Beberapa hari terakhir ini gw benar2 “terjerembab” mendapati kasus2 kemanusiaan bertubi diberitakan gencar di dunia maya. Mulai dari gadis kecil umur dua tahun yang tertabrak kemudian dengan sengaja dilindas oleh penabraknya, diabaikan oleh orang yang berlalu-lalang di dekatnya seakan gadis kecil itu hanya bangkai seekor binatang, bahkan dilindas kedua kalinya oleh sebuah mobil yg melintas kemudian, pedih rasanya hati ini…
It’s a human body for God sake! A baby! I can’t really catch what’s in their mind while they all do that! Apa mereka ga berpikir, bagaimana bila hal itu terjadi pada anaknya sendiri?! Gw shocked… Hati gw merintih… Ada apa dengan hati nurani manusia…? Mengapa bisa mereka begitu kebas…?
Gw semakin meradang ketika membaca kelanjutan ceritanya, Si Penabrak pertama bahkan berani menelpon orang tua si kecil dan menyatakan tidak akan menyerahkan diri karena takut sanksi denda yang tidak mungkin bisa dia pikul… Miris… Sebegitu mudahkah hati nurani dibantai hanya karena materi…? Begitu sangat besarkah arti materi dibanding hati nurani…? Gw memang ga berhak menghakimi karena gw ga berada di posisi mereka… Tapi tak pelak, hati gw meratap langit, pertanyaan gw tetap sama. Ada apa dengan hati nurani manusia???
Belum lama si kecil akhirnya meninggal setelah koma dan tidak sempat siuman saking parahnya luka yang dia derita, sebuah berita keji kembali menohok. Seorang pengendara truk yang awalnya tidak sengaja menabrak seorang anak kecil berumur lima tahun, dengan sengaja melindasnya dua kali hingga anak kecil itu dipastikan tewas! Bahkan bernegosiasi alot dengan keluarga korban untuk “mengganti” nyawa si kecil! Hati gw menggelepar mendekati sekarat… Tercabik bagai diiris silet sedikit demi sedikit… Begitu murahkah nyawa manusia…?
Belum kering luka di hati gw, baru saja gw membaca lagi berita, seorang pemuda yang merantau jauh ke negeri orang demi sebuah pendidikan berbekal beasiswa, di rampas sepedanya dan dipukuli hingga rahangnya butuh di operasi ketika melintas di areal kerusuhan. Belum cukup perlakuan itu, ketika teronggok tak berdaya di pinggir selasar dengan darah mengucur deras dari rahangnya, segerombol pemuda lokal menghampiri seakan hendak menolong, namun ternyata malah menggeledah backpacknya dan mengambil isinya. Meninggalkan si pemuda kebingungan di pinggir jalan…
Satu hal yang semakin membuat kening gw berkerut, ternyata tersangka pelakunya adalah manusia2 terpelajar! Ada yang berprofesi sebagai guru, tentara, pelajar, desainer grafis dll.
Sudah terlalu banyak rakyat yang ditelantarkan pemimpinnya demi seonggok perut2 buncit mereka yang semakin hari semakin buncit berisi kucuran keringat dan darah rakyatnya… Membuat muak… Apalagi dengan kata2 arogan yang seringkali meluncur tanpa tedeng aling2…
Sudah terlalu banyak mayat tak berdosa bergelimpangan dengan harga murah atas nama perang. Bayi2 terputus kakinya, terburai ususnya, terpecah kepalanya, tercecer otaknya bahkan masing2 anggota tubuhnya tercerai berai entah berada di mana… Yang gw yakin mereka belum tahu apa itu perang, mengapa mereka harus terjebak ditengah desingan amunisi… Yang lagi2 gw yakin, apapun alasan perang selalu bermuara pada perebutan kekuasaan dan lagi-lagi materi…
Kadang gw berpikir… Begitu pentingkah memiliki kekuasaan? Begitu pentingkah berlimpahan materi? Sedangkan makanan yang bisa masuk ke perut kita pun terbatas. Banyak-banyak mengumpulkan materi pun tak akan di bawa mati.
Kadang gw benci materi, karena materi membuat manusia semakin hari semakin haus, seperti candu yang membelit dan mengungkung…
Tapi gw hidup di lingkungan materialistis, yang segalanya di ukur dengan uang dan penampilan fisik… Haruskah gw kembali ke hutan? Atau menjadi munafik? Membenci materi namun sekaligus mendewakannya… Ahh… Kepala gw berat…



























