat ketika Anda bertanya. Jadikan itu sebagai penyemangat bahwa Anda akan berusaha lebih banyak lagi tahu agar tidak perlu banyak bertanya. Dan satu lagi yang mungkin banyak orang tak menyukai hal ini, jadilah orang yang banyak manfaatnya. Buat diri Anda bermanfaat bagi orang lain, jangan pernah merasa Anda “dimanfaatkan”. Mungkin saat ini Anda tidak merasa, tetapi suatu saat Anda akan merasakan, bahwa manfaat yang ada pada diri Anda adalah nilai tambah bagi Anda. Orang yang banyak manfaatnya lebih “bernilai” daripada orang yg kurang manfaatnya. Anda secara tidak sadar telah meningkatkan kualitas mutu diri Anda. Sehingga pada akhirnya nanti, bukan Anda yang mencari rejeki tapi rejeki yang menghampiri Anda.

Jadikan tempat bekerja Anda sebagai rumah kedua, jangan perlakukan kantor seperti entitas luar dari lingkungan pribadi Anda. Buat lingkungan kerja senyaman mungkin. Karena lingkungan kerja yang nyaman adalah untuk diciptakan, dan mulailah dari diri Anda sendiri.Buat rekan kerja sebagai saudara sepenanggungan, lakukan pendekatan one on one relationship (cieeee kayak kuliah database hehehe…) untuk lebih mengenal karakter rekan sekerja Anda. Rangkul rekan2 kerja Anda untuk bekerja bersama-sama. Karena bagaimanapun maju mundurnya tempat bekerja Anda berdampak pada diri Anda sendiri. Jadi, berikan yang terbaik untuk tempat bekerja Anda. Satu yang saya pesan, jangan pula terlalu berlebihan menaikkan sense of belonging Anda terhadap perusahaan, sampe barang perusahaan juga diembat hihihihiiii… Ngelantur lagiii…. :p

Terakhir, jangan lupa untuk beristirahat. Jangan membiasakan diri membawa pekerjaan kantor ke rumah. Biarkan tubuh dan fikiran Anda beristirahat dan “bersenang-senang” setelah seharian bekerja. Sehingga esok hari Anda fresh lagi memulai hari Anda.

Baiklah, sekian artikel sok tau yang diambil dari sumber tak jelas ini. Isi artikel bukan menjadi tanggung jawab penulis hehehehe…

PELAPORAN SPT PRIBADI TAHUNAN 2007

Friday, March 14th, 2008

Berdasarkan PER-161/PJ./2007 buat para Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang berkewajiban melapor tahun ini, bisa memilih opsi formulir SPT dibawah ini. Asalkan sesuai kriterianya. Klo ada yang butuh form-nya bisa hubungi akyu yakz. (Maap ga bisa di post disini, lom sampe ilmunya hehhee…)

1. Form 1770-SS digunakan untuk WPOP yang hanya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja dengan penghasilan bruto maksimum Rp 30 Juta setahun dan tidak memiliki penghasilan lain selain dari bunga bank dan/atau bunga koperasi. (1 lembar)

2. Form 1770-S digunakan untuk WPOP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. (3 Lembar, 1 induk plus 2 lampiran)

3. Form 1770 digunakan untuk WPOP yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas. (5 lembar, 1 induk plus 4 lampiran)

Tambahan, pelaporan SPT tahun 2007 diberlakukan formulir baru.

LIFE IS TRULY ODD (PART 1)

Friday, March 14th, 2008

“Eh, gile loe ye Re??? Masa’ gw dikenalin ma aki-aki uzur bau tanah???” Reva yang kena omelan malah ketawa terkikik-kikik. “Nah, eloe kan ga bilang secara spesifik kriterianya kayak apaan? Loe cuman bilang butuh cowok seenggaknya sampe kawinan adek loe. Yaaa gw cari yang gampang-gampang aje, kebetulan doi semangat banget tuh waktu gw liatin foto loe… Hihhihiiii…” Mata Lila membeliak lebar mendengar jawaban Reva yang bener-bener ga bertanggung jawab itu. Dengan gemas dia berlari mengulur tangan dengan target kuping sahabatnya. Yang dijadikan target sontak melesat melarikan diri sambil masih tertawa terbahak-bahak. Sudah seperti anak kecil saja kelakuan mereka.

Lelah berlari-larian mereka terduduk lemas bersender di pinggiran tempat tidur, “Loe tega banget siy ma gw Re…” Lila menatap mata Reva berkilat-kilat, namun kemudian meredup. “Apa gw seburuk itu ya ampe loe kasih bandot tua ganjen ituw? Masa’ baru ketemu aja udah ngajak gw check in?! Gile banget tu bandot tua! Benci gw ma loe!” Mata Lila kembali berkilat-kilat memandang sahabatnya. Reva yang dipelototin tenang-tenang aja ga ada respons apa pun kecuali cekikikan. Setelah agak mereda dia akhirnya berkata-kata juga. “Bukannya gw tega ma loe Lil! Gw cuman mo ngetes aja apa loe masih waras apa kagak. Untungnya loe ternyata masih waras, hehhehee…” Lila mendelik lagi. “Aduh Lil, loe melatat-melotot muluw, gw takut mata loe nggelinding bentar lageh! Serem gw, kayak pelem horor ajah ihhhh…” Reva menatap penuh kengerian ke arah mata Lila, yang ditatap makin gemas and mendaratkan tangannya mengacak rambut sobatnya yang cuman seadanya. “Maksut loe apaan???” Kata Lila setelah puas mengacak-acak rambut Reva. “Abis, gw aneh banget ma loe! Masa’ cuman gara-gara adek loe mo nikah loe musti punya pacar segera??? Tambahan lebih gila lagi, batas pacarannya cuman ampe kelar resepsi adek loe! Loe sakit Lil,” Lila menunduk menekuri karpet kamarnya. “Ya abis gimandra, harga diri bow… Masa’ adek gw bisa kawin, lah gw, pacar aja kagak punya? Merana negh gw, stress, stress beratttt…” Lila mengucek-ngucek rambutnya yang sebahu dengan membabi ngepet. Reva demi melihat acting sobatnya yang boleh dibilang cuman bisa dapet nilai 3 itu malah makin cengengesan. “Eh… Hidup ini udah sulit, ga usah dech loe bikin lebih sulit lagi dengan teori-teori ga penting loe ituw. Jodoh tuh ga kayak tangga Neng! Musti beleret dari atas ke bawah. Kebetulan aje loe mang agak telatan dibanding adek loe, tapi itu bukan berarti loe lebih baek dari adek loe…” Lila menatap mata Reva dengan jijik dan mengintimidasi. “Sumpeh dech, loe ga bikin gw ngerasa lebih baik Re! Sono, mendingan loe hengkang dari kamar gw!! Gw benci ma loe!!” Teriaknya kemudian sambil mendorong-dorong tubuh Reva keluar kamarnya, yang didorong-dorong malah ketawa cekakakan makin lama makin keras. “Dasar gilaaaaaaaa!!!” Teriak Lila setelah berhasil mengeluarkan Reva dari kamarnya.

Lila menatap langit-langit kamarnya, berbaring dengan tangan dan kaki bebas lepas sambil mau tak mau merenungi dengan sukses apa yang baru saja sahabatnya katakan. Sejurus kemudian dia tersenyum, semakin lama semakin lebar dan kemudian tertawa terbahak-bahak. “Gw memang gila…,” gumamnya kemudian masih menyisakan sebersit senyuman di bibirnya. Reva memang kadang sepertinya sangat tidak sensitive pada perasaan Lila, melakukan sesuatu yang kadang terasa sangat kejam. Tetapi dibalik itu semua, dia sebenarnya sangat perhatian dengan Lila, hanya saja karena orangnya “agak gila” jadinya yaaa… perhatiannya pun diterjemahkan dengan cara yang gila juga.

Pernah suatu kali, Lila desperate abis karena harus ke acara pernikahan mantannya sedangkan dia sedang tak punya pacar. Nampaknya masalah Lila memang selalu berkutat dengan pacar. Sebenarnya bukan karena Lila tidak menarik, tapi lebih kepada mood-nya yang sering kali naik turun. Dia paling sulit mengendalikan emosi saat PMS. Semua story pacarannya berakhir di masa PMS, karena Lila sering kali “meledak” tanpa alasan yang jelas, dengan masa inkubasi pacaran tak pernah lebih dari 3 bulan! Entah mengapa dengan Reva, dia bisa bersahabat sebegitu lama. Mungkin karena mereka sudah dekat semenjak mereka bayi, makanya Reva bisa mengerti apa yang musti dilakukan bila saatnya tiba. Kabur! Never be in touch with Lila during her period hihihihiiii… Oh ya, back to the topic. So, waktu itu Lila merengek-rengek di kamar Reva, memohon petunjuk bagaimana caranya dia dapet cowok untuk partner ke undangan. Dia ga pengen keliatan kalah dari mantan pacarnya. Reva waktu itu cuman cengengesan dan habis mengata-ngatai Lila karena berpikiran secupet itu. Tapi Lila ga perduli, baginya itu adalah pertarungan atas harga dirinya. Hingga detik-detik terakhir, Lila tak juga mendapatkan “cowok yang pantas” sebagai teman ke undangan mantannya dan memutuskan untuk tidak datang saja. Ternyata tanpa sepengetahuan Lila, Reva membawa seorang cowok ke rumahnya dengan dandanan siap perang di hari H. “Negh, gw bawain pangeran, sekarang loe bisa pergi ke kondangan tanpa ngerasa kalah,” katanya dengan ekspresi muka yang sulit digambarkan. Tapi yang pasti, raut mukanya kelihatan puas ketika melihat senyuman di bibir Lila dan sebuah pelukan berhambur ke arahnya. Maka pergilah Lila ke pesta itu dengan kepala tegak, namun kebahagiaan ternyata tak berlangsung lama. Lila yang merasa sudah sangat cocok dengan cowok itu yang teramat sangat gentle selama bersama Lila, membuat dia dengan berani memutuskan bahwa inilah lelaki yang dia butuhkan sebagai seorang pacar. Namun Reva dengan tanpa tedeng aling-aling menghancurkan semuanya dengan hanya sebuah kalimat. “Panteslah dia pinter ngerebut hati cewek, orang dia gigolo kok,” katanya dengan enteng tanpa beban! Lila lemas mendengarnya, tak tahu harus berkata apa. Cuma bisa berteriak histeris, “LOE BENER-BENER GILAAAAAAAAAAAA….!!!!!” Tapi seperti biasa, Lila ga akan pernah bisa marah pada Reva, karena itu sama dengan buang-buang energi. Reva itu terkena penyakit cuek yang akut, dia tidak akan pernah memperhatikan apakah Lila marah atau tidak padanya. Dia akan memperlakukan Lila sama seperti hari-hari sebelumnya seperti tak pernah terjadi apa-apa. Teringat hal itu, Lila langsung meraih HP-nya dan men-dial nomor Reva. Ketika terdengar suara Reva, dia langsung teriak sekuatnya. “JANGAN BERANI-BERANI LOE KIRIMIN GW GIGOLO LAGI!!!” and klik, mengakhiri percakapan dengan senyum puas. Dua sahabat yang sama-sama gila…

Alowww…

Thursday, March 13th, 2008

Friends, untuk menyalurkan hasrat narsis dan exhibisionist, serta sarana pelampiasan depresi penyakit gila tingkat tinggi (heheheee hiperbola dech…), mohon diizinkan mulai minggu ini untuk melaunching tulisan berupa serial fiksi amatir hasil tulisankoe..

Judulnya SERIAL LILA. Serial ini terdiri dari episode2 dengan judul berbeda yang akan disubmit tiap hari Jum’at setiap minggunya (klo ga males and kehabisan ide hehehhee…)

Bila ada yang ga berkenan atau merasa terganggu, boleh diskip ajah yach Wink

Yang mo komen and ngasih masukan2 dipersil dengan senang hati dan tangan terbuka…